Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Timur Situbondo
Legenda Gunung Baluran
- 12 Juli 2018
Taman Nasional Baluran selain sebagai kawasan konservasi ternyata juga menyimpan legenda yang cukup menarik. Legenda ini sangat erat kaitannya dengan daerah Cungking, Banyuwangi.
         
Legenda ini berwal dari seorang anak kecil pendatang yang mempunyai kesaktian luar biasa kemudian diberi nama Cungking (bahasa Jawa : gampang dicangking, yang kemudian terkenal dengan buyut Cungking). Buyut Cungking mengabdi pada perempuan yang tidak mempunyai suami dan anak yang bernama Buyut Barat. Sebagai seorang pengabdi ia mengerjakan semua pekerjaan yang diberikan kepadanya. Salah satu tugasnya dalah menggembalakan sepasang kerbau milik Buyut Barat. Setiap pukul 05.00 WIB sepasang kerbau ini digembalakan dari Cungking ke Baluran. Setelah pukul 06.00 WIB sepasang kerbau ini ke Cungking untuk mebajak sawah, apabila sudah selesain tugasnya maka dibawa pulang lagi ke Baluran. Tiap perjalanan Cungking-Baluran selalu melewati Watu Dodol dan selalu diawasi penjaga Watu Dodol yang bernama Cinde Kesilir atau Cinde Kanginan. Jadi Buyut cungking ini tinggalnya di Cungking, Banyuwangi hanya pada hari Senin dan Jumat sedangkang pada hari-hari yang lain dihabiskan di Baluran. Sepasang kerbaunya dikandangkan di Tegal Keramat.
          Pada saat Buyut Cungking menggembalakan kerbaunya dating waktu sholat dhuhur. Buyut Cungking adalah orang yang taat dalam menjalankan ibadah, maka dimanapun dia berada selalu melaksanakan kewajibannya kepada Sang Pencipta. Pada saat berniat untuk mengambil air wudlu, di dekat tempat menggembalakan kerbaunya terdapat 2 (dua) sumber air yaitu sumber air yang terletak di bukit dan sumber air yang ada di dekat pantai. Pada saat Buyut Cungking naik ke bukit dia melihat kolam yang penuh dengan air, kemudian berkata : “ Kebek, kolam iki”. Akhirnya dikemudian hari dinamakanlah bukit itu dengan sebutan Bekol, diambilo dari singkatan perkataan tersebut. Sedangkan sumber air yang lain terdapat di dekat pantai, pada saat mengambil air wudlu Buyut Cungking kurang hati-hati hampir saja dia terpeleset tetapi tetapi tidak sampai terjatuh karena berpegangan pada kayu Lamer. Tetapi sungguh ajaib kayu Lamer tersebut setelah dipegang Buyut Cungking berubah menjadi kayu Manting. Buyut Cungking pun berkata :” Semua anak cucunya nanti kalau datang ke Baluran harus besedia untuk membersihkan dan mandi di sumber ini “ kemudian diberilah nama Sumber Manting. Konon Sumber Manting ini memiliki kekuatan magis, bagi siapa saja yang cuci muka ataupun mandi akan awet muda dan banyak rejeki.
          Buyut Cungking sambil menggembalakan kerbaunya senang bermain perosotan di bukit-bukit. Salah satunya di bukit Talpat yang berasal dari adanya kayu Talok yag jumlahnya hanya empat batang di bukit tersebut. Sehingga diberi nama Talpat (bahasa Jawa : talok papat)
          Nah, asal usul nama Baluran sendiri ini berawal dari tempat bekas perosotan Buyut Cungking. Pada saat Buyut Cungking menggembalakan kerbaunya, dia bermain-main di daerah Talpat disana terdapat sumber air. Buyut Cungking mandi dan bermain perosotan di bukit yang ada didekat talpat tersebut. Bekas tempat perosotan tersebut membentuk balur-balur (bahasa Jawa : mbalur-mbalur) maka daerah tersebut dinamakan Baluran. Sedangkan gunung yang paling besar dan menonjol di tempat tersebut dinamakan gunung Baluran.
          Pada saat berada di Talpat, Buyut Cungking bertemu dengan ratu mahluk halus yang bernama Ratu Belawan. Ratu tersebut merasa heran, kemudian berkata “ disini kok terdapat orang cungking? “ ada keperluan apa disini? “. Buyut Cungking menjawab “ keperluan saya disni untuk mandi dan menggembalakan kerbau.“ Wah kebetulan, saya ini juag ada keperluan sama kamu”. Saya mau punya hajat dan mau minta tolong sama kamu untuk memotongkan kerbau.” Besok pukul 07.00 WIB kamu datang ke sini untuk memotong kerbau saya.” Buyut Cungking menyanggupi pekerjaan itu, kemudian dia cepat-cepat pulang. Tetapi di luar dugaan ternyata pukul 05.00 WIB Ratu Belawan kedatangan tamu mahluk halus dari kerajaan Bugis dan tamu itu yang memotong kerbau milik Ratu Belawan. Akhirnya Ratu Belawan merasa tidak enak karena sudah terlanjur janji dengan Buyut Cungking.
          Pada keesokan harinya sesuai dengan perjanjian Buyut Cungking datang tepat pada waktunya ke Baluran. Sesampainya disana Ratu Belawan minta maaf karena kerbaunya telah disembelih orang lain. Buyut Cungking merasa kecewa dengan peristiwa itu. Kemudian Buyut Cungking masuk ke dapur untuk membuktikan kebenarannya. Ternyata di dapur sudah terdapat abon, empal dan gulai, karena merasa kecewa Buyut Cungking mengucapkan sumpah : “ abon jadi kijang, empal jadi mejangan dan gulai jadi banteng “ dan sumpah itu menjadi kenyataan. Setelah bersumpah demikian Buyut Cungking pergi begitu saja. Melihat kejadian tersebut Ratu Belawan menyuruh bawahannya yang disebut punawakan untuk mengejar Buyut Cungking. Karena merasa kesal, jengkel dan kecewa atas kejadian tersbut, Buyut Cungking berhenti di suatu tempat di dekat Talpat. Tiba-tiba saja Buyut Cungking menghunus senjata tajam 7 (tujuh) pusaka dan mengiriskannya di rambut bagian kepala. Potongan rambut tersebut jatuh dan sungguh menakjubkan berubah menjadi seorang yang mirip Buyut Cungking tetapi dalam keadaan yang sudah mati. Setelah itu Buyut Cungking pergi untuk kembali ke Cungking. Punakawan suruhan Ratu Belawan mencari Buyut Cungking ke seluruh penjuru tetapi tidak ketemu dengan Buyut Cungking. Namun tiba-tiba dia melihat seseorang yang tergeletak di bawah pohon, dengan tergesah-gesah punakawan tersebut segera menghampirinya untuk melihat siapa yang tergeletak itu. Ternyata seseorang tersebut adalah mirip sekali dengan Buyut Cungking dan sudah dalam keadaan mati. Punakawan tersebut mengira itu adalah Buyut Cungking diapun duduk terdiam sambil merenung. Dengan perasaan yang sangat sedih dia menguburkan mayat tersebut. Kuburan itu dinamakan kuburan si lancing atau sering disebut pasarean si lancing yang terletak + 1 km dari Bekol kea rah Talpat. Karena rasa sedih yang begitu mendalam dan rasa putus asa tidak bisa mebawa pulang Buyut Cungking, punakawan tersebut akhirnya mengambil jalan pintas dengan bunuh diri.
          Pada Akhir serita Buyut Cungking menghilang dengan hanya meninggalkan bajunya di daerah Cungking dan tak seorang pun tahu kemana perginya Buyut Cungking. Pada tempat Buyut Cungkin meninggalkan bajunya itulah kemudian dibangun pesarean yang dikeramatkan.
          Untuk menghormati dan mengenang Buyut Cungking, orang-orang yang masih keturunan Buyut Cungking selalu memperingati setiap tanggal 15 Sura dan 1 Syawal sebagai kegiatan adat istiadat dari nenek moyang mereka yang harus dilestarikan.
          Untuk tanggal 15 Sura melakukan acara ritual di Baluran dengan tujuan untuk meminta keselamatan, ziarah ke Manting, Keramat, Pesarean si Lancing dan tempat-tempat yang mempunyai kaitan sejarah dengan Buyut Cungking. Mebersihkan tempat-tempat tertentu yang ada di Baluran. Acara selamatan ini wajib mempersembahkan 3 (tiga) macam makanan yaitu : Jenang pangapura, tumpeng panggang ayam dan kupat lepet.
          Sedangkan pada 1 Syawal di Baluran mereka mengadakan silaturahmi, kegiatan ini dilakukan setelah 7 hari lebaran ketupat. Diantara 2 (dua) acara ritual ini yang paling banyak diminati adalah 15 Sura, karena acara ini dipandang sacral dan membawa berkah bagi yang mengikutinya.
 
Sumber: http://taufihidayattebbie.blogspot.com/2012/05/legende-gunung-baluran-situbondo-jawa.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis
Motif Kain Motif Kain
Papua

Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu