Salah satu bangunan terkenal sekaligus sarat akan unsur agama dan budaya di Kota Malang adalah Masjid Agung Jami’ Malang. Masjid Agung Jami’ ini terletak di jalan merdeka No. 3 Malang, bersebrangan dengan alun-alun dan bersebelahan dengan Gereja Protestan Indonesia Barat Immanuel. Masjid Agung Jami’ Malang dibangun pada tahun 1875 oleh Raden Ario Adipati Notodiningrat II yang saat itu menjabat Sebagai Bupati Malang.Masjid jami mempunyai lahan seluas 3.000 m2 dan termasuk masjid tua di Kota Malang.
Bentuk Masjid Jami’ adalah perpaduan antara arsitektur jawa dan asritektur arab. Arsitektur jawa terlihat dari dari ruang yang terbuat dari kayu dan mempunyai atap berbentuk tajug. Masjid Jami’ ini mempunyai empat pilar besar didalamnya yang mewakili empat sifat nabi yaitu siddiq, amanah, fathonah, dan tabligh. Dinding dinding Masjid Jami dikelilingi oleh kaligrafi yang menyebutkan para sahabat nabi dan khalifahnya serta asmaul husna. Arsitektur arab Masjid Jami’ ini terlihat dari bentuk kubah masjid jami yang berkontruksi lengkung. Suasana di Masjid Jami berwarna Hijau dan putih dengan perpaduan ornamen kayu. Memasuki Masjid Jami’ kita disambut oleh halaman yang cukup luas yang dilapisi oleh lantai, kemudian tangga untuk ke halaman atas kemudian ruang sholat masjid itu sendiri.
Masjid Jami’ menurut saya nyaman sekali untuk beribadah, ada lahan parkir didekatnya, tempat wudhu juga memiliki daya tampung besar sehingga tidak perlu antri saat berwudhu, dan mempunyai alat salatt yang bersih. Pada bulan Ramadhan Masjid Jami’ selalu terlihat ramai, banyak yang beri’tikaf di masjid tersebut. Pada saat berbuka ramai oleh pembagian takjil maupun santapan berat. Salah satu keunikan Masjid Jami Malang juga adanya toleransi yang tinggi dengan gereja disebelahnya. Tidak pernah terdengar isu perselisihan paham antara kedaunya.Kedua belah pihak toleransi dengan contoh saat Idul Fitri jatuh pada hari minggu, gereja menyesuaikan jadwal misanya, bahakan salat idul fitri dilaksanakan sampai ke halaman depan gereja karena banyaknya jamah yang ikut salat idul fitri di Masjid Jami’. Sungguh indah budaya dan toleransi di Kota Malang.
#OSKM2018
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...