Krecek Kedelai hitam, Mendengar kata krecek pasti tidak asing lagi ditelinga. Jawa tengah memiliki berbagai macam masakan krecek salah satunya adalah Krecek kedelai hitam. Bahan utama yang digunakan untuk krecek ini pastinya adalah kerupuk kulit, tidak lupa juga tambahan kedelai hitam.
Bahan-Bahan :
· 100 gr krecek goreng (kerupuk kulit)
· 50 gr kedelai hitam, rendam semalam (ganti dengan kacang tholo atau kacang ose jika terpaksa)
· 15 butir telur puyuh, rebus dan kupas
· 1 papan petai
· 50 gr kapri muda, siangi dan buang ujungnya
· 2 buah cabe merah, iris menyerong tipis
· 3 lembar daun salam
· 2 cm/10 gr lengkuas, memarkan
· 750 ml santan sedang atau 400 ml santan kental campur dengan 350 ml air
· minyak untuk menumis
Bumbu Halus :
· 5 buah/50 gr cabe merah besar
· 6 butir/60 gr butir bawang merah
· 3 siung bawang putih
· 3 butir kemiri
· 1 sdt ketumbar bubuk
· 1.5 sdt garam atau sesuai selera
· gula pasirsecukupnya (jika suka)
Cara Membuat :
1. Rendam kedelai hitam atau kacang pengganti semalam sampai empuk, kemudian rebus sampai matang. Tiriskan.
2. Rebus telur puyuh sampai matang, siram atau rendam dengan air dingin supaya kulit mudah dikupas. Sisihkan.
3. Haluskan semua bahan bumbu dengan cobek atau blender/grinder. (Jika perlu tambahkan sedikit minyak goreng dalam blender/grinder untuk mempermudah proses penghancuran).
4. Tumis bumbu halus, lengkuas dan daun salam sampai bumbu benar2 matang dan berbau harum.(kurang lebih 5 menit)
5. Masukkan cabai merah iris, aduk-aduk hingga layu.
6. Tuangkan santan, masak dengan api sedang hingga mendidih. Aduk sekali-kali supaya santan tidak pecah.
7. Masukkan kedelai/kacang rebus dan petai. Masak hingga petai empuk.
8. Tambahkan telur puyuh rebus dan kacang kapri. Masak hingga kapri layu dan bumbu meresap.
9. Cicipi, jika perlu tambahkan garam dan gula sesuai selera.
10. Terakhir masukkan krecek goreng atau krupuk rambak/kulit. Aduk-aduk dan masak sebentar hingga krupuk menyerap kuah dan menjadi lunak.
11. (Catatan: Kuah akan menyusut dan mengental karena terserap oleh krecek).
12. Hidangkan panas bersama Nasi, Ketupat atau Lontong dan kerupuk.
Sumber : http://www.lestariweb.com/Indonesia/KrecekKedelaiHitam.php
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara