Di kabupaten Subang ditemukan kolécér yang panjangnya mencapai 6-8 meter dan di daerah ini pada musim angin, hampir semua orang memasang kolécér bahkan banyak tempat yang dinamakan pasir kolécér yaitu bukit tempat kolécér itu di mainkan. Di wilayah ini pula ada kolécér yang merupakan warisan turun- temurun. Para penduduk yang kerja di luar wilayah biasanya pada saat musim angin pulang dahulu untuk memasang kolécér. Unsur rekreasi yang didapat dari kolécér adalah suara yang dihasilkan dari gerak kolécér tersebut. Dalam istilah sunda “nyeguk” tekanan angin yang kuat memutarkan kolécér tersebut sampai melengkung ke belakang dan ketika angin melemah gerakan kolécér kembali tersentak ke depan dan berbunyi “wuuk” suara yang dihasilkan itu yang menjadi kebanggaan pemiliknya. Semakin keras suara yang dihasilkan semakin bagus kualitas dari kolécér tersebut. Kesukaan masyarakat terhadap kolécér juga menyebabkan permainan ini mempunyai tahapan untuk mencapai sebuah kolécér yang sempurna di mulai dari masa anak-anak dengan berbagai tahapan pembelajaran membuat dan memainkan kolécér tersebut.
Pada proses bermain kolécér, seorang anak melalui proses tahapan pembelajaran yaitu dari mulai kolécér palang dua, berupa daun kelapa yang dilepas lidinya, daun yang berbentuk memanjang dijadikan kolécér dengan cara memotong menjadi pendek dengan panjang 10-12 cm. Pada tengahnya ditimbang dengan cara memakai jari telunjuk mencari titik keseimbanganya, dan letak jari telunjuk pada saat terjadi keseimbangan itu yang akan menjadi tengah dari kolécér tersebut. Di tengahnya dipasang pelepah singkong yang dilubangi, dengan cara membersihkan bagian dalamnya, lalu dipasangkan tepat pada titik tengahnya. Lidi dari sisa kolécér tersebut dipakai sebagai gagang putaran. Dan dipakai pembatas dari pelepah singkong lagi. Pada tahapan selanjutnya yaitu malincang kolécér yaitu memelintirkan daun kolécér tersebut yang bagian kanan diputar ke kanan bawah dan yang bagian kiri diputar ke kiri atas. Bentukan tersebut yang menahan angin dan menjadi kolécér itu berputar.
Untuk kolécér palang empat, ada 3 macam bentuk kolécér yang pertama mirip dengan palang dua tetapi pada bagian kanan dan kiri antara bolong tengah daun tersebut disobek sejajar, dan dimasukan satu palang lagi. Proses selanjutnya sama malicang dan memakai gagang. Bentuk lainnya pada kolécér palang dua yaitu dengan menganyam bagian tengah dari kolécér dan pada tengah kolécér menjadi ada bentuk kotak. Bilah lebih panjang dan dilipat menjadi dua, dari dua tersebut menjadi palang kolécér tersebut sehingga menjadi palang empat. Pada pertengahan lipatan empat tersebut membentuk lubang sehingga tinggal memasukan lidi untuk gagang. Bentuk lainnya hampir mirip dengan bentuk pertama, hanya gagangnya memakai lidi utuh yang pada ujungnya disisakan potongan daunnya sebagai penahan kolécér.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara