Tradisi Tabuik di Pariaman tidak dapat dilepaskan dari peristiwa memilukan yang terjadi terhadap cucu nabi Muhammad SAW, yaitu Hussein RA. Putra dari khalifah Ali bin Abi Thalib itu wafat dalam pembantaian di padang Karbala oleh pasukan Yazid bin Mu'awiyah pada tahun 61 H (680 M). Peristiwa tersebut merupakan bagian dari perang saudara yang terjadi di kalangan umat Islam saat itu.
Rangkaian prosesi dalam tradisi Tabuik merupakan wujud ungkapan kesedihan warga Pariaman atas tragedi yang menimpa sayyidina Hussein RA. Sejak prosesi mengambil tanah yang berlangsung pada tanggal 1 Muharram hingga puncaknya saat Tabuik dilarung ke laut, setiap tahapan membawa pesan filosofis yang berkaitan dengan tragedi tersebut.
Salah satu bagian dari prosesi dalam tradisi Tabuik adalah ritual mangarak jari-jari. Ritual ini adalah prosesi simbolis saat masyarakat di Pasa dan Subarang beramai-ramai mengarak sebentuk keranjang atau wadah yang disebut panja. Di dalam panja ini terdapat potongan kertas yang melambangkan potongan jari-jari Hussein yang tercecer di Padang Karbala.
Panja akan diarak keliling kampung-kampung bersama miniatur tabuik disertai iringan tabuhan gandang tasa yang bertalu-talu. Prosesi ini biasanya berlangsung pada malam kedelapan, yaitu setelah prosesi Mata'am dilangsungkan pada siang harinya.
Ada fenomena yang menarik jika kita membandingkan antara mata'am dan mangarak jari-jari. Jika mata'am didominasi oleh kaum ibu dan anak-anak, maka iring-iringan mangarak jari-jari lebih didominasi oleh kaum lelaki dari berbagai lapisan usia. Hal ini berkembang tak lepas dari adanya kebiasaan adu fisik antar rombongan yang mengiringi ritual ini dari tahun ke tahun.
Tahapan Ritual Tabuik masih sama seperti pada masa lalu walaupun terjadi banyak perkembangan dan pergeseran dalam pelaksanaannya seiring perubahan zaman. Hal ini pun terjadi dalam prosesi mangarak jari-jari.
Di masa lalu, arak-arakan berlangsung dengan ekspresi duka cita menyelimuti seluruh anggota rombongan. Kini, meski makna filosofisnya tetap berusaha dipertahankan, arak-arakan ini lebih banyak diwarnai nuansa keceriaan dan suka cita sebagai sebuah momentum tahunan yang semarak.
Sumber: http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/sebuah-pesan-filosofis-dari-mangarak-jari-jari
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara