Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Hikayat Kalimantan Timur Kutai
Legenda Putri Silu
- 23 Februari 2017
DIKISAHKAN OLEH NEK ESAH ALIAS NEK MANANG WARGA DESA MUARA KAMAN ILIR
 
            Kisah ini dimulai dengan lantunan lagu yang disebut neroyong sebagai berikut :
 
Dinegeri kutai dulu hikatnya, Hiduplah kejuntaian di dunia longa, Bukanlah dewa lain manusia, Sebagai pemberi alamat sealam raya.
 
Tujuh saudara hidup rukun dan tentramya, Penjaga alam kutai yang kaya-raya, Sayus kakak yang paling tua, Orangnya pintar pandai bahasa.
 
Songo kakak yang kedua, Orang kuat baik hatinya, Tapi saying bodoh orangnya, Hingga menjadi cerca para saudara.
 
Silu kakak ke tiga cantik molek parasnya, Selalu membawa tuah pada manusia, Negeri kutai ditinggalkannya, Karma takut besahu dengan kakak tertua
 
 Sirumbai kaca kakak kempatnya, Sipatnya santun dan bersahaja, Tulus hati pemberi semengat hidup manusia, Karma memberi tidak mengarap apa-apa.
 
Rumbai nenang kakak kelima,  Jujur hati penyejuk jiwa, Banyak orang kagum padanya, Sopan santun tutur bahasanya.
 
Sinaning kakak keenam yang susah hidupnya, Orangnya sabar  tegar  hatinya, Pemelihara semengat hidup didunia, Sangat arif dan bijaksana.
 
Sentanglah yang paling bungsu, Orangnya lugu serta pemalu, Tapi diasenang selalu membantu, Walaupun dia ditinggalkan ibu.
 
Tujuh saudara hidup bersatu, Dalam tugas bahu membahu, Jadi Alamat pastilah tentu, Kepada mahluk hidup diberitahu.
 
            Cerita ini dikisahkan pada suatu hari terjadilah, hal yang memalukan, yang disebut sahu (tabu) karna perbuatan yang tidak layak dilakukan oleh orang yang bersaudara kandung, kejadiannya takala terjadi hujan lebat dan atap rumah mereka mengalami kebocoran sehingga Sayus naik keatap rumah dan melihat adiknya Silu sedang memasak di dapur, dan taah (Kain sarung) yang dipakai silu sedikit terbuka dan memperlihatkan lekuan tubuhnya yang memang tiada tara indahnya dan kulit yang putih kuning serta paras yang cantik membuat darah sayus berdebar jantungya dan timbulah napsu birahinya, niat jahat itu lah yang akhirnya menjadikan pertikaian antara adik dan kakak.
 
            Silu sudah mantap hatinya ingin berpisah dari saudara-saudaranya maka dibuatlah lanting besar (rakit) dari haur kuning (bambu kuning), dan lengkap dengan perbekalan harta pusaka serta manok sakan betina, (ayam hutan) kesayangan saniang jangkat dibawanya pula menurut cerita ayam ini lepas persis di Muara Kaman yang meninggalkan telur di gua bukit berubus, karena terburu-buru Silu lupa mengambil telur ayam tersebut hingga saniang jangkat mendatangkan bala (bencana), kemarau panjang saniang hanya mau menghilangkan sumpahnya jika ada binatang yang sanggup menetaskan telur tersebut. Dalam hikayat lain diceritakan bahwa hanya seekor lembulah yang dapat mengerami telur tersebut sehingga menjadi batu lembu tersebut kemudian dinamai lembu ngeram.
 
            Sejak meninggalkan kampong halamanya silu menyusuri sungai mahakam, dan Sayus merasa bersalah sehingga di suruh oleh para saudaranya agar membawa adiknya kembali, karena Silu enggan lagi tinggal bersama dia tidak mau pulang, maka berbagai rintangan di buat untuk menghambat kepergian silu diantaranya di buat ulak Besar di Muara Kaman, Ulak Yupa beserta Pulaunya dan tiga pulau lainya yakni Pulau Kumala di Tenggarong dan Pulau Jerang di Jembaian tanahnya di ambil dari Gunung Betutu dan Gunung Malang di Senoni dan di muara sungai Mahakam ditanami bakau namun semua itu berkat kesaktian dan tuah silu dapat melanjutkan perjalananya sampai ke pusat air (Samudra Indonesia sekarang) yang berada selatan Pulau Jawa menurut cerita ini Putri Silu dikabarkan ditangkap oleh Raja Naga penguasa laut pantai selatan Jawa dan akhirnya menjadi penguasa pantai selatan maka silu sering memberikan tuah pada rakyat di sekitar pantai selatan, apakah Putri  Silu adalah Ratu Segoro Kidul saya bertanya dan dijawab Allahualam Bin Sawab kehendak tuhanlah yang akhirnya membuat negeri di Jawa itu dibangun dari hasil alam dan bumi Kutai yang kaya karena, adapula sumpah raja kutai apabila anak cucuku melewati batas wilayah selatan tanah Jawa maka tuah dan kesaktiannya akan hilang di ambil oleh Putri Silu.
 
            Sepeninggal Putri Silu, negeri kutai semakin kacau, Sayus dikabarkan lari ke daerah perbatasan Balikpapan dan Panajam di Pasir sekarang disana dijumpai gua yang digambari silu dengan alat kelamin peria dan wanita entah apa sebabnya itulah tanda penyesalanya yang digambarkan Sayus akibat perbuatannya semua makluk hidup di kutai mendapatkan bala (bencana).
 
            Lain lagi sungai mahakam yang besar dan dalam airnya hampir kering karena kemarau panjang membuat bangsa para binatang ambil bagian dalam babak cerita ini. Ditengah kegelisahan makluk hidup dikutai hanya berharap semoga kejadian ini cepat berlalu, dalam dongengnya Dongengya Nek Esah bercerita tentang perilaku para binatang pada waktu itu, para binatang dikumpulkan guna membahas masalah apa yang sebenarnya terjadi Raja segala binatang mengadakan pertemuan di Udara rajanya burung Bunia atau Rembewang (Raja Wali) lajim disebut Burung Garuda, di hutan dikuasai Remaong (Singa) dan di Air dikuasai Ikan Pesut (Lumba-Lumba) entah bagaimana Cuma cerita ini dikisahkan akhirnya banyak para binatang yang mendapat hukuman seperti, Bebek di hukum tidak bias terbang jauh gagal mengerami telur Sakan dan Burung Coek dihukum mencari makan hanya di malam hari karma dalam mencari Silu dialakukan hanya malam hari,serta Tikus menggali tanah pada waktu disuruh Sayus membuat tiga pulau maka seumur hidupnya dihukum menggali tanah, sedangkan Burung ketinjau (Kutilang), dianugerahi sumpah apabila manusia memakan daginya akan terjangkit penyakit kodong (Kudisan), dan diberi suara yang merdu karena dilah yang menijau dan memberitahukan bahwa sebab terjadinya kemarau oleh perbuatan Sayus ingin bersahu kemudian telur manok sakan (ayam hutan) kesayangan saniang jangkat dierami lembu sampai jadibatu, cerita ini kemudian menjadikan mistik batin Lembu Ngeram menjadi Lambang Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman.
 
            Pertemuan Putri silu dengan utusan dari Kutai, siapa gerangan yang menemui silu, Nek Esah menjawab alkisah seekor Kupu-kupu meminta persetujuan Saniang apabila dirinya berhasil menemui si Putri Silu maka dia meminta apabila kemarau sudah berhenti dan pohon serta tanaman lain berbunga maka bangsanyalah yang harus mencicipi terlebih dahulu sari-sari madu dari bunga-bunga tersebut, dan permintaanya dikabulkan oleh Saniang, dan berangkatlah kupu-kupu menuju pusat air, sesampainya di tepi laut kupu-kupu menaiki buyah air (Gelembung Air), hingga berbulan bulan kupu-kupu mencari Putri Silu dan akhirnya pertemuan itulah kupu-kupu menerima pesan Putri Silu agar disampaikan kepada makluk hidup di kutai, bahwasanya dirinya tidak dapat kembali lagi dan dia memberikan alamat bahwa apabila manusia ingin mendapatkan tuah maka buatlah Saniang Ayu sebagai perlambang batinku dan aku akan datang tanpa dilihat mata dan akan memberikan padah bagi ganjaran hubungan antara alam gaib dan kehidupan nyata manusia di kutai.
 
Kajian Mistik Ilmiahnya yang kita dapat dari cerita ini antara lain. Bahwa tiang ayu adalah penghubung alam gaib dan kehidupan nyata inilah yng terjadi disetiap Erau bahwa dimulai dengan mendirikan ayu dan diakhiri dengan merebahkan ayu, agar dapat mendatangkan tuah bagi negeri kutai.
 
Selogan lambang Kerajaan Kutai Martapura adalah “TUAH EMBA ARAI’ yang mengadung arti dan makna sebagai berikut :
 
            Tuah adalah sesuatu yang bermanfaat dapat disebut ilmu, atau kekuatan dan kesaktian seseorang, bahkan suatu keberuntungan karma dalam keseharian orang kutai selalu menyebut “mudah mudahan anaku beuntung betuah” atau jika anaknya mendapat sesuatu yang dapat membanggakan orang lain dan keluarganya maka orang kutai menyebutnya “andok anak beuntung betuah” itulah semacam kebanggaan dan penghargaan pada sang anak.
 
            Emba artinya mencari alas an untuk hidup dimana manusia harus berusaha mencari sesuatu yang dijadikan bekal hidup yang lebih baik, dalam hidup dan mati manusia harus meninggalkan hal yang berguna bagi dirinya, keluarga, dan bangsanya, karena hidup ini harus dipenuhi dengan nafkah menutut ilmu maupun nafkah secara batin.
 
            Arai artinya menciptakan sesuatu karya yang bermanfaat bagi kehidupan baik keluarga maupun bermasyarakat sehingga dihargai, adapun karya itu berbagai hal menyangkut kehidupan manusia di dunia dan dapat dirasakan oleh orang lain.
 
Mengenai lambang Kerajaan Kutai Martapura adalah “LEMBU NGERAM’ yang mengadung arti dan makna secara yogini menurut ritus agama hindu aliran siswatis yang dianut oleh para raja-raja kutai jaman dahulu sebagai berikut :
 
Telur Sakan adal lambang cikal bakal keturunan yang melahirkan raja-raja dari keturunan orang yang dihargai dan di hormati serta dianggap sakti dan berdarah peri, karma hanya orang berdarah bangsawanlah yang boleh menjadi raja.
 
Wujud lembu ngeram di gambarkan berbadan binatang lembu (sapi atau kerbau), bersayap rembewang, berkepala dan berparuh serta bermahkota tumbau, berkuku sakan, artinya :
 
Badan lembu, adalah seorang raja harus memiliki jiwa raga baik jasmani maupun rohani yang suci dan tulus serta iklas seperti lembu tunggangan batara guru yang iklas membawanya kemana pergi dalam memberikan petuah pada umatnya  lambang dewa batara guru inilah menjadi dasar-dasar falsafah penegak derajat hidup kaum bangsawa dalam mengaromi rakyatnya.
 
Bersayap rembewang artinya rembewang adalah gaganeswara seekor burung yang dapat menjangkau bumi, air, laut, dan angkasa dalam menegakan kekuasan dan dapat menaungi wilayah kekuasannya artinya raja dapat menjaga ketentraman hidup rakyat disegala penjuru wilayah kekuasaanya.
 
Berkepala, berparuh dan bermahkota tumbau, artinya raja itu mempunyai kepandaian dengan berdiplomasi raja dapat menundukan lawanya, karma itu titah atau sabda raja adalah hukum bagi kaula dan rakyatnya, dan mahkota tumbau adalah lambang dewa kresna yang memiliki keagungan budi pekerti dan kepandaian serta sebagai dewa pemelihara alam.
 
Berkuku sakan, artinya kekuatan raja dalam menegakan hukum dan aturan, adalah senjata dalam mempertahankan kekuasaan serta melindungi rakyatnya.
 
Begitula mistis yang terkandung dalam cerita legenda tersebut, mengenai berbagai persoalan terjadi di negeri kutai sejaman itulah kerajaan ini telah pula dikenal sampai ke luar negeri bahkan kerajaan kutai ini berkuasa selama 1255 tahu lamanya, hingga Negara kerajaan ini menjadi Negara kerajaan pertama di Nusantara. Berdirinya ayu dan rebahnya ayu mengandung arti dan makna bahwa upacara tersebut memiliki awal dan akhir, serta upacara besawai menjamu, merangin,  berarti upacara ini mempunyai wawasan luas menghormati semua kemumulan, kejuntaian, serta pengalasan yang ada ditanah Kutai pada zaman dahulu.
 
(dikutip dari tulisan: Maharaja Kutai Mulawarman)
 
sumber : http://kutaihulu.blogspot.co.id/2010/12/legenda-putri-silu-lari-kepusat-air.html

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu