Dahulu kala ada seorang putri cantik yang bernama Putri Jawi. Putri jawi diutus ayahnya pergi ke pasuruan untuk menemui seseorang yang akan di jodohkan dengannya,. Punggawa kerajaan yang dipimpin oleh Mahesoyuwo atau yang artinya kebo suwayuwo ini menyiapkan pasukannya untuk mengawal sang Putri Jawi ke pasuruan. Saat diperjalanan kebo suwayuwo ternyata mempunyai benih-benih cinta kepada sang putri, karena kecantikannya dan karena saat perjalanan dia selalu mengawal sang putri. Di saat itu kebo suwayuwo melamun, di dalam lamunannya dia bermesraan dengan sang putri. akhirnya, dia memutuskan untuk menemui sang putri. sesampainya di pasuruan, dia segera menemui sang putri dan menyatakan cintanya kepada sang putri. tetapi... Sang putri menolaknya, karena ia mengemban tihtah dari sang ayah untuk menemui seseorang yang akan menjadi suaminya. Namun, Sang kebo suwayuwo tidak putus asa, dia mengikuti kemanapun perginya sang putri.
Di tengah perjalanannya sang putri bertemu dengan ki ageng pandak, sang putri meminta bantuan kepada ki ageng pandak untuk membunuh kebo suwayuwo, lalu ki ageng pandak mau menolong sang putri, sang putri di suruh masuk kedalam rumah ki ageng pandak. Melihat kejadian itu, kebo suwayuwo langsung menemui ki ageng pandak, Di sanalah terjadi pertempuran antara ki ageng pandak dengan kebo suwayuwo. lalu, di karenakan kuatnya kebo suwayuwo sampai-sampai pertempurang hingga larut malam. Ki ageng pandak memutuskan untuk meminta waktu istirahat kepada kebo suwayuwo. Kebo suwayuwo pun setuju, tetapi itu hanyalah akal akalan kebo suwayuwo saja, tiba tiba dia menusuk Ki ageng Pandak dari belakang. dan setelah itu kebo suwayuwo meninggalkannya. melihat ki ageng pandak yang sudah sekarat itu, sang putri langsung menemuinya. sebelum ki ageng pandak meninggal. ia memberikan wasiat kepada sang putri, untuk mau menikah dengan kebo suwayuwo tetapi dengan satu syarat yaitu kebo suwayuwo dijawibkan untuk mencari air yang bening untuknya, karena kebo suwayuwo tidak bisa dikalahkan namun bisa dibohongi.
Untuk berterima kasih atas pertolongan ki ageng pandak, Sang putri memberi nama tempat meninggalnya ki ageng pandaak itu "Panda'an" yang sekarang sering dikenal dengan kecamatan Panda'an. sekolah saya pun juga di Pandaan, yaitu SMAN 1 Pandaan.
Setelah kejadian itu Sang putri segera melanjutkan perjalanan, namun sekarang sang putri di kawal oleh pasukan dari majapahit. di saat itulah kebo suwayuwo segera juga mencari Sang putri, kemudian saat dia bertemu. kebo suwayuwo pun segera meminta jawaban kepada sang putri atas perasaannya selama ini. Putri jawi pun berkata, mau menerima sang kebo untuk menjadi suaminya namun dengan satu syarat yaitu mencarikan air yang bening untuk dirinya. mendengar itu, kebo suwayuwo segera membuat sumur yang dalam. setelah selesai ketika kebo suwayuwo hendak keluar dari sumur, pasukan majapahit segera mengubur kebo suwayuwo di dalam sumur hingga tewas. akibat kematian itu, Sang putri pun bisa kembali tenang dan memberi nama tempat itu dengan sebutan desa "Suwayuwo" yaitu desa yang saya tempat lebih dari 2 tahun ini, dan bukti dari kisah ini juga erdapat sumur yang menurut leluhur adalah tempat kebo suwayuwo itu di kuburan di desa suwayuwo tersebut. dan di desa suwayuwo pun terdapat banyak sumber mata air yang bersih, yang sekarang yang merupakan sumber dari beberapa perusahan air minum di daerah Pandaan.
hingga sampai saat ini, akibat kisah kebo suwayuwo tersebut terdapat suatu mitos yaitu apabila pemuda asli desa suwayuwo dilarang menjadlin asmara apalagi menikah dengan perempuan dari desa jawi. jika itu terjadi, maka kesialan yang bertubi tubi akan menimpa mereka.
Sumber: http://akuhitlerindonesia.blogspot.com/2013/10/legenda-suwayuwo.html
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara