Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
cerita rakyat Sumatera Utara Asahan
Lubuk Emas, cerita rakyat dari Asahan
- 5 Januari 2019
Sungai Asahan merupakan sungai terbesar di Provinsi Sumatera Utara. Hulu sungai Asahan berada di Danau Toba, mengalir melalui pintu Bendungan Sigura-gura dan berakhir hingga Teluk Nibung di selat Malaka. Panjang sungai Asahan adalah 147 km dengan 6 buah anak sungai utama. Kota-kota yang dilalui oleh sungai Asahan diantaranya Parapat, Porsea, Balige, Kisaran, dan Tanjung Balai. Sungai Asahan sangat terkenal dengan arusnya yang deras berbatu ditambah keasrian hutan di sepanjang sungai sehingga di bidang pariwisata, sungai Asahan digunakan sebagai kegiatan arung jeram.
 
Terdapat sebuah cerita rakyat terkait sungai Asahan yaitu Lubuk Emas. Legenda ini menceritakan kisah cinta Sri Pandan putri kerajaan Teluk Dalam dengan pembantu setia kerajaan yang bernama Hobatan. Sri Pandan akhirnya memilih terjun ke sebuah lubuk sungai Asahan demi mempertahankan cinta pada kekasihnya. Berikut ini kisahnya.
 

Kerajaan Teluk Dalam

Alkisah Raja Simangolong memimpin sebuah kerajaan di daerah Teluk Dalam, Sumatera Utara. Sang raja memiliki seorang anak perempuan berparas cantik jelita bernama Sri Pandan. Disamping cantik jelita, Sri Pandan juga terkenal sangat baik hatinya lagi terampil bekerja. Ia terampil menganyam tikar juga menumbuk padi.
 
Kecantikan Sri Pandan telah dikenal di seantero negeri. Banyak para pemuda berkeinginan meminang Sri Pandan. Namun demikian, Raja Simangolong berharap Sri Pandan kelak menikah dengan pangeran negeri lain agar bisa menjalin hubungan baik dengan negeri tersebut.
 

Pangeran Aceh Melamar Sri Pandan

Kecantikan putri Sri Pandan terdengar hingga di kerajaan Aceh. Pangeran Aceh sangat berkeinginan untuk melamar putri Sri Pandan. Raja Aceh kemudian mengirim utusan ke kerajaan Teluk Dalam untuk memberitahu perihal lamaran Pangeran Aceh terhadap Putri Sri Pandan. Raja Simagolong merasa gembira dengan kedatangan utusan dari kerajaan Aceh. Ia sangat setuju jika putri Sri Pandan menikah dengan Pangeran Aceh. Namun demikian ia tidak serta merta menerima lamaran tersebut. Ia menyerahkan keputusan ini kepada putrinya, Sri Pandan.
 
“Aku akan mengirimkan utusan ke Kerajaan Aceh jika putriku menerima lamaran pangeran Aceh.” kata Raja Simangolong pada utusan Kerajaan Aceh.
 
Setelah utusan Kerajaan Aceh pergi, Raja Simangolong memanggil putrinya. “Putriku, maukah engkau menerima lamaran dari Pangeran Aceh? Ayahanda sangat berharap engkau mau menjadi istri Pangeran Aceh agar hubungan kedua kerajaan bisa terjalin baik.” kata Raja Simagolong kepada Sri Pandan.
 
Sri Pandan hanya terdiam tidak menjawab. Ia menundukkan kepala lalu menangis.
 
“Ada apa anakku? Mengapa engkau menangis?” tanya Raja Simangolong.
 
“Maaf ayah, bukannya hamba tak mau berbakti kepada orang tua, tapi hamba telah lama menjalin kasih dengan pemuda lain. Hamba mencintainya. Sekali lagi maaf ayah.” kata Sri Pandan terbata-bata.
 
“Siapa pemuda yang engkau maksud?” Raja Simangolong mulai gusar.
 
“Hobatan ayah.” jawab Sri Pandan.
 
“Apa? Hobatan pembantu setia kita?” Raja Simangolong tersentak kaget.
 
“Benar, ayahanda.” kata Sri Pandan.
 
Raja Simangolong marah mendapati kenyataan putrinya telah menjalin kasih dengan Hobatan, pembantu kerajaan. “Dengar baik-baik anakku, lupakan Hobatan. Terimalah lamaran Pangeran Aceh. Jika engkau tak mau memutuskan hubunganmu dengan Hobatan, niscaya akan ayah usir Hobatan.” kata Raja Simangolong tegas.
 

Hobatan Menolak Permintaan Sri Pandan

Sri Pandan merasa tidak berdaya mendengar perintah ayahandanya. Ia segera menemui Hobatan mengajaknya untuk pergi bersama meninggalkan istana kerajaan. “Hobatan, demi cinta kita, sebaiknya kita berdua pergi meninggalkan kerajaan ini.” kata Sri Pandan.
 
“Ada apakah gerangan? Mengapa Adinda menginginkan kita pergi meninggalkan istana? Bagaimana dengan kedua orang tua Adinda?” tanya Hobatan.
 
“Kerajaan Aceh mengirimkan utusan untuk melamarku. Ayah berharap Aku menerima pinangan Pangeran Aceh agar terjalin hubungan baik antara kedua negeri. Kita saling mencintai sejak lama jadi sebaiknya kita pergi saja meninggalkan kerajaan Teluk Dalam.” kata Sri Pandan.
 
