Sagu merupakan tanaman asli dari papua dan Maluku yang mana ekstrak sagunya bisa digunakan sebagai bahan makanan. Ekstraksi sagu yang akan menghasilkan pati dari umbi atau batangnya membutuhkan mesin pengolahan sagu. Dengan mesin pengolah sagu tersebut menghasilkan tepung sagu. Tepung sagu dapat digunakan untuk membuat beberapa jenis makanan yang kaya akan karbohidrat. Sehingga dapat dikatakan sagu dapat menggantikan nasi sebagai pengganti karbohidrat dalam konsumsi masyarakat Indonesia.
Olahan makanan dari sagu biasanya membuat perut terasa kenyang karena kandungan karbohidrat tadi. Kebanyakan sagu diolah menjadi variasi makanan yang manis-manis karena tekstur yang lengket. Salah satu bentuk olahan dari tepung sagu ini adalah Kue Sagu Keju.
Resep Kue Kering Sagu Keju
Untuk sekitar 150 buah kue sagu keju atau lebih tergantung besar kue yang anda buat :
Bahan I:
– 620 gram tepung sagu (pastikan tepung sagu dan bukan tepung tapioka) *)
– 5 lembar daun pandan, potong sepanjang 10 cm
– 20 gram susu bubuk full cream merk apapun
– 200 gram keju edam parut atau keju cheddar lainnya
Bahan II:
– 200 gram mentega Wijsman atau merk mentega lainnya
– 100 gram margarine Blue Band (resep asli menggunakan 50 gram Hollman butter dan 50 gram margarine)
– 270 gram gula bubuk (proses gula pasir dengan blender hingga halus)
– 1 sendok teh vanilla ekstrak atau 1/2 sendok teh vanilla essence atau 1/4 sendok teh vanili bubuk
– 1/4 sendok teh garam
– 1/4 sendok teh emplex (Rexa Cookies), optional **)
– 100 ml santan kental instan (saya pakai Kara), resep asli 80 ml
Bahan III:
– 3 butir kuning telur
Bahan IV (saya tidak pakai):
– kacang mete cincang
– keju parut untuk taburan diatas kue
*) Tepung sagu di resep bisa diganti dengan tepung garut atau arrowroot atau biasa disebut dengan tepung ararut.
**) Emplex adalah bahan tambahan pangan berjenis emulsifier, berbentuk bubuk putih dan berfungsi untuk merenyahkan kue dan membuat kue memiliki masa simpan lebih lama
Cara membuat:
Note: jika kondisi pucat dan mengembang di proses susah untuk tercapai maka kocok hingga adonan menjadi lembut saja.
Sumber: https://www.rumahmesin.com/cara-membuat-kue-sagu/
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...