Ritual
Ritual
Pesta Adat Sulawesi Selatan Suku Bugis
Mappadendang (Pesta Panen Adat Bugis)
- 20 Mei 2018

Acara Mappadendang (Pesta Panen Adat Bugis) Sulawesi-Selatan. Mappadendang atau yang lebih dikenal dengan sebutan pesta tani pada suku bugis merupakan suatu pesta syukur atas keberhasilannya dalam menanam padi kepada yang maha kuasa. Mappadendang sendiri merupakan suatu pesta yang diadaakan dalam rangka besar-besaran. Yakni acara penumbukan gabah pada lesung dengan tongkat besar sebagai penumbuknya.Acara mapadendang sendiri juga memiliki nilai magis yang lain. Disebut juga sebagai pensucian gabah yang dalam artian masih terikat dengan batangnya dan terhubung dengan tanah menjadi ase (beras) yang nantinya akan menyatu dengan manusianya. Olehnya perlu dilakukan pensucian agar lebih berberkah.

Acara semacam ini tidak hanya sekedar menumbuk saja. Alur ceritanya bahwa para ibu-ibu rumah tangga dekat rumah akan diundang lalu mulai menumbuk. Dengan nada dan tempo yang teratur, ibu-ibu tersebut pun kadang menyanyikan beberapa lagu yang masih terkait dengan apa yang mereka kerjakan. Sedangkan anak-anak mereka bermain disamping atau pun dibawah rumah.

Acara adat ini dulu umumnya dilakukan oleh masyarakat-masyarakat di berbagai daerah, begitu selesai mereka lalu menjemur dibawah terik matahari . kegiatan ini merupakan hal yang sangat sering dilakukan oleh para petani orang bugis. Dikenal juga Manre ase baru yang meupakan lanjutan setelah mappadendang.

Mappadendang merupakan upacara syukuran panen padi dan merupakan adat masyarakat bugis sejak dahulu kala.Biasanya dilaksanakan setelah panen raya biasanya memasuki musim kemarau pada malam hari saat bulan purnama. Pesta adat itu diselenggarakan dalam kaitan panen raya atau memasuki musim kemarau. Pada dasarnya mappadendang berupa bunyi tumbukan alu ke lesung yang silih berganti sewaktu menumbuk padiKomponen utama dalam acara ini yaitu 6 perempuan, 3 pria, bilik Baruga, lesung, alu, dan pakaian tradisional yaitu baju Bodo.

Pesta ini merupakan bentuk pagelaran seni tradisional bugis makassar karena merupakan sebuah pertunjukan unik yang menghasilkan bunyian irama teratur atau nada dari kelihaian pemain, Para perempuan yang beraksi dalam bilik baruga disebut Pakkindona, sedang pria yang menari dan menabur bagian ujung lesung disebut Pakkambona. Bilik baruga terbuat dari bambu, serta memiliki pagar yang terbuat dari anyaman bambu yang disebut Walasoji.

Pakaian yang dikenakan pada saat Mappadendang, Pada saat acara Mappadendang dimulai penari dan pemain yang akan tampil biasanya mengenakan pakaian adat yang telah ditentukan : 1. Bagi wanita diwajibkan untuk memakai baju bodoh. 2. Laki-laki memakai lilit kepala serta berbaju hitam , seluar lutut kemudian melilitkan kain sarung hitam bercorak

Alat yang digunakan dalam Mappadendang seperti : 1. Lesung panjangnya berukuran kurang lebih 1,5 meter dan maksimal 3 meter. Lebarnya 50 cm Bentuk 2. lesungnya mirip perahu kecil (jolloro; Makassar) namun berbentuk persegi panjang. 3. Enam batang alat penumbuk yang biasanya terbuat dari kayu yang keras atau pun bambu berukuran setinggi orang dan ada dua jenis alat penumbuk yang berukuran pendek, kira-kira panjangnya setengah meter.

Tata Cara Mappadendang, Biasanya Komponen utama dalam MAPPADENDANG terdiri atas enam perempuan, 4 pria, bilik baruga, lesung, alu, dan pakaian tradisional, baju bodo. Mappadendang mulanya gadis dan pemuda masyarakat biasa. Para perempuan yang beraksi dalam bilik baruga disebut pakkindona. Kemudian pria yang menari dan menabur bagian ujung lesung disebut pakkambona. Bilik baruga terbuat dari bambu, serta memiliki pagar dari anyaman bambu yang disebut walasoji.

Personil yang bertugas dalam memainkan seni menumbuk lensung ini atau mappadendang dipimpin oleh dua orang, masing-masing berada di ulu atau kepala lesung guna mengatur ritme dan tempo irama dengan menggunakan alat penumbuk yang berukuran pendek tersebut di atas, biasanya yang menjadi pengatur ritme adalah mereka yang berpengalaman. Sedangkan menumbuk di badan lesung adalah mereka perempuan atau laki-laki yang sudah mahir dengan menggunakan bambu atau kayu yang berukuran setinggi badan orang atau penumbuknya.

Seiring dengan nada yang lahir dari kepiawaian para penumbuk, biasanya dua orang laki-laki melakukan tari pakarena. Isi lesung yang ditumbuk berisi dengan gabah atau padi ketan putih/hitam (ase punu bahasa bugis) yang masih muda dan biasanya kalau musim panen tidak dijumpai lagi padi muda, maka biasanya padi tua yang diambil sebagai pengganti, akan tetapi sebelum ditumbuk padi itu terlebidahulu direbus selama 5 sampai 10 menit atau direndam air mendidih selama 30 menit kemudian disangrai dengan menggunakan wajan yang terbuat dari tanah liat tanpa menggunakan minyak dengan memakai api dari hasil pembakaran kayu.

Setelah ditumbuk sampai terpisah dengan kulitnya (dipeso bahasa makassar) barulah perempuan menampanya (ditapi bahasa makassar) memakai alat pattapi yang terbuat dari anyaman bambu dan rotan yang berdiameter seperti tudung saji di bawah sinar rembulan dan cahaya dari sulo atau lampu penerangan orang makassar yang terbuat dari bambu/obor minyak tanah.

Kalau hasil tumbukan dari prosesi mappadendang benar-benar dianggap bersih karena sudah dipisahkan antara padi dan kulitnya, maka perempuan lainnya menyiapkan kelapa habis diparut dan gula merah yang sudah diperhalus kemudian dicampur menjadi satu bersama dengan padi yang telah ditumbuk. maka terbuatlah satu penganan atau racikan kue tradisional yang dikenal dengan nama laulung.

Tujuan Mappadendang

1. Menyatakan rasa syukur kepada Allah
2. Menjalin silaturahmi
3. Hiburan
4. Biasanya di jadikan ajang oleh muda mudi untuk mencari pasangan
5. Memupuk rasa kebersamaan

Referensi: http://bululowa.blogspot.co.id/2015/09/budaya-suku-bugis-mappadendang-pesta.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Keris: Lebih dari Senjata, Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Aceh

Keris: Lebih dari Senjata, Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Identitas dan Asal-Usul Keris Jawa merupakan senjata tikam tradisional yang secara fisik dikenali dari bilah asimetris dengan pola berkelok-kelok atau lurus, serta terbagi menjadi tiga komponen utama yaitu bilah, gagang, dan sarung [S1]. Struktur ini menjadi penanda identitas visual yang membedakannya dari belati atau pisau tikam lainnya di Nusantara [S5]. Material pembuatannya bervariasi, mulai dari logam besi dan baja untuk bilah, hingga kayu, gading, atau logam mulia seperti emas dan perak yang digunakan pada hulu dan warangka [S2]. Pengakuan UNESCO sebagai Karya Agung Warisan Budaya Kemanusiaan Lisan dan Nonbendawi menegaskan posisi keris sebagai warisan budaya yang dilindungi secara internasional [S1]. Secara geografis, keris berakar kuat di Pulau Jawa, dengan sentra produksi dan pengembangan budaya yang terpusat di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur [S5]. Beberapa referensi menekankan bahwa keris merupakan ciri...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Yupa: Jejak Martapura, Pilar Peradaban Purba Kalimantan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Kalimantan Timur

Yupa: Jejak Martapura, Pilar Peradaban Purba Kalimantan? Identitas dan Asal-Usul Kalimantan Timur merupakan provinsi di Indonesia yang memiliki jejak peradaban kuno tercatat sejak masa prasejarah hingga pengaruh kerajaan lokal dan luar [S1]. Secara administratif, wilayah ini mencakup kawasan pesisir timur Kalimantan yang berbatasan dengan Sabah (Malaysia) dan Laut Sulawesi, dengan pusat sejarah utama terletak di kawasan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara [S1]. Peradaban awal di wilayah ini ditandai oleh keberadaan prasasti Yupa, yang menjadi bukti tertulis tertua di Nusantara dan mengungkap keberadaan Kerajaan Martapura (atau Kutai Martapura) pada abad ke-5 Masehi [S1][S2]. Keunikan Kalimantan Timur terletak pada temuan tujuh prasasti Yupa di Muara Kaman, yang ditulis dalam aksara Pallawa berbahasa Sanskerta [C2]. Prasasti ini mencatat silsilah Raja Mulawarman, cucu Kundungga, serta sumbangan emasnya kepada kaum brahmana, yang menjadi bukti awal pengaruh Hindu-Buddha di wi...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Setiap motif yang digunakan dalam ornamen atau peralatan ritual memiliki makna yang berbeda-beda
Ornamen Ornamen
Kalimantan Barat

Setiap motif yang digunakan dalam ornamen atau peralatan ritual memiliki makna yang berbeda-beda Identitas dan Asal-Usul Ragam hias Dayak Kanayatn merupakan identitas visual yang melekat pada masyarakat suku Dayak di Kalimantan Barat, khususnya di Kabupaten Landak [S2]. Penelitian menunjukkan bahwa pusat pengembangan motif ini terdapat di Desa Garu, Kecamatan Mempawah Hulu [S2]. Objek budaya ini berfungsi sebagai simbol yang merepresentasikan kehidupan sosial dan kepercayaan masyarakat setempat [S5]. Keberadaan motif ini tidak terlepas dari konteks kerajinan tangan dan alat ritual yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari [S1]. Terdapat variasi bentuk motif yang memiliki makna simbolik berbeda-beda, seperti oncok rabukng yang melambangkan generasi penerus budaya [S2]. Motif lain seperti mata pune merepresentasikan proses pengambilan keputusan melalui mufakat dalam perundingan [S2]. Selain itu, stilasi burung enggang pada pakaian adat juga menjadi elemen penting yang mengandung...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Jamu Jawa: Warisan Mataram, Ikon Mbok Jamu, dan Pengakuan UNESCO
Makanan Minuman Makanan Minuman
Aceh

Jamu Jawa: Warisan Mataram, Ikon Mbok Jamu, dan Pengakuan UNESCO Identitas dan Asal-Usul Jamu tradisional Jawa merupakan warisan budaya Indonesia yang kaya akan nilai kesehatan dan filosofi kehidupan, dipraktikkan secara turun-temurun sejak era Kerajaan Mataram [S1, S3, S4, S5]. Pengobatan alami ini telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa selama berabad-abad [C2]. Pengakuan UNESCO terhadap budaya kesehatan jamu sebagai "Warisan Budaya Takbenda" pada Desember 2023 menegaskan pentingnya kearifan lokal ini [C3]. Jamu tidak hanya sekadar minuman herbal, melainkan simbol kebijaksanaan lokal yang mengutamakan alam sebagai sumber penyembuhan [C12]. Tradisi herbal ini masih bertahan di pedesaan, di mana masyarakatnya terus menjaga kesehatan melalui obat herbal alami warisan leluhur [S2, C6]. Ramuan yang dikenal sejak zaman nenek moyang ini terbukti memberikan manfaat kesehatan yang diakui ilmu pengetahuan, bukan hanya menyembuhkan gejala tetapi juga memperbaiki fun...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Gamelan: Lebih Tua dari Hindu-Buddha?
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Jawa Tengah

Gamelan: Lebih Tua dari Hindu-Buddha? Identitas dan Asal-Usul Gamelan adalah ansambel musik tradisional yang menjadi ciri khas Indonesia, khususnya Pulau Jawa [S1]. Ansambel ini umumnya menampilkan instrumen metalofon, gendang, dan gong [S3]. Gamelan bukan sekadar kumpulan bunyi, melainkan warisan budaya Nusantara yang kaya, kompleks, dan berpengaruh, serta menjadi simbol kebudayaan yang sarat makna dan nilai spiritual [S5, S4]. Alat musik ini telah menjadi identitas bangsa Indonesia dan dikenal luas di seluruh dunia, bahkan telah dipentaskan secara internasional oleh generasi muda [C10, C7, C9]. Sejarah gamelan di Jawa diperkirakan telah ada jauh sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha [C4]. Beberapa pakar sejarah menduga bahwa gamelan berasal dari kebudayaan asli masyarakat Jawa yang berkembang pada masa prasejarah, sekitar 4000 tahun lalu [C5]. Namun, sumber lain mengaitkan sejarah gamelan di Jawa dengan dominasi budaya Hindu-Buddha di tanah Jawa pada masa lampau [S2, C8]. Ter...

avatar
Kianasarayu