Di luar dugaan Hobatan justru menolak ajakan Sri Pandan. Hobatan menyarankan agar Sri Pandan menerima lamaran Pangeran Aceh. “Sebaiknya engkau menerima lamaran Pangeran Aceh. Hal itu lebih baik bagi dirimu juga bagi kerajaan Teluk Dalam. Engkau akan menjadi seorang permasuri.” kata Hobatan.
 
Sri Pandan sangat kecewa dengan jawaban Hobatan, laki-laki yang ia cintai. “Baiklah Hobatan, jika begitu keinginanmu. Aku akan terjun ke lubuk daripada harus menjadi istri laki-laki yang tak aku cintai. Aku akan setia dengan cintaku padamu! Aku akan menunggumu di lubuk!” ujar Sri Pandan seraya bergegas pergi.
 
“Adinda tunggu? Jangan berbuat gegabah Adinda!” teriak Hobatan panik. Namun Sri Pandan tidak memperdulikan Hobatan. “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku memang sangat mencintainya. Tapi siapalah diriku yang hanya seorang pembantu di kerajaan. Sebaiknya aku beritahu raja walaupun pasti akan menerima hukuman berat.” Hobatan merasa gelisah.
 

Sri Pandan Melompat Ke Dalam Lubuk

Sri Pandan kemudian berlari memasuki kamarnya untuk berkemas-kemas. Dibawanya beberapa lembar pakaian juga seluruh perhiasan emas miliknya. Ia kemudian pergi meninggalkan istana kerajaan menuju lubuk sungai Asahan. Sesampainya di lubuk sungai Asahan, Sri Pandan melemparkan seluruh barang bawaannya ke dalam lubuk yang dalam. Pakaian berikut seluruh perhiasan emasnya ia lemparkan seraya berkata “Tak akan ada lagi wanita cantik di negeri ini.” Sri Pandan kemudian melompat ke dalam lubuk sungai Asahan. Ia membawa serta cintanya pada Hobatan ke dalam lubuk.
 

Raja Simangolong Menyesali Perbuatannya

Tidak lama kemudian, di istana kerajaan timbul kegemparan. Sang Raja dan Permaisuri tidak menemukan Sri Pandan, putri mereka. Raja Simangolong lantas memanggil Hobatan untuk mencari tahu.
 
“Istriku, dimanakah Sri Pandan? Kenapa sedari tadi tidak terlihat?” tanya Raja Simangolong pada istrinya.
 
“Entahlah dimana Sri Pandan berada. Di kamarnya pun tidak ada. Cepatlah suruh prajurit untuk mencarinya. Aku khawatir terjadi hal-hal buruk terhadapnya.” kata permaisuri.
 
“Mungkin ada hubungannya dengan masalah lamaran pangeran Aceh dan Hobatan. Pengawal! Panggilkan Hobatan kemari!” kata raja.
 
Hobatan pun menghadap Raja Simangolong dengan perasaan sangat takut.
 
“Hai Hobatan! Engkau adalah pembantu setia di kerajaan ini. Jangan berani Engkau mengkhianati kami.” teriak raja.
 
“Ampun Yang Mulia. Hamba tidak akan berani mengkhianati kerajaan ini.” jawab Hobatan.
 
“Dimana Sri Pandan sekarang Hobatan? Jawab jujur! Aku sudah mengetahui hubunganmu dengan putriku.” kata raja.
 
“Ampun Yang Mulia. Hamba dan putri Sri Pandan memang saling mencintai. Ia mengajak hamba untuk pergi dari kerajaan ini. Tetapi hamba menolak Yang Mulia. Hamba memintanya agar menerima saja lamaran dari Pangeran Aceh. Tapi ia menolaknnya dan mengancam akan melompat ke lubuk sungai Asahan.” kata Hobatan.
 
Di depan Raja Simangolong, Hobatan menceritakan pembicaraannya dengan Sri Pandan. Ia mengatakan bahwa Sri Pandan hendak melompat ke lubuk sungai Asahan karena kecewa terhadap dirinya. Hobatan mengakui telah menganjurkan Sri Pandan untuk menerima lamaran Pangeran Aceh.
 
“Apa? Jadi putriku ingin bunuh diri dengan melompat ke lubuk sungai Asahan? Hai prajurit cepat kita pergi ke lubuk sungai Asahan untuk menyelamatkan putriku!” teriak raja kaget.
 
Mendengar pengakuan Hobatan, segera Raja Simangolong beserta para prajurit kerajaan pergi menuju lubuk sungai Asahan. Raja memerintahkan para prajuritnya untuk menyelam ke lubuk dalam itu untuk mencari Sri Pandan. Tapi setelah beberapa lama, mereka tidak berhasil menemukan putri raja. Raja Simangolong sangat sedih telah kehilangan putri kesayangannya. Ia sangat menyesal telah memaksakan kehendak pada Sri Pandan. 
 
“Aku sangat mencintai putriku. Ia anak yang baik dan patuh pada orang tua. Aku menyesal telah memaksanya menerima lamaran Pangeran Aceh.” raja menangis tersedu-sedu.
 
Semenjak kejadian itu, lubuk tersebut dinamakan Lubuk Emas karena putri Sri Pandan terjun dengan membawa banyak perhiasan emas.
 
Sumber : https://caritasato.blogspot.com/2014/10/lubuk-emas-cerita-rakyat-sumatera-utara.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu