Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Timur Jawa Timur Jawa Timur
MINAKJINGGO DAN DAMARWULAN
- 3 Mei 2018

Ratu Ayu Kencana Wungu adalah Raja kerajaan Majapahit. Suatu hari Minakjinggo berencana untuk memberontak pada Kerajaan Majapahit dan pemuda bernama Damarwulan yang akan membantu Ratu kencana wungu. Berhasilkah Damarwulan mengalahkan Minakjinggo? Simak kisahnya dibawah ini dalam cerita rakyat Nusantara dari Jawa Timur 

 

MINAKJINGGO DAN DAMARWULAN

Pada saat itu ada sebuah kerajaan bernama Majapahit yang di pimpin seorang ratu bernama Dewi Suhita yang bergelar Ratu Ayu Kencana Wungu. Ketika itu kerajaan Majapahit berhasil menaklukkan banyak daerah, dan menempatkan wilayah kekuasaan kerajaan di Trowulan, Jawa Timur. 

Salah satu kerajaan kecil yang menjadi taklukan Majapahit adalah Kerajaan Blambangan yang terletak di Banyuwangi. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang bangsawan dari Klungkung, Bali, bernama Adipati Kebo Marcuet. Adipati ini terkenal sakti dan memiliki sepasang tanduk di kepalanya seperti kerbau. Adipati Kebo Marcuet memberontak kepada kerajaan majapahit. Meskipun ia adalah kerajaan kecil, tetapi karena kesaktian Adipati Kebo Marcuet maka hal tersebut memberikan ancaman terhadap kerajaan Majapahit. Ratu Majapahit itu pun berupaya menghentikan ulah Adipati Kebo Marcuet dengan mengadakan sebuah sayembara. Jika ada orang yang dapat mengalahkan Adipati Kebo Marcuet, Ratu akan mengangkat dia menjadi Adipati Blambangan dan menjadikannya sebagai suami. Banyak sekali orang yang mengikuti sayembara tersebut, tetapi tidak satupun yang berhasil mengalahkan Sang Adipati. Hingga datanglah seorang pemuda tampan dan gagah bernama Jaka Umbaran yang berasal dari Pasuruan. Ia adalah cucu Ki Ajah Pamengger yang merupakan guru sekaligus ayah angkat Adipati Kebo Marcuet. Rupanya, Jaka Umbaran mengetahui kelemahan Adipati Kebo Marcuet. Maka, dengan senjata pusakanya gada wesi kuning (gada yang terbuat dari kuningan), dan dibantu oleh seorang pemanjat kelapa yang sakti bernama Dayun, Jaka Umbaran berhasil mengalahkan Adipati Kebo Marcuet. Ratu Ayu Kencana Wungu sangat gembira Jaka Umbaran dapat mengalahkan Adipati Kebo Marcuet. Sesuai dengan janji Sang Putri Jaka Umbaran dinobatkan menjadi Adipati Blambangan dengan gelar Minakjinggo. Tetapi, Ratu Ayu Kencana Ungu tidak dapat menepati janjinya yang kedua dengan menikahi Jaka Umbaran. Karena Akibat pertarungannya dengan Adipati Kebo Marcuet, wajah Jaka Umbaran menjadi rusak, badannya menjadi bongkok, dan kakinya pincang. Akibat dari Sang Putri mengingkari janji tersebut. Membuat Minakjinggo murka dan pemberontakan terjadi lagi di Kerajaan Blambangan Banyuwangi.

Minakjinggo juga berencana menyerang pusat kerajaan Majapahit. Ratu Ayu Kencana Wungu sangat khawatir ketika mendengar bahwa Minakjinggo ingin menyerang kerajaannya. Maka, ia pun kembali menggelar sayembara. Sayembarapun di gelar, dan hadiah yang di berikan juga sama. ” Jadi siapa saja yang dapat mengalahkan Minakjinggo, Putri akan bersedia menikah dengan dia.” Pasukan kerajaan membacakan Titah kerajaan. Ketika sayembara digelar tiba – tiba datanglah seorang pemuda tampan bernama Damarwulan. Damarwulan meminta ijin kepada Sang Putri untuk mengikuti sayembara itu dan mencoba untuk mengalahkan Minakjinggo. Maka pergilah Damarwulan ke Blambangan untuk menantang Minakjinggo. “Ketahuilah, hai pemberontak! Aku Damarwulan orang yang diutus oleh Ratu Ayu Kencana Wungu untuk membinasakanmu,” Kata Damarwulan ketika bertemu minakjinggo. “Ha… Ha… Ha…!” Minakjinggo tertawa, “Majulah ke sini dan hajar aku juga engkau bisa! ” Tantang minakjinggo. Pertarungan sengit antara dua pendekar sakti itu pun terjadi. Keduanya silih-berganti menyerang. Namun, Minakjinggo dengan pusaka gada wesi kuning miliknya dapat mengalahkan Dawarwulan dan dia dimasukkan ke dalam penjara. Di dalam istana, Minakjinggo mempunyai 2 orang selir, mereka bernama Dewi Wahita dan Dewi Puyengan. Ketika Dewi Wahita dan Dewi Puyengan melihat Damarwulan, maka terpikatlah mereka. Karena Damarwulan tahu bahwa selir Miankjinggo suka dengannya, maka dia memanfaatkan keadaan tersebut. Damarwulan merayu mereka untuk membantunya mencuri pusaka wesi kuning. Hingga suatu malam ketika Minakjinggo terlelap dalam tidur di curinya pusaka itu dan diberikan kepada Damarwulan. Si Cerdik Aminah – Cerita Rakyat Lampung Setelah memiliki senjata itu, Damarwulan berusaha keluar dari penjara dengan bantuan selir kerajaan tersebut. Dan kembali menantang Minakjinggo untuk bertarung. Ketika itu, Minakjinggo sangat terkejut saat melihat sejata pusakanya ada di tangan Damarwulan. Damarwulan segera menyerang Minakjinggo dengan senjata gada wesi kuning yang ada di tangannya. Minakjinggo pun tidak bisa melakukan perlawanan sehingga dapat dengan mudah dikalahkan. Akhirnya, Adipati Blambangan itu tewas oleh senjata pusakanya sendiri. Damarwulan memenggal kepala Minakjinggo untuk dipersembahkan kepada Ratu Ayu Kencana Wungu.

Damarwulan di hadang Layang Seta dan Layang Kumitir   Dalam perjalanan menuju Majapahit, Damarwulan dihadang oleh Layang Seta dan Layang Kumitir. Kedua orang yang bersaudara itu adalah putra Patih Logender. Rupanya, mereka diam-diam mengikuti Damarwulan ke Blambangan. Saat melihat Damarwulan berhasil mengalahkan Minakjinggo, mereka hendak merebut kepala Minakjinggo agar diakui sebagai pemenang sayembara. “Hai, Damarwulan! Serahkan kepala Minakjinggo itu kepada kami!” seru Layang Seta. Damarwulan tentu saja menolak permintaan itu. Pertarungan pun tak terelakkan. Damarwulan yang telah kelelahan akibat pertarungan dengan Minakjinggo, tidak dapat melawan Layang Seta dan Layang Kumitir mengeroyoknya. Mereka berhasil merebut kepala Minakjinggo. Kemudian mereka membawanya kepada sang Ratu di Majapahit. Sesampainya di Majapahit tiba-tiba Damarwulan datang. Damarwulan menceritakan bahwa ia sebenarnya telah berhasil mengalahkan Adipati Blambangan, dan hendak menyerahkan kepada Sang Ratu, tetapi di tengah perjalanan pulang ia di serang oleh Layang Seta dan Layang Kumitir, dan merebut kepala itu. Tentu saja Layang Seta dan Layang Kumitir tidak mengakui perbuatannya. Akibatnya mereka bertengkaran, tidak ada yang mau mengalah di antara keduanya. Ratu Ayu Kencana Wungu pun menjadi bingung. Maka Sang Ratu meminta kedua belah pihak untuk bertarung. Siapa yang menang pastinya memiliki kesaktian yang lebih dan dapat mengalahkan Minakjinggo. Damarwulan yang sudah pernah bertarung dengan mereka, mencoba untuk lebih berhati-hati. Ia harus dapat membuktikan kepada sang Ratu bahwa dirinyalah yang benar. Dengan disaksikan oleh sang Ratu dan seluruh rakyat Majapahit, pertarungan itu pun berlangsung sangat seru. Kedua belah pihak mengeluarkan seluruh kekuatan masing-masing demi memenangkan pertandingan. Damarwulan yang berhasil menemukan kelemahan Layang Seta dan Layang Kumitir berhasil memenangkan Pertarungan. Layang Seta dan Layang Kumitir pun mengakui kesalahan mereka dan dimasukkan ke penjara, sedangkan Damarwulan pun berhak menikah dengan Ratu Ayu Kencana Wungu.

 

Pesan moral Damarwulan dan Minakjinggo :

Jangan suka ingkar janji akan menimbulkan dampak yang buruk, dan jangan sifat jahat, yakni suka merampas hak orang lain, terlihat pada perilaku Layang Seta dan Layang Kumitri.


sumber :

http://cerita-rakyat.com/minakjinggo-dan-damarwulan/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUDON TANO (PERIUK TANAH)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
BENDA MAGIS MASYARAKAT BATAK
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
Cara menghubungi call center ayopinjam
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
DKI Jakarta

Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.

avatar
Pinjamflexi1999