Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara Sulawesi Tenggara
LA ONTO-ONTOLU
- 20 Juli 2018
La Onto-Ontolu adalah putra sulung seorang raja di bulan. Suatu ketika, ia turun ke bumi dengan menyamar menjadi sebutir telur. La onto-ontolu dalam bahasa Buton (Sulawesi Tenggara) berarti telur.
Setelah tinggal di bumi, ia menikahi putri bungsu Raja Buton. Namun, pernikahan mereka membuat keenam kakak kandung putri bungsu iri hati dan dendam. Suatu hari, mereka berniat untuk mencelakai La Onto-Ontolu.
 
LA%2BONTO-ONTOLU.png

Dikisahkan bahwa di planet bulan ada seorang pemuda perkasa dan sakti mandraguna bernama Sumantapura. Ia adalah putra sulung raja di bulan. Dengan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki, Sumantapura kerap mengelilingi angkasa raya untuk melihat-lihat suasana. Suatu ketika, ia sempat menyaksikan keindahan bumi. Oleh karena kagum dan penasaran, maka meluncurlah ia ke bumi dengan menyamar menjadi sebutir telur.
 
Setiba di bumi, Sumantapura hinggap di petarangan (tempat ayam mengerami telurnya) milik seorang nenek. Rupanya, kehadiran Sumantapura mengundang perhatian ayam-ayam yang ada di kandang itu. Hewan piaraan nenek itu pun berkotek bersahut-sahutan sehingga menimbulkan suara gaduh.
  • “Kok… kok… kotek! Kok… kok… kotek!” demikian suara kotek ayam itu.
Suara gaduh kotekan ayam itu terdengar oleh si Nenek yang sedang menyiangi rumput di kebun dekat pondoknya.
  • “Hai, apa yang terjadi dengan ayam piaraanku?” gumam nenek itu, “Wah, jangan-jangan telur ayamku dimakan burung gagak.”
Nenek itu pun bergegas pulang ke pondoknya. Alangkah terkejutnya ia setelah memeriksa semua telur ayamnya di petarangan. Ia melihat sebutir telur raksasa tergeletak di antara butiran-butiran telur ayam tersebut.
  • “Wow, besar sekali telur ini!” takjub nenek itu, 
  • “Baru kali ini aku melihat telur sebesar ini.”
Tanpa berpikir panjang, nenek itu segera memasukkan telur raksasa itu ke dalam keranjang lalu membawanya masuk ke dalam pondok. Setelah itu, ia kembali ke kebun untuk melanjutkan pekerjaannya yang hampir selesai. Saat hari menjelang siang, ia pulang ke pondoknya untuk makan siang. Hari itu, ia amat lapar. Tapi, alangkah terkejutnya ia karena semua persediaan makanannya habis.
  • “Hai, siapa yang menghabiskan semua makananku?” gumamnya dengan heran.
Ketika nenek itu hendak memasak lagi, ternyata air di tempayannya juga habis tak tersisa setetes pun. Ia pun semakin heran dan bingung.
 
Pada esok harinya, nenek itu mengalami kejadian yang serupa. Karena penasaran, ia pun berniat menjebak pelakunya. Ia menyiapkan makanan, sirih, dan tembakau di dapur. Setelah itu, berangkatlah ia ke kebun. Begitu nenek itu pergi, keranjang yang berisi telur perlahan-lahan terbuka penutupnya dan keluarlah seorang pemuda perkasa dari dalamnya yang tidak lain adalah Sumantapura. Dengan perasaan senang, cepat-cepatlah ia mandi lalu melahap habis makanan tersebut tanpa menyisakan sedikit pun.  Setelah itu, ia mencoba mencicipi sirih dan tembakau yang juga tersedia di situ. Oleh karena tidak terbiasa makan sirih, kepalanya pun menjadi pusing, matanya berkunang-kunang, dan akhirnya jatuh pingsan.
 
Menjelang siang, nenek itu kembali dari kebunnya. Ia amat terkejut saat mendapati sesosok pemuda yang sedang tergeletak di ruang dapurnya. Mulanya, ia mengira pemuda itu sudah meninggal dunia. Setelah diperiksa, ternyata laki-laki yang tidak dikenalnya itu hanya pingsan. Nenek itu pun berupaya menyadarkannya. Begitu siuman, Sumantapura terkejut melihat seorang nenek yang sedang duduk di sampingnya. Dengan perasaan malu-malu, ia pun meminta maaf kepada nenek itu.
  • “Maafkan saya, Nek. Sayalah yang telah menghabiskan semua makanan Nenek,” ucap Sumantapura.
  • Nenek hanya tersenyum, lalu berkata, 
  • “Sudahlah, Cucuku! Tidak apa-apa.”
  • “Terima kasih, Nek,” ucap Sumantapura.
  • “Tapi, kalau boleh Nenek tahu, kamu siapa dan berasal dari mana?” tanya si Nenek.
Sumantapura pun menceritakan asal usulnya hingga keberadaannya di pondok itu. Betapa senangnya hati si Nenek setelah mengetahui bahwa pemuda perkasa yang ada di hadapannya adalah putra Raja Bulan. Hatinya pun kian gembira saat Sumantapura bersedia tinggal bersamanya. Sejak itu pula, si Nenek mulai memanggil pemuda itu dengan panggilan La Onto-Ontolu, yang berarti “telur”.
 
Sejak tinggal bersama La Onto-Ontolu, hidup nenek itu semakin membaik. Putra sulung Raja Bulan itu rajin membantunya bekerja di kebun. Bahkan dengan kesaktiannya, ia mengubah pondok nenek itu menjadi rumah mewah lengkap dengan perabotannya. Keduanya pun hidup bahagia dan saling menyayangi. Namun, La Onto-Ontolu merasa bahwa kebahagiaan tersebut terasa kurang tanpa kehadiran seorang istri. Maka sebab itulah, ia meminta kepada nenek itu untuk dilamarkan salah satu dari tujuh putri Raja Buton yang ada di istana.
  • “Nek, bolehkah saya minta tolong untuk dilamarkan putri sulung Raja Buton?” pinta La Onto-Ontolu.
Nenek itu pun menerima permintaan La Onto-Ontolu. Maka, berangkatlah ia seorang diri ke istana raja. Namun, ketika menyampaikan lamaran tersebut di hadapan raja beserta keenam putrinya, ia tidak menyebut nama asli putra Raja Bulan itu karena sudah terbiasa memanggilnya dengan La Onto-Ontolu.
  • “Ampun, Baginda! Hamba datang kemari untuk menyampaikan lamaran cucu saya La Onto-Ontolu kepada putri sulung Baginda,” ungkap nenek itu seraya memberi hormat.
Putri sulung raja yang mendengar nama orang yang melamarnya itu tentu saja tidak mau terima.
  • “Tidak, Yah. Aku tidak mau menikah dengan telur,” tegas putri sulung raja.
Dengan perasaan kecewa, si Nenek pulang ke rumahnya untuk menyampaikan kabar buruk itu kepada La Onto-Ontolu. Mendengar kabar buruk tersebut, La Onto-Ontolu tidak putus asa. Keesokan harinya, ia meminta tolong lagi kepada si Nenek agar kembali ke istana untuk melamar putri kedua raja, dan ternyata putri kedua raja itu juga menolak. Begitu pula pada hari-hari berikutnya, nenek itu bolak-balik ke istana untuk menyampaikan lamaran La Onto-Ontolu hingga putri raja keenam raja, namun hasilnya tetap nihil.
 
Meskipun tinggal putri bungsu yang menjadi harapan satu-satunya, La Onto-Ontolu tidak pernah putus asa. Ia kembali meminta kepada nenek itu untuk menyampaikan lamarannya kepada putri bungsu.
  • “Maaf, Nek! Jika Nenek tidak keberatan, saya minta tolong sekali lagi untuk dilamarkan putri bungsu raja,” pinta La Onto-Ontolu, 
  • “Siapa tahu dia mau menerima lamaran saya.”
Nenek itu menghargai tekad keras La Onto-Ontolu. Alhasil, putri bungsu pun bersedia menerima lamaran itu. Sementara itu, keenam saudara putri bungsu yang mengetahui hal tersebut mengolok-olok dan menganggap adiknya itu tidak waras lagi.
  • “Hai, Bungsu! Apakah kamu sudah gila? Untuk apa menikah dengan telur?” sindir putri sulung.
  • “Dasar memang nasibmu ditakdirkan menikah dengan telur!” imbuh putri kedua raja.
Meskipun disindir oleh keenam saudaranya, si Bungsu tetap sabar dan akan ikhlas menerima La OntoOntolu apa adanya.
 
Sementara itu, si Nenek merasa gembira karena lamaran cucunya diterima. Ia pun bergegas pulang untuk menyampaikan berita gembira itu kepada La Onto-Ontolu yang menyambutnya dengan perasaan bahagia pula.

