Jika anda sedang berkunjung didaerah Kotagede Yogyakarta terdapat bermacam-macam kuliner khas setempat yang layak anda coba. Salah satunya adalah sebuah jajanan tradisional yang memiliki nama yang unik yaitu Legondo(Legondho), dimana kue ini terbuat dari beras ketan kemudian dibentuk dan diisi dengan buah pisang raja.
Salah satu sumber menyebutkan jika kuliner ini sering dibuat untuk acara khusus yaitu untuk hantaran pernikahan oleh masyarakat didaerah tersebut, selain itu jika dikaji dari asal muasalnya konon kabarnya jika nama Legondho sendiri berasal dari kata leganing kondho yang merupakan bahasa Jawa dan jika diartikan adalah enaknya omongan.
Jika dilihat dari kemasannya kue tradisional ini juga menarik yaitu berupa daun pisang yang diikat oleh tali yang terbuat dari bambu, sehingga tentu saja akan terlihat alami dan juga sangat khas. Selain itu bisa dikatakan kuliner Kotagede ini juga mengingatkan kita dengan lemper karena sama-sama terbuat dari beras ketan yang dimasak dengan santan namun isinya yang berbeda yaitu berupa pisang raja, sehingga bisa kita bayangkan sendiri bagaimanakah rasanya.
Sayangnya Legondo jarang bisa ditemukan didaerah lainnya, oleh sebab itu jika anda diluar daerah dan ingin mencicipinya silahkan untuk mencoba membuatnya sendiri dan berikut adalah resepnya.
Sumber : http://kiostips.blogspot.co.id/2014/02/resep-kue-tradisional-legondo-khas.html
<!DOCTYPE html> Hacked By Raxor404 Santiago 404 Team Website Locked By Raxor404 PLEASE PAY THE RANSOM AT indonesiacyberteamid@gmail.com
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la`` <pre><code><pre><code><pre><code><pre><code><pre><code><pre><code><p></code></pre></code></pre></li> </ol> </code></pre></li> </ol> <p> <p> <p> </p></li> </ol> Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao"...