Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Tengah Desa Sembungan
Legenda Telaga Cebong #DaftarSB19
- 12 Februari 2019

Dikisahkan pada zaman dahulu di sekitar Dataran Tinggi Dieng hidup sebuah keluarga dimana terdapat seorang bapak sakti yang memiliki dua anak laki-laki. Bapak sakti tersebut mengadakan sebuah lomba membuat danau atau telaga untuk kedua anaknya dan menjadi ajang persaingan antara kakak beradik untuk mengadu kesaktian masing-masing. Sang kakaknya yang terkenal rajin bekerja dan sakti mandraguna memilih posisi paling puncak dari Desa Sembungan yaitu di sekitar Pakuwojo, sedangkan adiknya yang pemalas memilih tempat yang lebih dekat yaitu dibawah sebelah barat Bukit Sikunir. Pada waktu yang ditentukan, kedua kakak beradik tersebut Sudah mempersiapkan diri.

Pagi-pagi buta sebelum ayam berkokok sang kakak berangkat terlebih dahulu ke lokasi yang dipilih dan memulai pekerjaannya sedangkan si adik yang pemalas masih tidur sampai matahari cukup terik muncul dari Bukit Sikunir. Sang adik terlihat sangat santai karena ternyata menyimpan sebuah rencana jahat terhadap pekerjaan kakaknya dan dia yakin betul pasti akan memenangkan perlombaan. Matahari semakin condong ke barat pertanda waktu semakin sore. Pekerjaan sang kakak hampir selesai bahkan airnya yang tersimpan dari akar-akar pohon disekitar Pakuwojo mulai mengalir, hingga akan memenuhi kubangan/telaga yang dia buat.

Sementara sang adik tampaknya belum bisa sepenuhnya menyelesaikan pekerjaannya. Lokasi yang ada disebelah selatan belum tergarap bahkan dari bentuknya mirip berudu. Sang adik tidak juga memperhatikan darimana airnya akan dia dapatkan. Disela-sela pekerjaannya, sang adik mulai melancarkan niat jahatnya yaitu dengan cara naik ke puncak Pakuwojo untuk menemui kakaknya. Sang adik mengatakan bahwa kakaknya lah yang menang dan sebagai hadiah bapaknya sudah mempersiapkan hidangan daging ayam yang sangat lezat serta akan mempertemukan dengan calon istri yang cantik jelita, percaya dengan kabar dari adiknya sang kakak bergegas pulang menuju rumahnya.

Melihat situasi yang bagus tersebut mulailah sang adik melancarkan rencananya dengan cara membobol telaga buatan kakaknya agar airnya mengalir ke telaga yang dia bangun, dan ternyata berhasil dengan sangat sukses. Telaga yang dibangun kakaknya kering dalam waktu yang tidak terlalu lama dan telaga yang dia bangun sekarang sudah berisi air bahkan meluap sampai tepian telaga. Malam itu sang adik tidak pulang kerumah tapi tetap berada di pinggir telaga yang dia bangun. Keesokan harinya bapaknya mencari kepinggir telaga dan menyatakan bahwa pemenang dari lomba tersebut adalah sang adik yang berhak mendapat hadiah pernikahan dengan calon istri yang cantik jelita. Sampai sekarang telaga yang dibangun oleh sang kakak tetap mengering dan penduduk sekitar memberi nama dengan sebutan Telaga Wurung (telaga yang tidak jadi). Sedangkan lokasi telaga yang dibangun oleh sang adik diberinama Telaga Cebong hingga sekarang.

 

 

 

Sumber: https://teamtouring.net/legenda-telaga-cebong.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu