Makanan Minuman
Makanan Minuman
Kue Jawa Tengah Magelang
Kue Wajik Ketan Khas Magelang
- 8 Juli 2015

                                http://2.bp.blogspot.com/-AN_zkpzUWq0/UdrqGU00ZQI/AAAAAAAAAEM/iTSrfb_h01o/s1600/resep+kue+wajik+ketan.jpg

 

      Kue Wajik Ketan berasal dari Magelang Jawa Tengah hingga sekarang kue ini masih tetap eksis menjadi salah satu makanan tradisional yang sekaligus sebagai jajanan oleh-oleh khas Magelang.  Kue ini pada dasarnya menggunakan bahan baku ketan dan cukup mudah untuk dibuat sendiri, sering dihidangkan untuk mengisi acara-acara syukuran atau pertemuan. Kali ini kita akan mencoba membuat sendiri dengan Resep Wajik Ketan dengan rasa gula merah bersama bumbu-bumbu lainnya, Kue ini sering kita jumpai di pusat toko jajanan tradisional. Berikut resep wajik ketan

Bahan Kue Wajik Ketan:
  • 3 lembar daun pandan
  • 100 gram gula pasir
  • 250 gram gula merah
  • 750 cc santan dari 1 ½ butir kelapa
  • 800 gram beras ketan putih
  • Garam dapur secukupnya
  • Daun pisang secukupnya, sebagai alas
  • Minyak goreng secukupnya, untuk mengoles
 
Cara Membuat Wajik Ketan:
  1. Langkah pertama beras ketan dicuci dulu setelah itu direndam selama 1 jam, lalu dikukus setengah matang.
  2. Siapkan santan kelapa yang sudah diperas kemudian memasaknya bersama gula pasir, gula merah, daun pandan, dan garam hingga mendidih.
  3. Setelah santan mendidih masukkan ketan yang selesai dikukus tadi aduk-aduk terus hingga santan mengering dan ketan telah matang, lalu diangkat.
  4. Untuk tempat kue nya siapkan loyang dengan diberi alas daun pisang terlebih dahulu di atas loyang atau tampah, dan sebelumnya olesi permukaan daun dengan minyak goreng.
  5. Tuangkan adonan Kue Wajik pada tampah atau loyang yang telah disiapkan tadi, dengan cara meratakan kue sambil ditekan-tekan agar teksturnya padat, tunggu beberapa menit sampai dingin.
  6. Setelah dingin kemudian wajik baru bisa dipotong sesuai keinginan dengan bentuk persegi ukuran 4 cm x 6 cm (kira-kira untuk 60 potong).
     Setelah membaca cara membuat wajik ketan diatas pasti bagi ibu-ibu mengerti cukup mudah bukan, wajik merupakan penganan yang enak, manis dan cukup mengenyangkan, sehingga tidak membosankan bagi kita yang sering memakannya. Selamat membuat sendiri di rumah untuk menambah pengalaman tentang membuat kue dan mencicipi sendiri hasilnya.
 
 
RM/Toko yang Menyediakan:
 
Ny. Pang
Cake Shop
Address: Jl. Pemuda No.71, Pucungrejo, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah 56414
Phone: (0293) 587195
 
 
Sumber: http://www.werkudoro.com/2013/07/resep-kue-wajik-ketan-dan-cara.html
 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker