Bandung. Pasti kita sudah tak asing lagi dengan kota yang merupakan ibu kota Jawa Barat itu. Apa yang terpikirkan oleh anda ketika mendengar kota Bandung? Mungkin "kota kembang", "sejuk", "kota fashion", "kuliner" langsung terpintas di kepala anda. Namun, apakah anda pernah mendengar kota Garut? Kota yang letaknya masih di Jawa Barat dan terkenal dengan dodol nya. Memang, mungkin Garut masih belum dikenal oleh masyarakat Indonesia, namun Garut memiliki ciri khas nya tersendiri lho! Apa sih yang terkenal dari Garut? Garut terkenal dengan kebun teh dan anda pasti tahu Gunung Papandayan kan? Ya, Gunung Papandayan terletak di Garut.
Selain itu, Garut juga memiliki makanan tradisionalnya tersendiri lho! Mungkin selama ini anda berpikir bahwa yang terkenal dari Garut itu hanya dodol nya saja. Anda salah, ada satu makanan tradisional Garut yang unik dan bermanfaat. Apa sih nama makanannya? Tutut. Tutut? Apa itu tutut? Tutut biasa disebut juga keong sawah. Setelah anda tahu bahwa tutut merupakan keong, pasti anda merasa jijik bukan? Walaupun begitu, jika dimasak dengan cara yang benar, tutut akan berasa lezat dan juga bermanfaat bagi tubuh lho! Apa saja sih manfaat tutut? Tutut ternyata mengandung banyak kalsium. Daging tutut yang kaya akan kalsium ini bisa menggantikan susu bagi yang sering alergi terhadap susu. Tutut juga mengandung protein yang sangat tinggi, omega 3 yang membantu merawat rambut rontok, omega 6 untuk perkembangan otak, lendirnya digunakan untuk obat antiseptik untuk kulit, dan juga sebagai obat alternatif untuk penyakit maag, liver, dan kolesterol karena tutut mengandung banyak vitamin dan rendah lemak. Namun, karena tutut hidup di lumpur, tubuhnya seringkali menjadi tempat berkembangbiaknya cacing. Oleh karena itu, memasak tutut harus dengan cara yang benar agar terhindar dari cacingan, meningitis, dan schistosimiasis.
Nah, bagaimana sih cara memasak tutut yang enak dengan benar? Berikut langkah-langkahnya :
- Pengolahan awal tutut mentah
1. Sikat cangkang tutut agar lumpurnya hilang, lalu cuci dengan air bersih.
2. Hilangkan bagian ujung cangkang dengan pisau, lalu cuci lagi.
3. Selanjutnya rendam tutut dengan air bersih semalam, ganti airnya 3 kali.
4. Setelah direndam semalam, rebus tutut agar lendirnya hilang. Selanjutnya tutut bisa dimasak.
- Bahan bumbu tutut kuah kuning
1. Bawang merah 8 siung
2. Bawang putih 8 siung
3. Kunyit 8 cm
4. Kemiri 6 buah
5. Daun salam secukupnya
6. Laos secukupnya
7. Sereh secukupnya
8. Garam dan gula secukupnya
9. Daun bawang 2 batang
- Cara memasak tutut yang benar
1. Pertama pastikan anda sudah melakukan persiapan awal (merendam dan merebus tutut).
2. Siapkan wajan, lalu tumis bumbu halus (bawang, kunyit, kemiri), tambahkan juga garam, gula, daun sereh, dan laos. Tumis hingga harum.
3. Selanjutnya masukkan tutut yang sudah direbus, lalu tambahkan juga daun bawang. lalu masak hingga matang.
4. Hidangkan tutut kuah kuning ini di piring.
Nah, jadi sudah tahu kan bagaimana cara membuat tutut yang benar? Ayo makan tutut karena selain lezat, tutut mengandung banyak manfaat bagi tubuh!

#OSKMITB2018
Referensi :
- manfaat tutut
https://www.khasiat.co.id/daging/tutut.html
https://halosehat.com/makanan/makanan-berbahaya/bahaya-makan-tutut
- Cara membuat tutut
http://www.qiresep.com/2016/12/resep-memasak-tutut-yang-benar-dan-enak.html
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara