Dikutip dari itoday, (http://www.itoday.co.id/metafisika/kisah-misteri-kobak-sumur-di-karawang) mengenai pantangan warga Desa Ciranggon agar tidak memelihara atau menyembelih kambing dibenarkan oleh para sesepuh Karawang, salah satunya adalah R. H. Tjetjep Supriadi.
Menurut beliau, pantangan tersebut karena telaga atau sendang yang berbentuk sumur di desa tersebut, yang oleh warga sekitar disebut sebagai Kobak Sumur. Konon menurut cerita warga setempat, sumur tua inilah yang menjadi sumber dari segala cerita yang berkaitan dengan pantangan warga memelihara dan menyembelih kambing.
Larangan memelihara atau menyembelih kambing itu bermula dari satu peristiwa berdarah yang berlangsung di Karawang di masa silam. Dan kejadian itu ada kaitannya dengan cerita berdirinya Karawang ratusan tahun lalu. Peristiwa yang dimaksud yakni kisah terpenggalnya kepala Singaperbangsa, Bupati pertama Karawang.
Dalam sejarah disebutkan bahwa pemberontakan Trunajaya berpengaruh besar bagi Karawang. Hal itu dijadikan kesempatan oleh orang-orang Makasar yang membantu pemberontakan Trunajaya untuk melakukan aksi kriminal seperti merampok, merampas harta benda dan bahkan pembunuhan warga yang tidak berdosa. Aksi ini pada akhirnya menimbulkan kesengsaraan rakyat Karawang yang hidup di sekitar Pantai Utara Jawa.
Di saat yang sama, penduduk Karawang yang tinggal di sepanjang sungai Citarum juga tak luput dari gangguan orang-orang Banten yang dendam karena pangeran Puger Agung dipenggal kepalanya oleh Adipati Kertabumi IV, atau Singaperbangsa III, Bupati Karawang pada masa itu.
Sebagaimana yang tertulis dalam pelat berupa kuningan yang disebut sebagai Kandang Sapi Gede dan juga merupakan bukti surat pengangkatan Bupati Karawang, bahwa antara Singaperbangsa dan Aria Wirasaba adalah setingkat. Tetapi dalam pelaksanaan pemerintahan Aria Wirasaba dianggap sebagai bawahan Singaperbangsa III, sebagai Bupati Karawang. Sementara Aria Wirasaba hanya mempertahankan dan memerintah Waringin Pitu, Parakan Sapi, dan Adiarsa.
Kurangnya kekompakan Singaperbangsa III dan Aria Wirasaba dimanfaatkan oleh dua orang pimpinan pasukan tentara Trunajaya yaitu Nata Manggala dan Wangsanga yang diberi tugas memblokir jalan menuju Batavia untuk menghalangi Amangkurat meminta bantuan kompeni Belanda. Kurangnya kekompakan dua petinggi Karawang ini juga dijadikan kesempatan untuk menyerang kediaman Singaperbangsa, yang memang dianggap membantu terjadinya perundingan di Jepara antara Mataram dan Kompeni, hingga mengakibatkan Trunajaya di hukum mati.
Maka pendopo Karawang diserang oleh Nata Manggala dan Wangsanga bersama pasukannya. Singaperbangsa terdesak dan lari ke arah utara. Akan tetapi di daerah Tunggak Jati Tengah, Singaperbangsa berhasil ditangkap dan dipenggal kepalanya. Sedangkan istri dan keluarganya, serta Raden Anom Wirasuta, Putra Singaperbangsa, menyelamatkan diri dengan menyebrangi sungai Citarum. Rombongan ini dipimpin oleh Dalem Singa Derpa Kerta Kumambang dan terus melarikan diri menuju selatan.
Hampir bersamaan dengan peritiwa terpenggalnya kepala Singaperbangsa ini, R. Suriadipati Putra Rangga Gede dari Sumedanglarang diangkat menjadi Rangga di Kelapa Dua. Sementara itu Indra Manggala Putra Dalem Jaya Manggala dari Sukakerta, Tasikmalaya, juga mendengar bahwa Karwang diserang pemberontak. Dia dan pasukannya segera melarikan kudanya menuju Karawang. Sampai di suatu tempat Indra Manggala bertemu dengan rombongan keluarga bupati Karawang yang dipimpin Singa Derpa Kerta Kumambang. Kedua belah pihak kemudian melakukan perjanjian damai. Tempat atau bekas perundingan damai ini kini disebut Kampung Badami (berdamai), yang kini termasuk wilayah Wadas, Teluk Jambe.
Setelah perjanjian damai disepakati, Suriadipati dan Indra Manggala segera berupaya menyelamatkan bupati Singa Perbangsa dengan cara menyusup ke wilayah Kotaraja.
Meski akhirnya mereka tahu bahwa Singaperbangsa telah gugur, namun Suriadipati dan Indra Manggala telah sepakat bahwa apapun yang terjadi, kepala bupati Karawang yang terpisah dari badannya itu harus bisa diselamatkan.
Dikisahkan, selang beberapa waktu kemudian, keduanya dapat memasuki Kotaraja, Karawang. Bahkan mereka dapat menyusup ke areal pendopo Karawang yang telah diduduki kaum pemberontak. Ketika itulah mereka melihat potongan kepala Singaperbangsa dipertontonkan dengan cara ditancapkan dekat pendopo. Maksudnya tak lain agar rakyat Karawang menyerah dan tunduk kepada para pemberontak.
Dengan taktik dan strategi yang jitu, Suriadipati dan Indra Manggala dengan cepat menyelamatkan kepala bupati Karawang tersebut. Mereka kemudian membawanya untuk dipersatukan kembali dengan tubuhnya yang telah dibawa terlebih dahulu oleh para abdi dalem dan rakyat Karawang yang telah mengungsi dengan maksud untuk dimakamkan secara layak.
Menurut riwayat yang disebarkan secara mulut ke mulut, sebelum keduanya tiba di daerah Manggung Jaya, lokasi yang direncanakan untuk memakamkan Singaperbangsa, Rangga Suriadipati dan Indra Manggala beristirahat di daerah Ciranggon, tepatnya di kawasan irigasi dekat sebuah sendang. Nah, sendang inilah yang sekarang disebut Kobak Sumur oleh masyarakat setempat.
Disebutkan, karena merasa prihatin melihat potongan kepala Singaperbangsa yang kotor, namun keduanya menyempatkan diri untuk membersihkan potongan kepala Singaperbangsa yang berlumur darah kering itu. Tempat mencucinya yaitu di Kobak Sumur tersebut.
Konon, akibat perbuatan mereka ini, air sendang yang tadinya jernih seketika memerah dan berbau anyir. Kemudian secara tiba-tiba Rangga Suriadipati dan Indra Manggala merasakan suasana di sekitarnya menjadi hening laksana di kuburan. Seiring dengan itu, indera keenam mereka juga menangkap adanya sesosok makhluk halus beraura jahat yang hadir di tempat itu. Dengan kesaktian yang mereka miliki, lantas keduanya melakukan kontak gaib dengan makhluk tak diundang tersebut.
Lalu mereka mengetahui jika makhluk halus tersebut adalah siluman penunggu kawasan tersebut. Dari hasil dialog gaib disimpulkan bahwa siluman tersebut sangat tertarik dengan kepala dan bau anyir potongan kepala Singaperbangsa.
Dengan rasa tanggung jawab besar, mereka akhirnya mencoba mengusir makluh gaib tersebut. Akan tetapi siluman itu ternyata memiliki kesaktian tinggi, sehingga tak mudah menaklukkannya. Bahkan sang siluman terus mengganggu pekerjaan Rangga Suriadipati dan Indra Manggala yang akan membawa potongan kepala Singperbangsa dan menyatukan dengan tubuhnya.
Ketika mereka terdesak dan hampir hilang akal, ketika itulah mereka melihat beberapa orang sedang menggiring kambing. Rangga Suriadipati segera memanggil para penggiring kambing itu. Dia pun menceritakan kesulitan yang tengah dihadapinya dan meminta agar para penggiring kambing itu sudi menyerahkan salah seekor kambingnya untuk dijadikan tumbal pengganti potongan kepala Singaperbangsa.
Mendengar itu, salah seorang penggiring kambing segera menyerahkan seekor kambing jantan miliknya. Kambing inilah yang kemudian disembelih dan kepalanya dipisah dari badannya. Kepala kambing ini kemudian menjadi pengganti potongan kepala Singaperbangsa. Potongan kepala kambing itu lantas ditancapkan di sekitar sendang Kobak Sumur menggunakan batang bambu kuning, dengan maksud untuk mengelabui si makhluk halus yang menginginkan potongan kepala Singaperbangsa.
Dengan melakukan ritual sederhana ini akhirnya mereka terlepas dari gangguan siluman. Dengan mata kepala mereka sendiri, mereka menyaksikan wujud sosok siluman itu pergi membawa bangkai kambing tanpa kepala tersebut, sementara kepalanya ditinggalkan menancap dilokasi sendang.
Di samping untuk mengelabui siluman, penancapan kepala kambing itu dimaksudkan juga sebagai tanda isyarat bagi pengikut Dalem Singa Perbangsa III, bahwa kepala junjungannya telah berhasil diselamatkan.
Menurut Tjetjep Supriadi, konon dari peristiwa itulah tercipta kenapa di daerah Ciranggon orang tabu untuk memelihara apalagi menyembelih kambing, termasuk untuk berkurban. Bahkan, bagi para pelaku spiritual, apa yang disebut Kobak Sumur itu sampai detik ini masih diziarahi.
Sumber: https://www.academia.edu/24255574/LEGENDA_KOBAK_SUMUR_KARAWANG
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...