Keesokan harinya, nenek itu membawa La Onto-Ontolu kepada putri bungsu raja dalam wujud sebutir telur. Dengan senang hati, putri bungsu pun menerima telur itu lalu menyimpannya di kamar. Sejak itulah, ia selalu mengalami kejadian aneh di dalam kamarnya. Setiap kali ia hendak mandi di pagi hari, air di bak mandinya selalu habis. Padahal, bak itu selalu penuh air pada sore harinya. Karena penasaran ingin mengetahui pelakunya, suatu malam ia berpura-pura tidur. Begitu tengah malam, ia pun mendengar gemericik air di dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian, seorang pemuda perkasa keluar dari kamar mandi itu lalu berjalan menuju ke pembaringannya.
  • “Hai, kamu siapa? Berani-beraninya kamu menyusup masuk ke dalam kamarku,” tegur putri bungsu saat melihat pemuda itu mendekatinya.
Pemuda yang tak lain adalah La Onto-Ontolu itu tersenyum. Ia lalu duduk di samping sang Putri Bungsu dan menceritakan asal usulnya. Mendengar kisah itu, maka tahulah ia bahwa ternyata pemuda tampan itu adalah calon suaminya. Dengan persetujuan raja dan permaisuri, perkawinan putri bungsu dengan La Onto-Ontolu pun dilangsungkan.
 
Rupanya, perkawinan putri bungsu dengan pemuda tampan itu membuat keenam kakaknya iri hati dan dendam. Mereka berniat untuk membuat adik bungsunya itu menderita. Suatu hari, mereka mengajak Putri Bungsu dan suaminya untuk memancing di laut. Selain membawa bekal makanan, mereka juga membawa sirih dan tembakau. Setiba di tengah laut, putri sulung raja sengaja membuang puan (tempat sirih) kesayangan milik putri bungsu ke dalam laut. Tak ayal, putri bungsu pun menangis dan meminta kepada suaminya untuk mengambil puan itu di dalam laut. La Onto-Ontolu yang amat sayang kepada istrinya langsung terjun ke dalam air. Namun, begitu ia terjun, keenam kakak putri bungsu segera mendayung perahu menuju ke pantai. Putri bungsu pun menangis tersedu-sedu karena suaminya ditinggal sendirian di tengah laut.
 
Setiba di istana, keenam putri raja merasa amat puas melihat adiknya karena kehilangan suami. Sementara itu, putri bungsu kembali ke kamarnya dengan perasaan hancur. Ia hanya bisa pasrah atas peristiwa yang menimpa suaminya. Hingga tengah malam, putri bungsu yang malang itu hanya duduk termenung memikirkan nasib laki-laki tampan yang amat dicintainya itu. Di tengah-tengah lamunannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
  • “Tok… Tok… Tok…! Dinda, tolong bukakan pintunya!” seru suara seorang laki-laki di depan pintu.
  • “Hai, sepertinya aku mengenal suara orang itu,” gumam putri bungsu. 
  • “Ah, tidak mungkin dia suamiku.”
Putri bungsu enggan membuka pintu kamarnya karena mengira suaminya telah tewas di tengah laut. Namun, setelah laki-laki itu beberapa kali memanggilnya, maka ia pun mulai yakin bahwa suara itu adalah suara suaminya. Maka, cepat-cepatlah ia membuka pintu. Alangkah terkejutnya ia saat melihat suaminya kembali dengan membawa puan emas kesayangannya.
  • “Oh, ternyata Kanda masih hidup. Maafkan Dinda telah membuat Kanda menunggu lama di depan pintu!” ucap putri bungsu seraya memeluk suaminya. 
  • “Sudahlah, Dinda. Lupakanlah semua peristiwa yang telah terjadi,” ujar La Onto-Ontolu.
Putri bungsu sangat bahagia karena bisa bertemu kembali dengan suami tercintanya. Merasa tidak nyaman tidak tinggal di istana, pada malam itu juga La Onto-Ontolu mengajak istrinya ke bulan tanpa sepengetahuan keluarga istana. Mereka pun hidup rukun dan bahagia. Sementara itu, keenam kakak putri bungsu mendapat hukuman dari raja karena diketahui telah membuat putri bungsu menderita sehingga pergi dari istana.
 
Sumber: http://agathanicole.blogspot.com/2017/11/la-onto-ontolu.html
 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum