Bahan Bahan Untuk Membuat Kue Lapis Purworejo
185 gram tepung beras
150 gram gula pasir
1/2 sendok teh garam
7 tetes pewarna hijau
800 ml santan yang diambil dari 1/2 butir kelapa
1/8 sendok teh vanili bubuk
Cara Membuat Kue Lapis Purworejo
Siapkan wadah yang akan digunakan untuk membuat adonan. Lalu masukan bahan-bahan seperti misalkan tepung beras, garam, gula dan vanili bubuk.
Aduk sampai merata campuran bahan tersebut.
Ambil santan yang sudah anda siapkan.
Kemudian tuangkan santan sedikit demi sedikit ke dalam adonan sambil diaduk-aduk sampai merata dan adonan licin.
Apabila adonan sudah selesai dibuat, silahkan bagi adonan tersebut menjadi dua bagian.
Tambahkan pewarna makanan hijau ke dalam salah satu adonan. Lalu aduk-aduk sampai merata. Sedangkan untuk adonan yang lainnya dibiarkan berwarna putih. Jika sudah sisihkan adonan terlebih dahulu.
Cara Membuat Kue Lapis Tepung Beras Siapkan loyang yang akan digunakan untuk mengukus kue lapis kali ini.
Kemudian olesi loyang dengan menggunakan minyak dan alasi dengan alas plastik.
Setelah itu, panaskan loyang tersebut dalam kukusan yang sudah anda siapkan.
Tunggu sampai loyang benar-benar panas.
Setelah panas, tuangkan sedikit adonan putih ke dalam loyang.
Kukus adonan selama kurang lebih 5 menit atau sampai tekstur adonan menjadi mengeras.
Jika sudah seperti itu, tuangkan kembali adonan.
Namun adonan kedua yang dituangkan kali ini yaitu adonan berwarna hijau.
Tuangkan adonan hijau ini di atas adonan putih.
Kukus sampai teksturnya keras.
Jika adonan hijau sudah mengeras, kembali tambahkan adonan putih. Kukus kembali sampai mengeras.
Lakukan langkah yang sama dan berulang dengan selang seling adonan hingga adonan habis.
Setelah adonan habis, agar kue lapis yang anda buat ini benar-benar matang, anda harus mengukusnya selama kurang lebih 10 menit.
Kemudian setelah kue matang, matikan kompor dan angkat. Diamkan beberapa saat hingga kue dingin.
Setelah dingin potong-potong dengan ukuran dan bentuk sesuai selera anda.
Terakhir, anda bisa langsung menyajikannya pada piring atau tempat saji yang sebelumnya sudah anda siapkan.
Sumber: https://selerasa.com/resep-dan-cara-membuat-kue-lapis-tepung-beras-yang-paling-enak-lezat-manis-dan-kenyal | Selerasa.com
Layanan Halo BNI tersedia selama 24 jam penuh setiap hari dan dapat diakses melalui WhatsApp ( 081252934601 ) info lebih lanjut.Layanan Halo BNI tersedia selama 24 jam penuh setiap hari dan dapat diakses melalui WhatsApp ( 081252934601 ) info lebih lanjut.
GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...
Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...
SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...