Patung macan atau harimau di pertigaan depan kantor Kecamatan Simo, Boyolali, bukan dibangun tanpa alasan. Demikian juga dengan bentuk mulut menganga yang kini dikesankan orang seperti sedang tertawa terbahak. Mengapa harus ada patung macan di tempat itu dan mengapa juga harus bermulut terbuka?
Simo adalah nama salah satu nama kecamatan di Boyolali. Kata simo atau sima dalam bahasa Jawa artinya adalah macan atau harimau. Dalam cerita rakyat setempat, daerah tersebut dinamai Simo terkait perjalanan Sunan Kudus dari Pengging, Boyolali, menuju Kesultanan Demak.
Dikisahkan bahwa pada suatu saat, Sunan Kudus diutus oleh Sultan Demak untuk menemui Kebo Kenongo di Peggging yang menolak menghadap ke Kesultanan. Sunan Kudus pun tiba di Pengging disambut ramah oleh Kebo Kenongo, yang tak lain adalah ayah Joko Tingkir tersebut.
Namun Kebo Kenongo tetap bersikukuh menolak menghadap sultan karena masih masygul dengan hukuman mati terhadap gurunya, Syeh Siti Jenar, oleh pihak kesultanan. Padahal pesan dari Sultan Demak kepada Sunan Kudus sangat jelas; bawa menghadap, baik secara suka-rela maupun dipaksa.
Perselisihan terjadi. Terdorong rasa hormatnya kepada sang wali, Kebo Kenongo enggan melawan. Dia bahkan menunjukkan titik kelemahan tubuhnya yang bisa menyebabkan kematian jika tergores senjata. Sang Sunan menusuk titik lemah itu sehingga Kenongo menemui ajal. Keluarga maupun warga desanya tak mengetahui peristiwa itu karena kejadiannya di ruangan khusus.
Baca juga: Satu Lagi Patung Macan Tertawa, Kali ini di Boyolali Jateng
Sunan dan pengikutnya lalu kembali ke Demak melewati jalur Kali Cemoro. Dia sempat bermalam di sebuah lembah di pinggiran sungai. Namun pagi harinya dia mendapatkan kabar bahwa ribuan rakyat Pengging memburunya karena tidak terima setelah mengetahui Sunan Kudus telah membunuh pemimpin mereka.
Merasa kalah jumlah personel, Sunan Kudus kemudian menabuh sebuah bendhe atau gong kecil. Suara yang muncul dari bendhe tersebut bukan layaknnya suara nada musik gong, namun lebih meyerupai auman macan yang sedang marah. Bendhe itu terus dibunyikan sembari terus menjauh dari kejaran.
Rakyat Pengging juga menjadi ciut nyali mendengar suara auman macan. Mereka akhirnya memilih mengurungkan niat menuntut balas kepada sang sunan, karena khawatir akan dihadang atau berhadapan dengan macan yang sedang mengamuk.
Setelah kejadian itulah maka nama daerah tersebut terkenal dengan sebutan Simo. Sedangkan tempat Sunan Kudus pernah bermalam selanjutnya disebut Simo Walen, karena pernah disinggahi sebagai seorang wali.
"Pembuatan tugu macan itu sebagai tetenger (penanda) bahwa itu daerah Simo. Mengingatkan tentang asal-muasal penamaan daerah ini," kata Ribut Budi Santoso, tokoh warga Simo, Minggu (9/7/2017).
Hal serupa juga disampaikan oleh Camat Simo, Hanung Mahendra. Dia mempersilakan jika ada yang menilai bahwa patung macan itu lebih terkesan tertawa daripada menunjukkan kegarangan. Namun ditegaskannya, pembuatan patung macan dengan bentuk mulut terbuka adalah ekspresi mengaum.
"Mulut macan yang terbuka itu menggambarkan macan yang sedang mengaum. Sejarahnya kan memang seperti itu, nama simo dari suara auman macan," ujar Hanung.
"Patung macan tidak harus menakutkan, malah terlihat ramah. Dibuat dengan mulut yang terbuka itu menggambarkan macan sedang mengaum. Itu kan dikaitkan dengan penamaan daerah ini yang bersumber dari suara auman macan," kata Sumarno, warga Simo lainnya.
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa,tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan harimau. Tapi bagi kami, hutan ini seperti halaman belakang rumah sendi...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.