Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Jawa Timur Malang
Kongpiah / Kongpyang / Ote-ote
- 10 Desember 2018

Bahan-bahan

9 bh
Bahan roti:
  1. 250 gr terigu protein tinggi
  2. 10 gr gula pasir
  3. 3 gr ragi instant
  4. 120 ml air hangat
  5. 1 btr telur, kocok lepas
  6. 25 gr butter suhu ruang
  7. 1/4 sdt garam
  8. Bahan isi :
  9. 1 ekor ayam fillet potong2
  10. 3 siung bawang putih
  11. 3 siung bawang merah
  12. 2 sdm kecap asin
  13. 1 sdm minyak wijen
  14. 1 sdm saos tiram
  15. Secukupnya rumput laut, rendam lalu peras & potong2
  16. Garam
  17. Merica
  18. 1 sdt terigu, cairkandgn sedikit air

Langkah

 

Masukkan ragi & gula ke air hangat, aduk lalu diamkan 5-10 menit sampai jd berbusa artinya ragi aktif.

 
 
 
 
 
  1. Lalu tuang ke terigu, tambahkan telur, uleni hingga tercampur rata.

     
     
     
     
     
  2. Masukkan butter & garam, uleni hingga kalis.

     
     
     
     
     
  3. Bagi2 adonan bulatkan lalu iamkan 10 menit. Pipihkan adonan lalu isi, bulatkan celup ke air lalu ke wijen.

    Kongpiah / Kongpyang / Ote-ote recipe step 4 photo
     
     
     
     
  4. Susun di loyang yg telah dioles butter, lubangi tengahnya dgn sumpit, tutup pakai kain kering diamkan 30-45 menit atau sampai mengembang 2x lipat tergantung suhu ruangan.

    Kongpiah / Kongpyang / Ote-ote recipe step 5 photo
     
     
     
     
  5. Panggang di oven api bawah 160 C selama 30 menit sampai atas roti kecoklatan. Ovennya sudah dipanaskan dulu 15 menit sebelumnya.

    Kongpiah / Kongpyang / Ote-ote recipe step 6 photo
     
     
     
     
  6. Taruh roti di cooling rack spy bawah roti tidak lembab jd roti lbh awet, stlh dingin lgsg masukkan plastik tertutup spy ga jd keras.

    Kongpiah / Kongpyang / Ote-ote recipe step 7 photo
     
     
     
     
  7. Cara membuat isian: Tumis bawang putih & merah hingga harum, masukkan daging ayam & kecap asin, aduk rata. Tambahkan saus tiram, aduk rata, lalu tutup & kecilkan api. Masak hingga ayam matang.

     
     
     
     
     
  8. Masukkan rumput lau, garam & merica. Koreksi rasa.

     
     
     
     
     
  9. Supaya mudah waktu pengisian, tambahkan cairan terigu, masak hingga mengental.

    Kongpiah / Kongpyang / Ote-ote recipe step 10 photo
     
     

https://cookpad.com/id/resep/5088649-kongpiah-kongpyang-ote-ote

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu