Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Gorontalo Gorontalo
Kue Kering Coklat Karawo
- 3 Februari 2018

Photo

 

Bahan-bahan (120 porsi)
  • 5 butir kuning telur rebus
  • 160 gr Gula Halus diayak (Sesuai selera tapi kisaran 150gr - 200gr. Jangan terlalu rendah dan tinggi karena akan mempengaruhi struktur kue. Jika ingin menambahnya, Tambahkan 2gr butter disetiap tambahannya
  • 240 gr Margarin (Aku pakai Blueband Serba Guna)
  • 260 gr Butter
  • 360 gr tepung terigu disangrai dan diayak (Aku pakai segitiga biru)
  • 60 gr Maizena diayak (Aku pakai Maizenaku)
  • 120 gr Susu bubuk diayak (Aku pakai Dancow Full Cream Enriched)
  • 60 gr coklat bubuk diayak (Aku pakai Bandeco)
  • 1 sdt Baking Powder diayak
  • Bisa pakai Vanilly tapi aku tidak😊 Tapi hasilnya tetap harum karena bahan diatas😉
Untuk hiasan :
  • 250 gr Gula Halus (Aku pakai Gula Donat)
  • 2 butir putih telur
  • 1 buah jeruk nipis diiris dan bagian kecilnya saja yg dipakai
Langkah (60 menit)
 
  1. Kocok margarin dan gula sampai tercampur rata. Jangan lama cz cukup tercampur saja. Setelah itu tuang kuning telur rebus yang sudah dihancurkan. Kocok lagi sampai pucat warnanya. Ada baiknya mengocok pakai low speed atau sendok kayu.
  2. Masukkan susu bubuk, butter, maizena, coklat bubuk satu persatu dan dicampur jadi satu dengan menggunakan sendok kayu.
  3. Masukkan tepung terigu dan baking powder sedikit demi sedikit dan dicampur dengan menggunakan sendok kayu sampai kalis dan bisa dibentuk dan ditutup dengan plastik wrap untuk disimpan selama 15 menit dikulkas
  4. Cetak adonan dan dipanggang dalam suhu 160c selama 15 menit. Dinginkan dan simpan didalam toples kedap angin sebelum dihias.
  5. Setelah semua kue sudah diatur didalam toples. Buatlah adonan hiasan dengan mengocok putih telur, gula, dan sedikit perasan jeruk nipis dengan kecepatan tinggi sampai berbentuk cream. Tuang hiasan kedalam plastik segitiga dan hiaslah kue seperti contoh dibawah ini..
  6. Panaskan selama 3 menit dlm oven yg terbuka tutupnya dan dinginkan.
  7. Jika sudah dingin dan hiasannya sudah mengeras, simpan dalam toples kedap angin seperti ini
  8. Catatan: Untuk hiasan bisa diberi warna seperti gambar dibawah ini.. Gambar dibawah ini menggunakan coklat Vanhouten

 

Bisa dibeli di:

Pasar Sentral Gorontalo

Sumberhttps://cookpad.com/id/resep/800048-kue-kering-coklat-karawo-kuenya-orang-gorontalo

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu