Pada jaman dahulu kala, di sebelah Barat Laut Pulau Nila ada terdapat sebuah pulau yang bernama “METSYAHA.” Sekarang hanya terdapat sebuah Saaru yang di tengah-tengah Saaru itu ada laut yang biru. Menurut ceritera orang tua-tua, bahwa laut biru yang di tengah-tengah Saaru itu adalah sebuah pulau yang tenggelam ke dasar laut, karena sumpahan seorang nenek. Jarak antara pulau METSYAHA, ini dengan pulau NILA, kira-kira dua jam pelayaran dengan perahu.
Alkisah pada jaman dahulu, pulau METSYAHA ini ada penduduknya. Mata pencaharian penduduk pulau Metsyaha ini bercocok tanam, tetapi mereka bercocok tanam atau berkebun di pulau Nila, karena pulau ini tak dapat untuk berkebun.
Di antara penduduk yang mendiami pulau Metsyaha ini terdapat dua orang suami-istri yang mempunyai dua orang anak yang masih kecil. Demikian pula mereka mempunyai sebidang kebun di darat pulau Nila. Pada suatu hari kedua suami-istri akan pergi ke kebunnya di pulau Nila, namun mereka harus menitipkan kedua anaknya dulu untuk dijagai oleh seorang nenek. Sebelum berangkat ke kebun, mereka menyediakan dulu makanan untuk kedua anaknya, demikian pula tak lupa menyediakan makanan sebagai persiapan untuk mereka makan bersama kedua anaknya sekembalinya mereka nanti dari kebun.
Setelah semua kebutuhan telah disiapkan, maka kedua anaknya pun itu diserahkan kepada nenek yang telah bersedia untuk menjagainya, berikut makanan untuk dimakan nanti oleh kedua anaknya serta makanan yang telah disediakan untuk dimakan sekembalinya mereka dari kebun. Maka berangkatlah kedua suami-istri tadi, bersama beberapa orang penduduk pulau METSYAHA itu juga. Setiba di pulau Nila, merekapun menuju ke kebunnya masing-masing tak terkecuali suami-istri ini.
Kedua anak yang dititipkan untuk si nenek itu, dijagai dan dilayani oleh nenek dengan sebaik-baiknya. Makan yang diberikan oleh kedua suami-istri untuk kedua anaknya, diberikan oleh nenek kepada kedua anak itu, sedangkan makanan yang diberikan untuk disimpan oleh nenek, disimpannya dengan baik-baik agar jangan dimakan nanti oleh kedua anaknya atau binatang piaraan nenek. Namun dengan tak disangka-sangka dan diketahui oleh nenek, makanan yang disimpan itu pun sudah tak ada lagi di tempat simpanannya, entah hilang ke mana atau dimakan oleh siapa.
Sore hari setelah suami-istri pulang dari kebunnya, nenek pun datang ke rumah kedua suami-istri itu mengantarkan kedua anak yang dititipkan tadi kepada si nenek sewaktu mereka mau ke kebun. Setelah menyerahkan kedua anak itu kepada orang tuanya, nenek pun menceriterakan tentang makanan yang oleh kedua suami-istri diserahkan untuk disimpan oleh si nenek, bahkan makanan itu telah hilang, entah dimakan oleh siapa. Mendengar ceritera nenek itu, kedua suami-istri itu menuduh bahwa makanan itu tak mungkin hilang begitu saja, tentu sudah dimakan oleh nenek.
Walaupun nenek telah berulang kali mengatakan bahwa ia tidak makan, makanan itu namun mereka tetap berkata: Sekarang saya akan menuntut kebenaran. Bila makanan itu saya makan, di hadapan kamu berdua suami-istri, saya akan membanting kaki saya, dan saat ini pun akan saya mati, tetapi bila bukan perbuatan saya memakan makanan itu, maka pada saat ini juga pulau ini akan tenggelam supaya jangan ada lagi tuduh menuduh antara sesama kami.
Demikianlah saat si nenek membanting kakinya di hadapan kedua suami-istri ini, saat itu pulalah terjadi gempa bumi ke atas pulau METSYAHA ini, dan pula ini pun tenggelam dengan segala isinya termasuk orang-orang yang mendiami pulau METSYAHA ini
Orang-orang METSYAHA yang pada saat terjadinya peristiwa ini yang masih bekerja lagi di kebun mereka di pulau Nila, tak mengetahui bahwa pulaunya telah tenggelam. Namun tatkala mereka pulang dari kebunnya dan tiba di tepi pantai pulau Nila untuk seterusnya mereka ke pulau METSYAHA, mereka tak melihat pulaunya lagi. Sambil berdiri di tepi pulau Nila, menangislah dan keluarga yang mereka tinggalkan tadi. Tiba-tiba terjadilah suatu keajaiban atas diri mereka yang sedang menangis itu. Tubuh mereka tiba-tiba berobah menjadi batu.
Hingga kini batu-batu itu masih ada, bentuk dari batu-batu itu seperti manusia, sehingga tempat itu dinamakan orang "HATTAMATRA, yang artinya “MANUSIA BATU."
Sumber : Cerita Rakyat Daerah Maluku oleh Depdikbud
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...