Malang dikenal sebagai kota penghasil apel. Dengan buah ini, banyak olahan khas Malang yang bermunculan. Seperti Kue Sus Keju Apel. Kue ini cocok disajikan saat santai atau ada hajatan.
Bahan-bahan:
Bahan Kulit Sus: 100 gr margarin 200 ml air 1/4 sdt garam 125 gr tepung terigu protein sedang 200 gr telur, dikocok lepas 50 gr keju cheddar parut kasar 50 gr keju cheddar parut halus untuk taburan
Bahan Isi: 375 ml susu cair 110 gr gula pasir 1/2 sdt garam 65 gr maizena dan 3 sendok makan air, dilarutkan 2 kuning telur 1/2 sdm margarin 3/4 sdt pasta vanila 150 gr apel malang, dipotong kotak kecil, campur dengan 1 sdm air jeruk nipis
Cara membuat: 1. Kulit Sus: rebus margarin, air, dan garam sambil diaduk sampai mendidih. Matikan api. 2. Tambahkan tepung terigu. Aduk rata. Nyalakan api kecil. Aduk sampai kalis. Angkat dan dinginkan. 3. Masukkan telur sedikit-sedikit sambil dikocok rata. Tambahkan keju cheddar parut. Aduk rata. 4. Masukkan dalam kantung plastik segitiga. 5. Semprot tanpa spuit di loyang yang dioles margarin. Taburkan keju cheddar parut. 6. Oven dengan api bawah suhu 200 derajat Celsius 25 menit sampai matang. 7. Isian: rebus susu cair, gula pasir, dan garam sambil diaduk sampai mendidih. Kentalkan dengan larutan maizena. Masak sambil diaduk sampai meletup-letup. 8. Masukkan kuning telur. Aduk rata. Tambahkan margarine, pasta vanila, dan apel. Aduk rata. 9. Belah dua sus, semprotkan isi ke dalamnya. Tata di piring saji dan hidangkan.
Sumber: http://sajiansedap.grid.id/Kue/roti-pastry-snack/sus-keju-apel
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara