Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Tengah Purbalingga
Legenda Putri Ayu Limbasari
- 14 Juli 2018

Suatu hari seorang penyebar agama Islam bernama Syech Gandiwasi asal Turki menghadap Kangjeng Panembahan Senopati Ing Ngalogo Mataram dan mohon untuk menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Pada waktu itu (tahun 1586-1601) kekuasaan Kanjeng Panembahan Senopati memang meliputi seluruh Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat, sehingga mendapat sebutan “Kaisar Seluruh Jawa”. Ia adalah Raja Mataram baru, yang tersohor sakti mandraguna, berwibawa dan pandai bergaul dengan rakyatnya. Mendapat permohonan dari penyebar agama Islam asal Turki itu, ia merasa senang, karena berarti akan menambah pengetahuan agama bagi rakyat Kerajaan Mataram yang sudah memeluk agama Islam sejak jaman Kerajaan Demak dulu.

Permohonan Syech Gandiwasi akhirnya dikabulkan dan ia diizinkan menyebarkan agama Islam di kawasan kaki Gunung Slamet. Setelah mendapat izin, ia lalu merencanakan membangun padepokan di tempat tujuan, guna mendidik para santrinya. Dalam perjalanan ketempat tujuan, ia singgah dan sementara bermukim dulu di sebuah tempat yang bernama Kedung Belis. Di tempat persinggahan ini ia merasa tidak tenang, oleh gangguan jin setan yang tak ada hentinya. Guna mencegah ganguan itu, Syech Gandiwasi kemudian memohon kepada Allah SWT, dengan cara bersemedi yang kemudian tempat persemedian ini diberi nama Dukuh Pamujan.

Permohonan Syech Gandiwasi kepada Allah SWT ternyata tidak sia-sia. Para jin itu berhasil disingkirkan, setelah terlebih dahulu melakukan kejar-kejaran. Jin-jin itu kemudian menyingkir (semisih) ke suatu tempat yang sekarang bernama Penisihan. Sedangkan tempat di mana Syech Gandiwasi dengan para jin berkejaran, dikenal dengan nama Desa Dagan. Merasa tidak betah tinggal di Kedung Belis, ia bermaksud pindah tempat yang lebih nyaman. Maka diumpuklah dua buah batu sebesar rumah di sebuah tanjakan tinggi. Kemudian ia berdiri di atas tumpukan batu itu untuk melihat kondisi lokasi tinggal yang tepat. Tanjakan ini dikelak kemudian dikenal dengan sebutan Watu Tumpang. Dari tempat inilah, perjalanan lalu dilanjutkan ke arah sebuah hutan yang sekarang disebut Limbasari.

Menurut Sekdes Limbasari R.Edi Prasojo, Syech Gandiwasi mempunyai putra bernama Ketut Wlingi. Namun sementara orang mengatakan, bahwa Ketut Wlingi adalah murid padepokan Gandiwasi yang datang dari Bali bersama Patrawisa. Kemudian Ketut Wlingi dinikahkan dengan Siti Rumbiah, putri dari gurunya. Sementara Patrwisa adalah cantrik Syech Gandiwasi yang meninggal saat sedang membangun saluran air. Itulah sebabnya saluran air di desa Limbasari kemudian disebut Patrawisa. Dari pernikahannya dengan Ketut Wlingi, Siti Rumbiah menurunkan putra putri masing-masing bernama Wlingi Kusuma dan Sri Wasiati yang sangat cantik sehingga orang menyebutnya Putri Ayu Limbasari.

Setelah menginjak usia dewasa kecantikan Sri Wasiati semakin bertambah. Akibatnya banyak orang yang ingin meminangnya, termasuk beberapa orang Adipati yang datang untuk melamarnya. Para Adipati yang pernah melamarnya itu antara lain Adipati Wirayuda, Adipati Wiratenaya, Adipati Wirataruna dan Adipati Wirapraja. Namun semuanya belum mendapat jawaban pasti dari orang tua Sri Wasiati. Sebab lamaran yang datang bersamaan itu malah membuat bingung pihak keluarga perempuan. Melihat kegundahan hati adiknya (Sri Wasiati) Wlingi Kusuma akan mengadakan sayembara sebagai jalan keluar. Sayembara itu adalah barang siaapa dapat mengalahkan dirinya (Wlingi Kusuma), maka dialah yang berhak menjadi pendamping Sri Wasiati. Namun dalam pertandingan satu lawan satu itu, tak seorangpun dari semua Adipati yang pernah melamar Sri Wasiati berhasil mengalahkan Wlingi Kusuma yang terkenal kesaktiannya sehingga para Adipati itu bersepakat untuk melawan dengan cara kroyokan.

Pengeroyokan itu ternyata dilaksanakan dan setelah dibunuh, mayat Wlingi Kusuma dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Kemudian bagian kepala dikubur di makam Siregol, Desa Tlahab Kidul, gembungnya dikubur di Pelumbungan, kemaluannya dikubur di Sikonthol Desa Beji Karanganyar. Sedangkan kakinya dikubur di wilayah hutan perbatasan Banjarsari-Karangjambu, yang sekarang dikenal dengan nama Lemah Jejekan.

Kematian Wlingi Kusuma yang tidak semestinya, membuat Sri Wasiati semakin bingung. Dalam batin ia berpendapat, bahwa kecantikan memang bisa membahagiakan, namun juga bisa membuat malapetaka. Oleh karena itu ia berpesan kepada gadis-gadis Desa Limbasari, agar kecantikannya jangan meniru dirinya, apalagi melebihi tetapi yang sederhana saja.

Saking gelap pikirannya, Sri Wasiati memohon kepada Allah SWT dengan cara tapa pendem. Dalam laku ini ia menguburkan diri dalam tanah yang diberi seutas benang panjang menjulur ke permukaan tanah. Pesannya sebelum dimasukan ke liang lahat. Bila benang ditarik masih bergerak, artinya ia masih hidup. Sebaliknya bila tidak bergerak, menunjukan ia meninggai dunia. Begitulah setelah kurang lebih satu minggu melakukan tapa pendem, benang itu lalu ditarik, tetapi tidak bergerak sama sekali yang berarti ia sudah meninggal dunia. Segera tempat pertapaan itu digali, dan betapa terkejut semua keluarganya waktu melihat Sri Wasiati sudah tidak bernyawa lagi. Tetapi apa yang dapat diperbuat, meski para Adipati juga ikut menyesal, karena nyawa seorang putri ayu tidak dapat diselamatkan lagi.

Sri Wasiati mengambil langkah itu bukan tidak beralasan. Sebab bila salah satu Adipati yang melamar diterima, tentu kondisi Desa Limbasari akan menjadi kacau. Karena Adipati lain yang lamarannya ditolak, tentu akan membalas dendam. Hal itulah yang tidak diinginkan oleh Sri Wasiati, sehingga demi masyarakat di desanya, dirinya rela berkorban jiwa. Setelah ditinggal mati oleh putrinya, ayah ibunya lalu meninggalkan padepokannya dan bermukim di Srandil sampai akhir hayatnya.

Sri Wasiati setelah meninggal dunia lalu mendapatkan julukan “Putri Ayu Limbasari’ yang benar-benar cantik lahir batin. Hingga sekarang makam Putri Ayu Limbasari masih terjaga dengan baik. Lokasinya di seberang Galeri Batik Muning Sari, dan masih dianggap keramat. Makam itu diperkirakan berada di bekas Padepokan Limba Sari. Namun sisa-sisa bekas padepokan sekarang sudah tidak ada.

Nah itulah Desa Limbasari Kecamatan Bobotsari, yang terletak 15 kilometer utara pusat kota Purbalingga. Di desa ini terdapat banyak potensi wisata yang belum dikelola seperti obyek wisata alam Patrawisa , terletak di lembah gunung Tukung dan gunung Pelana, yang kecantikan alamnya mampu memikat hati seseorang untuk berkali-kali datang mengunjunginya. Untuk menuju bendungan Patrawisa dibutuhkan waktu 30 menit berjalan kaki dari Limbasari, karena jaraknya hanya 1,7 kilometer. Patrawisa adalah sebuah bendungan yang berada di muara sungai Tungtung Gunung dan Sungai Wlingi. Selain itu juga terdapat air terjun mini, serta sendang-sendang jernih yang bisa membuat hati pengunjung terpesona.

(Oleh : Triatmo, Budayawan dan Ahli Sejarah Purbalingga)

Sumber: https://kecamatanbobotsari.purbalinggakab.go.id/legenda-putri-ayu-limbasari/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu