Kue Burgo adalah Kue khas jambi yang tebuat dari campuran tepung beras dan sagu tani. Kue Burgo mempunyai bentuk yang sangat menarik, yaitu seperti dadar gulung. Kue gurih ini terbuat dari campuran adonan tepung beras dan juga sagu. Adonan ini dibentuk menyerupai kue gulung dengan rasa gurih.
Masakan khas jambi yang satu ini, makanan yang begitu lezat, dan cara pembuatannya yang sangat mudah, namanya Burgo. Burgo ini sangat unik, terbuat dari campuran tepung sagu, tepung beras dibuat dadar dan digulung kemudian dipotong potong, disajikan dengan kuah burgo dan bahan pelengkap seperti telur rebus. Makanan ini juga ditemani dengan kuah yang sangat enak sedap dan gurih. Kuah yang terbuat dari kaldu ikan dan udang membuat rasa kue yang semula terasa kenyal menjadi lebih gurih dan mantap.
Ø Bahan isi:
ü Kue Burgo Khas Jambi
ü 100 gr tepung beras
ü 500 ml air
ü 1 sdt air kapur sirih
ü ½ sdt garam
ü Secukupnya daun pisang atau plastik untuk alas
Ø Bahan kuah:
ü 400 ml santan dari ¼ butir kelapa
ü 100 gram daging ikan tengiri, haluskan
ü 100 gram udang, kupas, haluskan
ü 100 ml kaldu ikan + udang
ü 100 ml kaldu udang
ü 3 cm lengkuas, geprek
ü 1 sdt gula pasir
ü 1 sdm tepung beras
ü ½ sdt penyedap
Ø Bumbu yang dihaluskan:
ü 4 buah bawang merah
ü 2 sdm minyak goreng untuk menumis
ü 1 sdt ketumbar
ü 1 sdm ebi, rendam air panas
ü 1 sdt garam
ü ¼ sdt jinten
Ø Pelengkap:
ü Bawang goreng dan saus sambal
Ø Cara Membuat:
ü Campurkan semua bahan isi lalu aduk rata.
ü Tuang adonan ke dalam loyang yang telah diolesi minyak goreng, ratakan.
ü Kukus adonan selama 20 menit / hingga matang. Angkat.
ü Siapkan meja yang telah dialasi daun pisang atau plastik, keluarkan adonan dari loyang lalu letakkan di ats daun pisang.
ü Olesi permukaan adonan dengan pewarna kuning muda lalu gulung perlahan. Dinginkan kemudian potong sesuai selera.
Ø Kuah:
ü Tumis dengan minyak panas bumbu yang telah dihaluskan hingga harum. Masukkan daging ikan, udang, lengkuas, gula pasir, penyedap rasa, aduk rata.
ü Masukan kaldu udang dan kaldu ikan + udang. Masak sampai sampai mendidih.
ü Tambahkan tepung beras. Masak hingga mengental, Angkat dan dinginkan.
ü Setelah dingin, haluskan menggunakan blender, kemudian panaskan kembali dengan menambahkan 400 ml santan. Masak hingga mendidih dan mengental. Angkat. Sajiakn.
Ø Penyajian:
Untuk menyajikannya, terlebih dahulu potong adonan menjadi babarapa bagian lalu disiriam kuah santan dan ditaburi bawang goreng. Kuah yang terbuat dari kaldu ikan dan udang membuat rasa kue yang semula terasa kenyal menjadi lebih gurih dan mantap.
Source:
http://resepmasakannusantaraoriginal.blogspot.co.id/2017/06/resep-kue-burgo-khas-jambi.html
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...