Camilan khas Bengkulu ini memang pantas dinamakan kue siput karena bentuknya yang seperti siput. Banyak sekali orang yang menggemari kue ini, biasanya selalu hadir pada saat Hari Raya di rumah-rumah warga. Kue siput terbuat dari tepung dengan isi kacang yang digulung seperti siput. Rasanya sangat renyah, ada yang asin da nada juga yang manis. Berikut ini bahan dan cara membuatnya.
Bahan-bahan :
1 kg tepung terigu
1 scahet mentega/margarin 200 gr
2 gelas air
Kacang tanah untuk isi
Cara membuat :
1. Campurkan terigu dan mentega. Uleni kemudian tambahkan air sedikit demi sedikit sehingga adonan kalis. Giling tipis adonan, lalu potong-potong ukuran sekitar 1,5 cm x 2 cm. Jangan lupa taburkan tepung di bawah adonan agar tidak lengket satu sama lain ketika digulung.
2. Gulung kacang agar terselimuti adonan. Kacang tanahnya agak ditekan sedikit agar tidak mudah lepas saat digoreng.
3. Jika sudah semuanya, baru kita siap menggoreng. Atau lebih baik jika dikerjakan oleh dua orang. Yang satu menggulung dan yang satu lagi menggoreng. Panaskan minyak, kemudian masukkan sekitar 3-4 sdm gula pasir ke dalam minyak.
4. Aduk-aduk lalu masukkanlah adonan kue yang sudah digulung dengan kacang. Aduk aduk terus agar gula menempel rata pada kue. Pada saat menggoreng akan terdengar letusan-letusan kecil seperti ketika kita sedang menggoreng kacang.
5. Kalau dirasa sudah masak angkat. Tiriskan sebentar. Lalu cepat pisah-pisahkan kue yang berbalut gula tersebut. Kalau terlalu lama didinginkan, mereka akan menyatu karena lapisan gulanya lengket satu sama lain.
6. Kue Siap dihidangkan.
Sumber :
Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng. Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng. Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland