Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Kepulauan Bangka Belitung Bangka Belitung
Legenda Pulau Kapal
- 13 November 2018
Dahulu, dikisahkan tentang sebuah keluarga yang sangat miskin. Mereka tinggal di dekat Sungai Cecuruk. Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, keluarga tersebut hanya mengandalkan hasil dari menjual buah-buahan dan dedaunan ke pasar yang didapatnya dari dalam hutan. Suami istri itu memiliki seorang anak laki-laki bernama Kulup. Kulup sangat rajin membantu orangtuanya mencari nafkah. Semua anggota keluarga saling membantu. Mereka tampak hidup bahagia meskipun menjalani hidup serba kekurangan.

Suatu hari, ayah Kulup pergi ke hutan untuk mencari rebung yang masih muda. Rebung itu rencananya untuk dimakan oleh mereka. Tapi, ketika sedang menebang rebung, ia menemukan sebuah tongkat yang berada di rumpun bambu. Pak Kulup, begitu biasanya ia disapa, mengambil tongkat itu dan ingin membuangnya. Sebelum niatnya terlaksana, ia memperhatikan tongkat itu dengan teliti. Ia menganggap tongkat itu bukan tongkat sembarangan. Karena penasaran, dibersihkan tongkat tersebut. Benar saja, setelah kotoran yang menempel berhasil dibersihkan, terlihat kilauan intan, permata, dan batu merah delima yang bertabur di tongkat tersebut.

"Siapakah pemilik tongkat ini? Pasti ia merasa kehilangan," pikir Pak Kulup kebingungan. Di tengah kebingungan, Pak Kulup memutuskan untuk membawa pulang rebung dan tongkat berharga itu. Setibanya di rumah, pak Kulup hanya melihat si Kulup yang sedang tiduran karena kelelahan mendorong kereta. Sementara itu, istrinya sedang bekerja di rumah tetangganya. Dengan perasaan yang tidak menentu, Pak Kulup bergegas menyusul istrinya di rumah tetangganya.

Setelah menjemput istrinya, dalam perjalanan pulang menuju rumahnya, Pak Kulup menceritakan kejadian yang dialaminya. Mendengar cerita itu, sang istri pun terkejut. "Bagaimana mungkin ada tongkat yang sangat berharga berada di dalam hutan belukar?" pikir Ibu Kulup.

Tidak terasa, mereka telah sampai di rumah. Pak Kulup, istrinya, dan si Kulup merundingkan benda temuan itu. "Bagaimana kalau kita simpan saja tongkat ini. Siapa tahu ada orang yang merasa kehilangan dan mencarinya," usul Pak Kulup.

"Tapi, mau disimpan dimana tongkat berharga itu Pak? Kita kan tidak punya lemari untuk menyimpannya. Jika diletakkan di luar, aku takut tongkat ini malah dicuri orang," risau istrinya.

"Bagaimana kalau kita jual saja tongkat berharga ini agar kita tidak repot menyimpannya," usul Kulup.
Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya mereka sepakat untuk menjual tongkat temuan itu. "Kulup, pergilah kau ke negeri seberang untuk menjual tongkat ini," perintah ayahnya. "Baiklah Ayah," jawab si Kulup.

Beberapa hari sudah Kulup pergi ke negeri seberang untuk menjual tongkat berharga. Akhirnya, tongkat itu pun dibeli oleh seorang saudagar kaya dengan harga yang cukup tinggi. Namun, Kulup tidak segera pulang ke rumahnya, ia memilih tinggal di rantauan menjadi orang yang kaya raya.

Kehidupan Kulup berubah total. Kini ia berteman dengan para bangsawan dan saudagar kaya. Ia pun menikah dengan salah seorang anak saudagar yang paling kaya di negeri itu. Akan tetapi, kehidupan yang serba mewah membuatnya lupa akan kampung halaman dan orangtuanya. Bertahun-tahun sudah Kulup meninggalkan desanya. Hingga suatu hari mertuanya menyuruh Kulup dan istrinya untuk berdagang ke negeri lain. Kulup pun membeli sebuah kapal besar dan mewah. Ia juga mempersiapkan anak buahnya untuk dibawanya pergi berlayar. Setelah mendapatkan restu dari mertuanya, berangkatlah Kulup beserta istri dan anak buahnya berlayar.

Ketika tiba di muara Sungai Cecuruk, Kulup teringat akan kampung halamannya. Kapal itu kemudian berlabuh di Sungai Cecuruk. Suasana kapal sangat ramai oleh suara binatang untuk perbekalannya di jalan seperti ayam, itik, angsa, burung, dan binatang lainnya. Berita kedatangan si Kulup terdengar sampai ke telinga orangtuanya. Betapa bahagianya mereka mendengar hal itu. Kerinduan mereka selama ini sebentar lagi akan terobati. Sang ibu pun sibuk menyiapkan makanan kesukaan Kulup.

Keesokan harinya, kedua orangtua Kulup pergi ke kapal untuk menemui Kulup dengan membawa makanan kesukaan Kulup. Kapal itu terlihat sangat mewah. Kedua orangtua itu tak sabar ingin bertemu dengan anak tercintanya. Setibanya di kapal, sang ibu berteriak-teriak memanggil Kulup. "Kulup anakku..., dimana kau? Ini ibu, Kulup."

Mendengar suara ibunya, Kulup tampak bingung. Ia malu jika sampai orang lain mengetahui bahwa orangtua yang berpakaian kumal dan tampak miskin itu adalah ayah dan ibu kandungnya. "Siapa kalian? Cepat pergi dari kapalku!" teriak si Kulup.

"Kami adalah ibu dan ayahmu Nak. Apa kau sudah tidak mengenali kami lagi? Ibu juga sudah membawakan makanan kesukaanmu," jawab ibu Kulup dengan nada sedih.

"Makanan apa ini? Aku tidak suka makanan kampung seperti ini. Perlu kalian tahu, orangtuaku adalah seorang saudagar kaya. Bukan gembel seperti kalian," ucap Kulup sambil membuang makanan buatan ibunya.

Mendengar kata-kata kasar dari mulut anaknya, hancurlah hati kedua orangtua itu. Mereka merasa terhina. Harapan mereka untuk melepas rindu hanya tinggal harapan. Anak yang sangat dicintainya telah berubah menjadi anak durhaka.

Setelah pergi meninggalkan kapal si Kulup, si ibu yang tidak dapat menahan amarahnya dengan emosi berkata, "Jika saudagar yang kaya raya itu adalah benar anakku si Kulup, biarlah kapal besar itu karam bersamanya!"

Kedua orangtua Kulup kemudian kembali ke rumah dengan hati yang terluka. Tidak berapa lama, setelah kepergian mereka tiba-tiba muncul badai besar dan gelombang laut yang sangat tinggi menerjang kapal si Kulup. Akhirnya, kapal besar itu pun terombang-ambing dan terbalik. Semua penumpang tewas dalam kejadian itu.

Beberapa hari kemudian, di tempat karamnya kapal milik si Kulup, muncul sebuah pulau yang menyerupai sebuah kapal. Pada waktu-waktu tertentu, di pulau tersebut terdengar suara-suara binatang bawaan si Kulup yang berada di kapalnya. Sekarang, pulau itu bernama Pulau Kapal. 

Sumber:

http://alkisahrakyat.blogspot.com/2016/07/legenda-pulau-kapal-cerita-rakyat.html

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Cara menghubungi call center ayopinjam
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
DKI Jakarta

Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.

avatar
Pinjamflexi1999
Gambar Entri
Cara membatalkan pinjaman ayopinjam
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
DKI Jakarta

Cara membatalkan pinjaman ayopinjam Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.

avatar
Pinjamflexi1999
Gambar Entri
Cara membatalkan pinjaman ayopinjam
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
DKI Jakarta

Cara membatalkan pinjaman ayopinjam: Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.

avatar
Pinjamflexi1999
Gambar Entri
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...

avatar
Gulamerah
Gambar Entri
KIDUNG LAKBOK
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Naskah Nusantara • Sunda Kuno Kidung Lakbok Kisah Kerajaan Banjarpatroman, Ramalan Abadi, dan Kelahiran Wayang Kila Kidung Lakbok adalah sebuah karya sastra lama berbentuk prosa naratif atau puisi naratif dalam bahasa Sunda yang menceritakan tentang sejarah dan legenda Kerajaan Banjarpatroman. Kerajaan tersebut dipercaya pernah berdiri di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Naskah ini sempat nyaris hilang, kemudian ditulis ulang dan dilestarikan kembali pada tahun 2013 melalui publikasi daring.   📜 Sejarah dan asal-usul Menurut naskah Kidung Lakbok, Kerajaan Banjarpatroman mengalami masa kejayaan sebelum akhirnya runtuh akibat perang saudara atau perebutan kekuasaan. Peristiwa tersebut dianggap sebagai dosa besar yang menimbulkan kutukan. Akibat perbuatan tersebut, turunlah azab berupa bencana alam besar, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir bandang. Kerajaan yang dahsyat itu akhirnya tenggelam dan berubah menja...

avatar
Gulamerah