Ular N’Daung adalah seekor ular raksasa yang tinggal di sebuah puncak gunung di daerah Bengkulu. Ular N’Daung itu terkenal buas dan ganas yang akan memangsa siapa saja yang mendekati puncak gunung tersebut. Suatu ketika, seorang gadis cantik memberanikan diri mendekati puncak gunung karena ingin mencari bara gaib untuk mengobati ibunya yang sedang sakit keras. Bagaimana nasib gadis cantik itu selanjutnya? Simak ceritanya dalam Kisah Ular N’Daung berikut ini!
* * *
Dahulu, di kaki sebuah gunung di daerah Bengkulu, hiduplah seorang janda tua dengan tiga anak gadisnya. Dari ketiga anak gadis tersebut, si Bungsulah yang paling rajin membantu ibu mereka bekerja di ladang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Ia juga yang harus memasak sepulang dari ladang. Sementara itu, kedua kakaknya hanya bermalas-malasan di rumah. Mereka tidak pernah membantu ibu mereka bekerja di ladang.
Suatu hari, sang Ibu sakit keras, tidak mau makan dan minum. Melihat kondisi ibunya yang parah itu, cepat-cepatlah si Bungsu memanggil tabib desa. Sang Tabib pun segera memeriksa keadaan perempuan tua itu.
“Maaf, anak-anakku! Sakit yang diderita ibu kalian sudah sangat parah,” ungkap tabib itu.
“Apakah Ibu kami masih dapat disembuhkan, Tuan Tabib?” tanya si Bungsu dengan cemas.
“Iya, Bungsu. Ibu kalian masih bisa sembuh bila diberi obat khusus,” jawab tabib itu.
“Obat khusus apakah itu, Tuan Tabib?” tanya lagi si Bungsu,“ Barangkali kami dapat mendapatkannya.”
“Ibu kalian hanya bisa disembuhkan dengan ramuan beberapa daun hutan yang dimasak dengan bara gaib,” jelas tabib itu, “Tapi maaf, saya tidak dapat membantu kalian untuk mendapatkan bara gaib itu.”
“Kenapa, Tuan Tabib?” tanya si Sulung.
“Ketahuilah, bara gaib itu hanya terdapat di gua yang berada di puncak gunung. Namun, gua itu dijaga oleh seekor ular raksasa yang menyeramkan bernama Ular N’Daung. Ular itu amat ganas dan buas. Ia akan memangsa setiap orang yang mendekati gua itu,” jelas sang Tabib.
Mendengar keterangan tabib itu, kedua kakak si Bungsu menjadi ketakutan.
“Iih…, sungguh mengerikan! Aku tidak mau naik ke puncak gunung itu,” kata si Sulung.
“Aku pun tidak berani ke sana. Aku tidak mau mati muda!” sahut kakak si Bungsu yang kedua.
Berbeda dengan kedua kakaknya, si Bungsu justru bertekad ingin ke puncak gunung itu, walaupun ada rasa takut dalam dirinya. Ia akan melakukan itu demi mendapatkan bara api gaib agar ibunya dapat segera sembuh.
“Baiklah, Kakak-kakakku. Jika kalian tidak mau ikut, biarlah saya sendiri yang pergi,” kata si Bungsu.
Setelah memohon restu kepada sang Ibunda tercinta yang sedang terbaring lemas, si Bungsu pun berangkat dengan menyusuri jalan setapak. Jalan menuju ke puncak gunung itu cukup terjal dan berbatu. Meskipun demikian, si Bungsu tetap semangat dan tak kenal lelah.
Setiba di puncak gunung, terlihat oleh si Bungsu sebuah gua yang hampir tertutupi oleh rimbunan dedaunan. Hati hadis itu mulai diselimuti rasa takut karena suasana di sekitarnya sepi mencekam. Namun, karena teringat kepada ibunya yang terbaring lemah, ia pun memberanikan diri untuk mendekati mulut gua itu. Baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari dalam gua itu.
“Hai, suara apa itu? Apakah suara Ular N’Daung?” gumam si Bungsu seraya mundur selangkah.
Benar perkiraan si Bungsu. Selang beberapa saat kemudian, Ular N’Daung itu tiba-tiba muncul di mulut gua.
”Hai, gadis cantik! Siapa kamu dan mau apa kamu kemari?” tanya Ular N’Daung.
Alangkah terkejutnya si Bungsu karena ular raksasa itu ternyata dapat berbicara layaknya manusia.
“Ma… maaf, Tuan Ular N’Daung kalau kedatangan saya mengganggu ketenangan Tuan!.” jawab si Bungsu dengan gugup, “Saya si Bungsu hendak mencari bara gaib untuk mengobati ibu saya yang sedang sakit keras.”
Ular N’Daung menggeliatkan ekornya lalu berkata kepada si Bungsu.
“Aku akan memberikanmu bara gaib itu, tapi dengan syarat kamu harus menikah denganku,” ujar Ular N’Daung.
Mendengar pernyataan Ular N’Daung itu, si Bungsu menjadi bingung. Dalam hatinya berkata bahwa dirinya tidak mungkin menikah dengan seekor ular. Namun, demi kesembuhan sang Ibunda tercinta, maka ia akhirnya menyanggupi persyaratan tersebut.
“Baiklah, Tuan Ular N’Daung. Saya bersedia menikah dengan Tuan setelah ibu saya sehat kembali,” kata si Bungsu.
Ular N’Daung segera masuk ke dalam gua dengan perasaan gembira. Tak lama kemudian, ia pun kembali dengan membawa sebutir bara gaib.
“Bawalah bara gaib ini! Semoga penyakit ibumu cepat sembuh,” ujar Ular N’Daung seraya menyerahkan bara gaib itu kepada si Bungsu.
“Terima kasih, Tuan Ular N’Daung,” ucap si Bungsu seraya berpamitan.
Si Bungsu segera membawa pulang bara gaib itu. Setiba di rumah, ia pun disambut oleh sang Tabib dan kedua kakaknya dengan perasaan heran bercampur gembira.
“Hai, Bungsu! Bagaimana caranya kamu bisa selamat dari Ular N’Daung itu?” tanya sang Tabib heran.
Si Bungsu pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya di puncak gunung hingga ia mendapatkan bara gaib itu. Kedua kakaknya yang mendengar cerita itu bukannya prihatin kepada si Bungsu melainkan menyindirnya.
“Ah, masa manusia menikah dengan ular?” celetuk si Sulung.
“Sudahlah! Mestinya kalian berterima kasih kepada adikmu yang telah mempertaruhkan dirinya demi memperoleh bara gaib ini,” ujar sang Tabib.
Setelah itu, sang Tabib segera memasak ramuan daun hutan yang telah disiapkan dengan bara gaib. Alhasil, janda tua itu sehat kembali setelah meminum ramuan tersebut. Ia merasa amat bahagia begitu mengetahui bahwa dirinya sembuh berkat pengorbanan si Bungsu.
“Terima kasih, Bungsu! Engkau memang anak yang pandai berbakti kepada orang tua. Engkau telah mengorbankan segalanya demi kesembuhan Ibu,” puji sang Ibu.
“Sudahlah, Bu. Tidak usahlah memuji seperti itu. Yang penting sekarang Ibu sudah kembali sehat,” kata si Bungsu merendahkan diri.
Keesokan harinya, si Bungsu pun berpamitan kepada ibu dan kedua kakaknya untuk kembali ke puncak gunung. Suasana haru pun menyelimuti hati keluarga kecil itu.
“Maafkan aku, Bu. Aku harus kembali ke puncak gunung untuk menepati janji pada Ular N’Daung. Mohon doa restunya, ya Bu!” pinta si Bungsu.
“Iya, Anakku. Ibu merestui. Tapi, Ibu berharap semoga Ular N’Daung itu berubah pikiran,” harap sang Ibu sambil meneteskan air mata.
“Iya, Bu. Bungsu pun berharap begitu. Tapi, kalau tidak, barangkali itu memang sudah menjadi nasib Bungsu harus menikah dengan ular,” kata si Bungsu.
Akhirnya, si Bungsu kembali ke puncak gunung untuk menemui Ular N’Daung dan tinggal di gua itu. Pada malam harinya, si Bungsu dikejutkan oleh sebuah peristiwa ajaib. Ia menyaksikan Ular N’Daung berubah wujud menjadi seorang kesatria yang tampan dan gagah perkasa.
“Hai, bagaimana hal ini bisa terjadi?” tanya si Bungsu dengan heran, “Siapa sebenarnya Kanda?”
“Maaf, Dinda. Kanda adalah seorang pangeran dari sebuah kerajaan di negeri ini. Nama saya Pangeran Abdul Rahman Almsjah,” ungkap Ular N’Daung yang telah berubah wujud seorang pangeran itu.
Pangeran itu kemudian menceritakan bahwa dirinya disihir menjadi seekor ular oleh pamannya karena menginginkan kedudukannya sebagai calon raja. Ia juga berjanji baru akan menikahi si Bungsu setelah sihir itu sirna dari tubuhnya.
“Kelak jika sihir ini telah hilang pada diri Kanda, barulah Kanda akan menikahimu,” kata sang Pangeran, “Kamu tetaplah tinggal bersamaku di gua ini hingga sihir itu hilang.”
“Baik, Kanda,” kata si Bungsu.
Sementara itu, ibu dan kakak-kakak si Bungsu penasaran ingin mengetahui keadaan si Bungsu. Mereka pun kemudian naik ke puncak gunung dan tiba di sana saat hari sudah gelap. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat suami si Bungsu seorang lelaki tampan dan perkasa. Apalagi ketika mereka mengetahui bahwa suami si Bungsu adalah seorang pangeran.
Mengetahui hal tersebut, maka timbullah perasaan iri hati pada diri kedua kakak si Bungsu. Mereka pun berniat jahat untuk menfitnah adiknya itu dengan cara membakar kulit Ular N’Daung. Dengan begitu, pangeran itu akan murka kepada si Bungsu dan mengusirnya.
Saat si Bungsu dan pangeran itu terlelap, kedua kakak si Bungsu segera menjalankan niat jahat mereka. Keduanya diam-diam mencuri kulit Ular N’Daung lalu membakarnya. Setelah itu, abu bekas pembakaran itu mereka letakkan di samping si Bungsu lalu kembali tidur.
Ketika hari menjelang pagi, Pangeran Abdul Rahman Alamsjah pun bangun hendak mengenakan kulit ularnya. Alangkah senangnya hati pangeran itu saat melihat kulit ularnya terbakar. Ia pun segera membangunkan si Bungsu.
“Dinda, ayo cepat bangun!” seru sang Pangeran.
“Apa yang terjadi, Kanda?” tanya si Bungsu dengan panik.
“Lihatlah, ada orang yang telah membakar kulit ularku,” jawab pangeran itu, “Apakah Dinda yang melakukannya?”
“Bukan, Kanda,” jawab si Bungsu.
“Ya, syukurlah kalau begitu. Berarti Kanda benar-benar terbebas dari sihir itu,” kata Pangeran Alamsjah dengan gembira, “Jika ada orang yang membakar kulit ularku secara sukarela, maka sihir yang melekat pada diri Kanda akan sirna,” ungkap Pangeran.
Si Bungsu pun segera menyampaikan berita gembira itu kepada ibu dan kedua kakaknya. Mendengar kabar tersebut, kedua kakaknya merasa amat menyesal dan mengakui bahwa merekalah yang melakukan pembakaran kulit ular itu. Akhirnya, Ular N’Daung yang kini telah kembali menjadi pangeran bermaksud memboyong si Bungsu dan keluarganya. Namun, kedua kakaknya menolak ikut serta karena merasa malu dengan perbuatan mereka.
Setiba di istana, Pangeran Abdul Rahman Alamsjah segera mengusir pamannya dari istana. Setelah dinobatkan menjadi raja, ia pun menikahi si Bungsu dengan pesta yang amat meriah. Mereka pun hidup berbahagia.
* * *
Demikian cerita Kisah Ular N’Daung dari daerah Bengkulu. Sedikitnya ada tiga pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas yaitu, keutamaan sifat rajin dan berbakti kepada kedua orang tua seperti halnya si Bungsu, serta akibat buruk dari sifat iri hati seperti halnya kedua kakak si Bungsu.
Sumber: https://histori.id/kisah-ular-ndaung/
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa,tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan harimau. Tapi bagi kami, hutan ini seperti halaman belakang rumah sendi...