Kue Belinjo Khas Surabaya Enak Dan Mantap. Kue Belinjo merupakan salah satu jenis kue kering yang olahan utamanya serupa dengan kue kering pada umumnya. Yang membedakannya yaitu kue belinjo ini disamping memakai tepung terigu tapi dikasih pula campuran kacang tanah atau kacang hijau kupas yang sebelumnya sudah disangrai serta dihaluskan. Rasanya lebih enak dan wangi aromanya pun lebih harum daripada dengan kue kering yang umumnya.
Dari namanya mungkin anda beranggapan bahwa kue belinjo terbuat dari buah belinjo. Padahal bahan yang digunakan untuk membuat kue belinjo sama sekali tidak menggunakan belinjo. Malah yang digunakan kacang tanah atau kacang hijau yang sudah disangrai.
Proses pembuatanya juga sangat simpel, jadi anda tidak akan krepotan apapun dalam mengolah bahan-bahan yang akan digunakan. Berikut resep membuat kue belinjo khas Surabaya yang enak dan mantap.
Bahan yang harus disediakan :
kacang tanah / hijau sebanyak 250 gram ( kupas kulitnya lalu sangrai dan dihaluskan )
tepung terigu sebanyak 100 gram
mentega sebanyak 150 gram
gula bubuk sebanyak 100 gram
garam dapur sebanyak ½ sendok teh
vanili bubuk sebanyak 1 sendok teh
kuning telur sebanyak 2 butir
putih telur sebanyak 1 butir
kuning telur sebanyak 2 butir ( untuk olesan )
Margarin secukupnya ( untuk olesan )
Langkah Membuat Kue Belinjo :
Pertama – tama masukan mentega dan gula bubuk dalam satu wadah kemudian kocok dengan menggunakan mixer sampai putih dan mengembang.
Tambahkan kuning telur dan putih telur lalu kocok lagi hingga tercampur rata.
Selanjutnya tambahkan kacang yang telah dihaluskan, garam dapur, vanili bubuk dan tepung terigu aduk kembali hingga rata.
Ambil adonan secukupnya kemudian bentuk sesuai dengan selera anda.
Kemudian tata rapi diatas loyang yang telah diolesi dengan margarine sebelumnya.
Terus bentuk hingga adonan habis tak tersisa lalu olesi dengan kuning telur pada bagian atasnya.
Masukan kedalam oven yang telah dipanaskan dan panggang selama kurang lebih 25 menit dengan suhu oven sebesar 160 derajat atau hingga matang dan kering.
Angkat dan biarkan dingin dalam suhu ruangan.
Masukan pada wadah kedap udara dan hidangkan.
Demikian tadi cara membuat kue belinjo yang enak dan mantap. Meskipun kue belinjo berasal dari Surabaya namun kue belinjo banyak dijajakan di toko kue. Atau anda bisa membuatnya sendiri dirumah. Semoga resep diatas bermanfaat, selamat mencoba.
Sumber : Facebook "Resep Masakan"
GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...
Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...
SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...