Masih seputar kue tradisional Nusantara yang seakan-akan tiada habisnya untuk dibahas, karena di negeri kita yang tercinta ini kue tradisional sangatlah banyak jumlahnya dari Sabang sampai Meuroke hampir disetiap daerah memiliki kue khas tradisional masing-masing. Jika sebelumnya kami pernah membahas kue Lumpang yang bentuknya cukup unik karena ada cekungan pada bagian tengahnya, maka untuk artikel ini kami juga akan membahas kue tradisional lain yaitu yang bernama kue Sagon Kelapa.
Sesuai dengan namanya, kue ini terbuat dari adonan kelapa parut yang dipadukan dengan tepung ketan, kemudian dimasak dengan cara panggang sehingga menghasilkan kue dengan cita rasa yang khas. Namun selain dari pada itu ada juga kue Sagon Kelapa yang dimasak dengan cara di bakar, sehingga perbedaan cara memasak tersebut juga akan menghasilkan cita rasa yang berbeda, yang keduanya juga sama-sama enak untuk kita jadikan camilan keluarga maupun hidangan untuk tamu.
Secara umum kue ini memiliki bentuk oval, namun dalam perkembangannya tentu saja kue ini bisa dibentuk sesuai selera bagi yang membuatnya. Rasa dari kue ini sendiri adalah manis agak gurih dengan aroma kelapa sehingga akan membuat kita akan terasa selalu ingin memakannnya hingga habis, dan disukai oleh kalangan anak-anak kecil hingga orang-orang dewasa.
Untuk membuat kue Sagon Kelapa seperti ini sebenarnya cukup mudah dan tidak membutuhkan bahan yang banyak, oleh karena itu bagai anda yang ingin membuat sendiri kue seperti ini. Maka pada artikel ini kami juga akan sedikit berbagai tentang resep sederhana dan cara membuat kue Sagon Kelapa, yang merupakan salah satu kue tradisional legendaris Indonesia.
Resep Kue Sagon Kelapa
600 gram kelapa parut panjang kemudian di sangrai
500 gram tepung ketan
1 sendok kecil garam
350 gram gula pasir
100 ml air
Cara membuat
1. Campurkan beberapa bahan seperti kelapa parut sangrai, tepung ketan, gula dan garam.
2. Jika sudah berilah air sedikit demi sedikit kemudian aduklah merata.
3. Ambilah 1 sendok makan adonan isikan kedalam cetakan, kemudian padatkan kira-kira menjadi setebal 1 cm
4. Jika sudah semuanya keluarkan dan letakan pada loyang
5. Masukan kedalam oven kemudian panggang dengan suhu 150°C kira-kira 25 menit sampai kering dan matang.
6. Jika sudah keluarkan dan tunggu hingga dingin, baru kue Sagon Kelapa bisa disajikan.
Sumber : http://kiostips.blogspot.co.id/2013/05/resep-kue-tradisional-sagon-kelapa.html
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...