Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Tengah Wonosobo
Legenda Sungai Serayu Mitos serta Laku Paripurnaning Dumadi
- 13 Juli 2018

Dunia Keris Selamat datang kerabat perkerisan. Memang, dalam urusan sungai yang mengalir pada Jawa, Serayu memang masih kalah panjang dengan saudara tuanya, Bengawan Solo. Namun, buat urusan mitos serta legenda boleh jadi sungai Serayu lebih mengesankan dibanding kakaknya, Bengawan Solo yang beberapa waktu yang kemudian unjuk rasa pada aneka macam daerah yang dilintasinya.

Sungai ini mengalir dari pegunungan Dieng, sampai bermuara pada laut selatan yang berdekatan dengan Gunung Srandil. Sebuah gunung sakral yang berada pada daerah Adipala, Cilacap, Jawa Tengah. Sungai yang melintasi lima daerah kabupaten Banjarnegara, Wonosobo, Purbalingga, Banyumas (Purwakerta), serta Cilacap ini tak ubahnya urat nadinya.

Ada poly hal yang menarik yang berkaitan dengan legenda Sungai Serayu ini yang berkaitan dengan proses terjadinya serta penamaannya. Bahkan dari sumber primer alirannya.

Aika sampeyan kebetulan ke Dieng dari arah Wonosobo, persis pada sebelah kanan gapura selamat datang itulah sumber utamanya. Masyarakat setempatnya menyebutnya Tuk Bima Lukar. Menurut cerita atau legenda rakyat sekitar, dipercaya dapat membentuk orang awet muda dengan membasuh muka atau mandi dengan air pada tuk tadi.

Terlepas dari mitos tadi, terdapat satu cerita legenda yang lebih menarik lagi wacana dari mula dari sumber primer sungai Serayu tadi. Dikisahkan, pada suatu saat sang pandawa sedang kembali ke Dieng buat membangun Candi menjadi tempat pemujaan, pada tengah bepergian keliru satu orang Pandawa yaitu Bima merasa ingin buang air mini (kencing), kemudian beliau berhenti buat kencing. Dan anehnya air kencng itu kemudian menjadi sebuah sumber mata air yang berupa sendang.

Bima merupakan putra Pandu Dewanata yang lahir dari rahim Dewi Kunthi Nalibrata. Bima yang maupun merupakan keliru seseorang saudara Bayu tadi ialah panenggak Pendawa. Sang senopati agung dari Negeri Amarta saat terjadi perang suci Bharatayuda pada medan laga Kurukasetra.

Sebagai ksatria yang berjiwa sentosa, amanah, serta keras kepala; Bima tidak mudah buat ditundukkan setiap hasratnya. Karenanya sewaktu Bima ingin mendapatkan tirta perwitasari pada dasar samudera; tak seseorang pun dari keluarga Pandhawa, Anoman (kadang Bayu), serta bahkan ibunya sendiri tak bisa mengurungkan hasratnya itu.

Dengan sepenuh keyakinan, Bima yang sudah mendapatkan petunjuk dari Resi Kumbayana (Druna) berangkat ke laut selatan buat mendapatkan tirta perwitasari. Sewaktu melangkah menuju laut selatan itu, langkah Bima meninggalkan jejak-jejak berlubang yang kemudian menjadi sungai yang panjang, lebar, serta dalam. Sungai itulah yang kemudian dikenal sang rakyat menjadi Sungai Serayu.

Menurut penuturan dari sebagian rakyat, bahwa nama Serayu berasal dari dua celoteh bahasa Jawa, yakni sira (Enda) atau sirah (kepala) serta ayu (manis). Dengan demikian nama Serayu memiliki makna Enda yang berparas manis atau kepala dengan wajah yang manis. Perihal kisah yang melatar-belakangi penamaan Sungai Serayu ialah menjadi berikut:

Pada masa pemerintahan Demak Bintoro, hiduplah seseorang sunan yang sakti mandraguna serta sekaligus menguasai ilmu agama. Sunan yang merupakan anggota Walisongo itu bernama Sunan Kalijaga. Beliau ialah putra Tumenggung Wilwatikta dari Kadipaten Tuban yang maupun dikenal dengan nama Raden Said.

Sebagai seseorang sunan yang memiliki tanggung jawab buat menyebarkan ajaran agama Islam pada Tanah Jawa, Kalijaga sering menghabiskan waktunya buat melakukan pengembaraan, serta tinggal dari tempat satu ke tempat lainnya. Manakala perjalanannya terbentur pada tepian sungai yang lebar serta dalam, Sunan Kalijaga (Sunan Undik) menyaksikan kepala perempuan berwajah manis yang muncul tiba-tiba pada tengah permukaan sungai. Dari insiden yang dialaminya, Sunan Kalijaga kemudian menamakan sungai itu menjadi Sungai Serayu.

Di pegunungan Dieng yang merupakan hulu Sungai Serayu tadi, masih terdapat sejumlah candi yang dengan nama tokoh wayang, pada antaranya: Candi Yudhistira, Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Nakula, Candi Sadewa, Candi Gathutkaca, Candi Bisma, dll.

Selain candi-candi pada atas, Pegunungan Dieng yang merupakan hulu Sungai Serayu tadi maupun memiliki Candi Semar. Sementara pada Gunung Srandil sendiri yang berdekatan dengan hilir Sungai Serayu tadi masih terdapat patung Semar. Di mana patung tadi sudah dijadikan menjadi penandaan tempat turunnya Semar (Sang Hyang Bathara Ismaya) dari kahyangan Jong Giri Saloka ke Mercapada (Tanah Jawa) yang berada pada titik puncak Gunung Srandil tadi.

Bila menilik dari website yang terdapat yakni Candi Semar pada Pegunungan Dieng serta patung Semar pada Gunung Srandil, maka keberadaan Sungai Serayu tidak dapat dilepaskan dengan keberadaan dewa kang apawak manungsa (dewa berwujud manusia) tadi. Dewa yang menyamar menjadi kawula berwatak sederhana, amanah, tabah, rendah hati, berbelas kasih, mengasihi pada sesama, dekat dengan keutamaan serta jauh dari keangkaramurkaan, serta tidak terlalu susah bila mendapatkan cobaan serta tidak terlalu gembira bila mendapatkan keberuntungan.

Dari sini dapat diasumsikan kemudian kalau Sungai Serayu merupakan sungai suci yang bukan sekadar membagikan penghidupan bagi manusia secara tulus, akan tetapi memiliki makna simbolik yang sangat dalam. Dimana sungai tadi dapat dimaknai menjadi cinta kasih kudus yang mengalir monoton dari sang bapa atau lingga (Pegunungan Dieng) pada sang biyung atau Yoni (Laut Selatan).

Karenanya tak heran, bila rakyat yang hidup pada kiri-kanan sepanjang Sungai Serayu selalu melakukan upacara tradisi Sedekah Bumi. Upacara ini ditujukan buat berkata rasa syukur atas cinta kasih berwujud air kehidupan yang diberikan sang Tuhan melalui sungai tadi. Selanjutnya air kehidupan tadi tidak hanya bermanfaat bagi petani buat menumbuh-kembangkan tumbuhan pada ladang atau sawahnya, akan tetapi maupun buat menjaga kelangsungan hidup manusia.

Berangkat dari mitos insiden serta penamaan, serta website Semar yang berada pada hulu serta hilir Sungai Serayu dapat dipetik aneka macam konklusi, diantaranya:

Bila ditilik dari mitos insiden, maka Sungai Serayu dapat dimaknai menjadi mozaik laris transendental Bima (manusia) yang ingin memahami ilmu sangkan-paraning dumadi (dari serta tujuan hidup). Ilmu yang merupakan kunci pada dalam mendapatkan pemahaman ilmu manunggaling kawula-Gusti yang merukan gerbang menuju paripurnaning dumadi.

Kemudian, bila ditilik dari mitos penamaan, Serayu merupakan sungai yang berkarakter perempuan (beraliran lembut, jernih, serta bening). Karena berkarakter perempuan, Serayu tidak mirip sungai-sungai berhulu dari kaki gunung berapi yang berkarakter garang serta menyebabkan peristiwa banjir lahar dingin yang dapat membinasakan kelangsungan hidup manusia serta menghancurkan lingkungan sekitarnya.

Selanjutnya, apabila ditilik dari website Candi Semar pada Pegunungan Dieng (hulu sungai) serta patung Semar pada Gunung Srandil (hilir sungai), maka keberadaan Sungai Serayu senantiasa mendapatkan konservasi dari Semar (Sang Hyang Bathara Ismaya). Sosok dewa apawak manungsa yang selalu menjaga keselarasan kontak kosmis, yakni: mikro-kosmis (orang-orang pada kiri-kanan sepanjang tepian sungai) serta makrokosmis (sungai yang merupakan bagian dari alam raya tadi).

Sumber: https://duniakeris.com/legenda-sungai-serayu-mitos-serta-laku-paripurnaning-dumadi/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUDON TANO (PERIUK TANAH)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
BENDA MAGIS MASYARAKAT BATAK
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...

avatar
Gulamerah