Kue ini dinamakan kue kaca mata dikarenakan bentuknya yang mirip kaca mata jika kedua potong kue tersebut didekatkan satu sama lain. Kue kaca mata ini berbahan dasar singkong, pisang serta taburan kelapa parut. Proses pembuatan kue kacamata ini tergolong mudah dan tidaklah terlalu sulit, dan apabila anda ingin tahu bagaimana resep membuat kue kacamata tersebut, anda bisa mengikuti atau mencatat resep cara membuat kue kacamata berikut ini.
Bahan Membuat Kue Kaca Mata :
500 gram singkong (kupas, kemudian parut)
Pisang raja tua atau pisang tanduk (rebus)
¼ sendok teh garam
100 gram gula pasir
¼ sendok teh vanili
¼ butir kelapa muda, parut
Pewarna kue (sesuai selera)
Urap kelapa secukupnya
Tali
Daun pisang secukupnya (untuk membungkus)
Resep Bahan Urap Kelapa Kue Kaca Mata :
1/3 butir kelapa diparut kasar
1/4 sendok teh garam
Cara Membuat Kue Kaca Mata :
1. Campur dan uleni bahan kecuali bahan pewarna sampai rata dan gula larut. Bagi-bagi sesuai banyaknya warna.
2. Ambil 1 lembar daun pisang, beri 2-3 sendok makan adonan singkong. Letakkan 1 buah pisang utuh, tutup dengan 2-3 sendok makan adonan.
3. Bungkus mirip lontong, kukus kurang lebih 1 jam sampai matang, dinginkan.
4. Potong melintang setebal 1 cm, gulingkan pada urap kelapa sebelum disajikan. Bisa ditambahkan saus gula merah jika suka.
5. Urap kelapa : campur kelapa parut dan garam, kukus kurang lebih 5 menit supaya tahan lama.
Selain kacamata, kue ini juga punya nama lain sesuai daerahnya. Misalnya di Jawa Barat kue ini disebut dengan nama kue putri nong. Di Jawa Tengah disebut dengan nama kue moto kebo (kue mata sapi). Juga ada yang menyebutnya kue moto roda atau kue janda di daerah lainnya.
Sumber :
http://www.masakankoki.com/resep-membuat-kue-kacamata-enak-praktis/#_
https://resepkoki.id/2016/03/14/resep-kue-kacamata/
http://widi-kuetradisional2011.blogspot.co.id/p/resep-kue-kaca-mata-kaca-mata-si-kaca.html
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara