Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Kalimantan Selatan Kalimantan Selatan
Legenda Gunung Batu Hapu
- 25 Mei 2015 - direvisi ke 3 oleh Bangindsoft pada 12 November 2021

Cerita rakyat legenda gunung Batu Hapu berasal dari Kalimantan Selatan, Indonesia. Alkisah, hidup seorang perempuan bernama Nini Kudampai. Ia memiliki seorang anak laki-laki bernama Angui. Mereka berdua memiliki hewan peliharaan seperti ayam putih, anjing putih, dan babi putih.

Tersebutlah seorang saudagar kaya raya bernama Keling. Sang saudagar berniat menjadikan Angui sebagai anak angkatnya dan membawanya ke negerinya. Nini Kudampai merasa keberatan karena Angui adalah anak satu-satunya, namun akhirnya ia mengizinkan Angui dibawa oleh saudagar Keling.

Akhirnya saudagar Keling membawa Angui ke negerinya. Saudagar Keling sangat menyayangi Angui. Setiap hari ia memanjakan Angui. Karena dimanja, lambat laun Angui berubah menjadi anak malas. Angui selalu menolak jika saudagar Keling meminta bantuannya. Karena sudah merasa kesal dengan sifat malas Angui, saudagar Keling akhirnya mengusir Angui dari rumahnya.

Dengan sangat terpaksa, Angui pergi meninggalkan rumah saudagar Keling, orangtua angkatnya. Ia kemudian bekerja serabutan untuk menghidupi dirinya. Dengan kerja keras, dalam beberapa tahun Angui sudah berhasil menjadi seorang saudagar kaya. Bahkan kekayaan Angui telah melebihi kekayaan saudagar Keling. Dengan keberhasilannya, Angui akhirnya bisa menikahi anak perempuan Sultan. Dengan demikian, tentu saja kekayaan Angui menjadi bertambah.

Suatu ketika Angui memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Ia pulang menggunakan kapal besar dan mewah miliknya. Setiba di kampungnya, Nini Kudampai, ibu Angui segera bergegas mendatangi anaknya. Nini Kudampai sudah sangat merindukan anaknya. Sudah bertahun-tahun Nini Kudampai sangat cemas dengan nasib anaknya. Ia kini merasa gembira melihat anaknya telah berhasil menjadi seorang saudagar kaya raya.

Namun sayang, Angui merasa malu melihat ibunya yang miskin dan tua renta. Angui tidak mau mengakui ibunya. Padahal untuk meyakinkan anaknya, Nini Kudampai membawa ketiga binatang peliharaan mereka yaitu babi putih, anjing putih, dan ayam putih. Tapi karena merasa malu, Angui tetap tidak mau mengakui ibunya. Ia lantas menyuruh anak buahnya untuk mengusir Nini Kudampai.

Merasa sedih dan sakit hati, Nini Kudampai lantas mengutuk Angui dan kapal miliknya menjadi gunung. Setelah Nini Kudampai mengucapkan kutukan, tiba-tiba saja terjadi keanehan, Kapal Angui dan seluruh isinya berubah menjadi sebuah gunung batu. Kini masyarakat mengenal gunung tersebut dengan nama Gunung Batu Hapu.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Panduan Memahami Asal Usul Gresik:
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rambu Solo':
Ritual Ritual
Sulawesi Selatan

Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...

avatar
Kianasarayu