Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Produk Aksitektur Daerah Istimewa Yogyakarta Yogyakarta
Masjid Soko Tunggal

MASJID SOKO TUNGGAL

 

Masjid Soko Tunggal merupakan salah satu tempat ibadah umat Muslim yang memiliki keunikan tersendiri.

Nama Soko tunggal berasal dari bahasa Jawa. Soko yang berarti penyangga dan Tunggal yang berarti satu. Jadi Masjid Soko Tunggal adalah masjid yang memiliki satu tiang penyokong di dalamnya.

Masjid Soko Tunggal sendiri  terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta, lebih tepatnya terletak di dalam kawasan kesultanan Yogyakarta.

Masjid Soko Tunggal ini berada satu kompleks dengan objek wisata TamanSari. Jadi Anda bisa ke masjid ini sekaligus juga menikmati keindahan bangunan dari  kompleks wisata Tamansari

Masjid Soko Tunggal pertama kali dibangun pada tahun 1967. Dan pembangunan masjid berakhir pada 1972. Bangunan ini diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Masjid ini dirancang oleh  R.Ngabehi Mintobudoyo. Bangunan Masjid Soko Tunggal mengambil gaya arsitektur yang bernama tajug.

Tajug sendiri yaitu bangunan dengan dasar segi empat dan memiliki satu puncak di bagian atap. Bangunan tajuk pada umumnya memiliki 4 tiang sebagai penyangga bangunan.

Namun pada masjid ini hanya terdapat 1 tiang sebagai penopang dari keseluruhan bangunan masjid ini, hal inilah yang menjadi salah satu daya pikat wisatawan untuk berkunjung ke masjid ini.

Jadi berlibur di Yogyakarta tidak hanya menikmati indahnya pantai ataupun mengagumi budayanya saja, tetapi anda juga bisa berwisata religi sambil menikmati indahnya arsitektur dari masjid Soko Tunggal ini. Mengunjungi masjid Soko Tunggal dengan keunikannya wajib anda masukkan ke dalam agenda liburan anda saat berada di Yogyakarta.

#OSKMITB2018

 

Referensi : Gambar : https://www.google.co.id/search?q=masjid+cokro+tunggal+jogja&safe=strict&client=ms-android-samsung&prmd=imnv&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwi4vZyp9-TcAhXFZCsKHZduCIcQAUIESgB&biw=360&bih=560#imgdii=tv7eWJHwhns2M:&imgrc=K0l6GduYwXxKtM:

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker