MARSIBAHE Permainan tradisional merupakan permainan yang diperoleh dari pengetahuan yang turun temurun yang bentuk atau wujudnya menyenangkan dan menggembirakan anak karena berfungsi sebagai media permainan. Hampir di setiap daerah memiliki permainan tradisional, akan tetapi permainan itu sebagian besar hampir sama jenisnya hanya menyebutkan namanya saja yang berbeda, misalnya permainan di suku batak toba, bermain galasin disebut bermain margala, engklek disebut marsitekka, engrang disebut marjalengkat dan lain sebagainya. Untuk permainan tradisional batak toba marsibahe bisa dikatakan sedikit berbeda karena kemungkinan tidak ditemukan di daerah lain di nusantara ini.
Permainan marsibahe adalah permainan yang dimainkan dengan cara berpasangan dan bergendongan serta melemparkan benda dari kayu yang harus saling mengenai sampai garis finish. Permainan ini sebaiknya dimainkan diluar ruangan karena membutuhkan tempat yang luas meskipun dapat juga dimainkan di dalam ruangan yang luasnya yang cukup memadai.
Adapun tujuan permainan marsibahe ini adalah :
Permainan ini sebaiknya dimainkan oleh anak usia 5 tahun ke atas karena sebagaimana diungkapkan Sudono A (2000), ciri-ciri anak usia 5-6 tahun : Gerakan lebih tangkas, berjalan dan melangkah lebih tegap Berdiri dengan satu kaki lebih dari 8 detik Dapat mengatur keseimbangan tubuh Bermain dengan kelompok dua sampai lima orang teman Bekerjanya terpacu oleh kompetisi dengan anak lain Dapat mendengarkan intruksi Permainan marsibahe membutuhkan kekuatan otot dan fisik yang baik karena anak yang satu diharapkan dapat menggendong anak yang lain sambil melemparkan umpan (gacok), meskipun demikian untuk anak PAUD yang belum mampu menggendong kegiatan dapat divariasikan dengan saling berpegangan atau berangkulan.
Keunggulan permainan marsibahe antara lain :
Permaina marsibahe dilakukan dengan langkah-langkah berikut :
Sumber : http://www.hobo18.com/2017/03/permainan-tradisional-suku-batak-toba-MARSIBAHE.html?m=1
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara