Suatu malam sepasang suami istri sedang mencari ikan di Sungai Amandit. Sang suami menggunakan tangguk besarnya. Biasanya, lima ekor ikan besar dapat masuk ke dalam alat penangkap ikan sang suami.
Setelah memasang tangguk di sungai, suami istri itu menunggu. Mereka memakan bekal yang mereka bawa dari rumah. Waktu terus berlalu, beberapa jam kemudian terlewati. Harapan mereka untuk mendapatkan ikan sangat besar. Namun, ketika sang suami mengangkat tangguknya, wajahnya membayang kekecewaan. Tidak ada seekor ikan pun yang didapatkannya.
Sang suami kembali memasang tangguknya. Kembali ia dan istrinya menunggu di pinggir sungai. Beberapa jam kemudian ia kembali mengangkat tangguknya. Dilihatnya iSi tangguknya. Ia kembali menelan kekecewaan. Tangguknya sama sekali tidak beriSi ikan. Kembali ia memasang tangguknya.
“Aneh,” kata sang suami sambil duduk di samping istrinya. “Malam ini Sungai Amandit seperti tak dihuni seekor ikan pun. Dua kali tangguk kuangkat, tak seekor ikan pun yang kudapat.”
“Sabarlah, Pak,” ujar Si istri menyerankan. “Waktu malam masih cukup panjang. Mudah- mudahan setelah ini tangguk kita beriSi ikan.”
Sang suami menganggukkan kepala.
Tetapi beberapa kali sang suami mengangkat tangguk, tetap tangguknya tidak beriSi seekor ikan pun. Kesabaran sang suami habis. Waktu tengah malam telah jauh terlewati.
“Jika sekali lagi tangguk kuangkat dan tidak kita dapatkan ikan, lebih baik kita pulang saja, Bu,” kata sang suami. “Mungkin, malam ini bukan malam keberuntungan kita.”
Ketika tangguk diangkat untuk yang kesekian kalinya, bukan ikan yang terdapat di dalamnya, melainkan sebutir telur besar.
“Telur apa ini?”
Si istri memperhatikan telur itu. “Bentuknya aneh, Pak. Seumur hidupku aku belum pernah melihat telur sebesar itu.”
“Ya. Aku pun belum pernah melihatnya,” jawab sang suami.
Sang suami takut. Telur besar itu dilemparkannya kembali ke sungai. Sang suami masih penasaran, ia kembali memasang tangguknya. Namun beberapa saat kemudian ia mengangkatnya, kembali bukan ikan yang didapatkannya, tetapi telur besar itu lagi. Berulang- ulang kemudian kejadian seperti itu terus berulang.
“Bu, bisa jadi telur besar ini rejeki kita malam ini,” kata sang suami. “Sebaiknya kita bawa pulang saja.”
Sang istri setuju.
Pagi hampir tiba. Keduanya lalu kembali pulang ke rumah. Setibanya di rumah, mereka mendapati anak mereka masih tertidur pulas.
“Bu, rebus saja telur besar itu.”
Si istri bergegas merebus telur besar itu. Setelah matang, ia memanggil suaminya. Keduanya lalu memakannya. Rasa telur besar itu ternyata sangat lezat. Belum pernah keduanya memakan telur seenak itu.
Setelah suami istri itu memakan telur besar, mendadak terjadi keajaiban. Tubuh keduanya berubah menjadi naga besar berwarna putih!
“Apa yang terjadi dengan kita, Bu?” tanya sang suami kebingungan.
Si istri hanya bisa menggelengkan kepala. Ia sangat sedih mendapati dirinya berubah menjadi seekor naga besar betina.
Anak mereka terbangun. Seketika membuka mata, ia langsung menjerit ketakutan.
“Toiooong… toloooong…!! Ada dua naga besar di rumahku! Toloooong…!!”
“Tenanglah, anakku,” kata naga jantan. “Aku ini bapakmu. Ini ibumu.”
“Tidak! Tidaaak…!!” teriak sang anak. “Kedua orang tuaku bukan naga besar!”
Dua naga besar berwarna putih menyilaukan mata itu menjelaskan apa yang terjadi pada diri mereka.
Tak terkirakan sedihnya sang anak setelah mendengar cerita bapak dan ibunya.
“Sudahlah, anakku, janganlah engkau larut dalam kesedihanmu,” bujuk naga besar betina. “Ini sudah suratan takdir kami.”
“Benar, anakku,” sambung naga besarjantan. “Kini, kuminta engkau mencari empat pisau tajam untuk kujadikan taring. Siapkan juga batang pohon besar yang bisa kubuat meluncur turun menuju sungai.’
“Apa yang akan Ayah dan Ibu lakukan selanjutnya?” tanya sang anak.
“Kami akan bertarung melawan naga merah penghuni dasar Sungai Amandit,” jawab naga besarjantan. “Selama ini naga merah itu sering mengganggu warga. Selain itu, kami membutuhkan lubang kediaman naga merah itu untuk tempat tinggal kami selanjutnya. Doakan agar kami bisa
mengalahkannya.”
Sang anak menuruti perintah kedua orang tuanya. Ia mencarikan empat pisau yang sangat tajam dan menyiapkan batang pohon besar. Naga besarjantan dan betina segera meluncur mendekati Sungai Amandit. Sebelum memasuki sungai, naga besarjantan berpesan, “Anakku, amatilah baik-baik permukaan sungai ini. Jika permukaan sungai ini berwarna merah darah, itu berarti naga merah bisa kami tewaskan. Namun, jika kau lihat permukaan sungai ini berawarna putih, itu berarti kami kalah dari naga merah itu.”
“Amatilah baik-baik, Anakku,” sambung naga besar betina.
Sang anak hanya bisa menganggukkan kepala. Ia memandang sedih pada dua naga besar itu ketika memasuki Sungai Amandit. Ia berdoa, semoga ayah dan bundanya bisa mengalahkan naga merah dan kembali wujudnya seperti semula.
Pertarungan antara sepasang naga putih melawan naga merah berlangsung sangat seru. Pertarungan mereka diiringi hujan yang sangat deras, petir yang terus berkerjap-kerjap menakutkan, serta gelegar petir yang terdengar sambung-menyambung. Warga desa ketakutan dan gempar karenanya. Kegemparan mereka semakin menjadi-jadi karena mendapati Sungai Amandit meluap. Banjir besar melanda warga. Mereka berbondong-bondong mengungSi untuk menyelamatkan diri. Beberapa rumah warga hancur diterjang banjir besar itu.
Keadaan alam mereda, kembali seperti semula. Sang anak menyadari, pertarungan antara kedua orang tuanya melawan naga merah telah berakhir. Bergegas ia menuju Sungai Amandit untuk melihat warna permukaan sungai.
Permukaan Sungai Amandit berwarna merah darah. Itu berarti sepasang naga putih jelmaan kedua orang tua sang anak memenangkan pertarungan. Naga merah telah tewas. Sang anak gembira. Ia berharap kedua orang tuanya dapat kembali berwujud seperti semula.
Sang anak terus menunggu kemunculan kedua orang tuanya di pinggir sungai. Namun, kedua orang tua sang anak tidakjuga kunjung muncul. Sang anak terpaksa pulang ke rumahnya. Sejak saat itu ia hidup sebatang kara.
Tersiar kabar kemudian, sepasang naga putih itu menetap di lubang tempat kediaman naga merah sebelumnya. Sejak saat itu, Sungai Amandit dinamakan Sungai Lok Si Naga yang berarti Sungai Naga.
JANGAN GEGABAH DAN TERBURU-BURU MENGAMBIL KEPUTUSAN, KARENA BISA BERAKIBAT TIDAK BAIK DI KEMUDIAN HARI.
Sumber: https://dongengceritaanak.com/category/cerita-rakyat/kalimantan-selatan/
Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.
Cara membatalkan pinjaman ayopinjam Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.
Cara membatalkan pinjaman ayopinjam: Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...
Naskah Nusantara • Sunda Kuno Kidung Lakbok Kisah Kerajaan Banjarpatroman, Ramalan Abadi, dan Kelahiran Wayang Kila Kidung Lakbok adalah sebuah karya sastra lama berbentuk prosa naratif atau puisi naratif dalam bahasa Sunda yang menceritakan tentang sejarah dan legenda Kerajaan Banjarpatroman. Kerajaan tersebut dipercaya pernah berdiri di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Naskah ini sempat nyaris hilang, kemudian ditulis ulang dan dilestarikan kembali pada tahun 2013 melalui publikasi daring. 📜 Sejarah dan asal-usul Menurut naskah Kidung Lakbok, Kerajaan Banjarpatroman mengalami masa kejayaan sebelum akhirnya runtuh akibat perang saudara atau perebutan kekuasaan. Peristiwa tersebut dianggap sebagai dosa besar yang menimbulkan kutukan. Akibat perbuatan tersebut, turunlah azab berupa bencana alam besar, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir bandang. Kerajaan yang dahsyat itu akhirnya tenggelam dan berubah menja...