Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Kalimantan Barat Sambas
Kisah Burung Ruai Jelmaan Putri Bungsu
- 28 Desember 2018

Pada jaman dahulu kala di daerah Sambas, Propinsi Kalimantan Barat, berdirilah sebuah kerajaan yang tidak jauh dari Gunung Ruai. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja yang memiliki tujuh orang putri. Setelah permaisurinya meninggal, raja tidak mencari penggantinya dan memilih untuk membesarkan ketujuh putrinya sendiri.

Dari ketujuh putrinya, si bungsu paling ia sayang sehingga menimbulkan kecemburuan dari kakak-kakaknya yang lain. Jika ayahnya sedang tidak di istana entah karena sedang berkeliling kerajaan ataupun berkunjung ke daerah tetangga untuk keperluan lainnya, ia sering mendapat siksaan dari keenam saudaranya baik berupa perkataan maupun tindakan kasar seperti pemukulan. Namun hal tersebut tidak ia ceritakan pada ayahnya karena takut kakak-kakaknya akan mendapat hukuman.

Akan tetapi sepandai-pandainya disimpan, perbuatan itu tetap tercium juga oleh sang raja. Hal itu setelah ia melihat si bungsu mengalami lebam-lebam biru di sekujur tubuhnya. Ia lalu mengumpulkan semua putrinya untuk di tanya perihal tersebut.

“Kalian ini bagaimana? Menjaga adik satu saja tidak bisa!...,”omel sang raja kesal terhadap keenam kakak si bungsu.

“Sebenarnya kami sudah berusaha menjaga adik kami semampunya, Ayah. Tapi seharian dia berlatih bela diri dengan panglima. Pulangnya badannya sudah biru-biru semua…,”jawab putri nomor dua yang diangguki oleh saudara-saudaranya yang lain.

“Sudahlah, aku tidak mau mendengar alasan seperti itu terus menerus. Besok aku akan pergi ke kerajaan sebelah untuk mempererat silahturahmi. Kerajaan aku serahkan ke si bungsu. Kalian harus membantunya. Hingga aku kembali, tidak boleh lagi ada lebam ataupun luka di tubuhnya,”pesan raja sambil berlalu untuk beristirahat.

Keesokan harinya setelah kepergian ayahnya, keenam kakak si bungsu malah merencanakan sesuatu untuk  menyingkirkan adiknya tersebut untuk selama-lamanya. Mereka sudah tidak takut lagi terhadap ancaman raja.

Mereka lalu mengajak si bungsu ke sebuah tempat untuk bermain yang bernama Gua Batu. Si bungsu tidak curiga sama sekali dengan keramahan keenam kakaknya itu. Ia malah senang karena perangai mereka telah berubah padanya.

“Diujung gua di dalam sana, ada sebuah tempat yang sangat indah. Ada kolam dan bunga-bunga aneka warna. Kami akan mengajakmu bermain bersama. Kamu masuklah terlebih dahulu sementara kami menjagamu di belakang,”ucap kakak pertama yang langsung dilaksanakan oleh si bungsu. Ia pun melangkah masuk dengan penuh semangat. Namun setelah beberapa waktu lamanya, keenam kakaknya ternyata berhenti dan berbalik arah ke luar gua meninggalkan dirinya seorang diri.

Si bungsu yang belum pernah masuk ke dalam gua tentu saja menjadi kebingungan setengah mati. Ia memanggil-manggil nama kakak-kakaknya untuk meminta bantuan tetapi tidak ada jawaban. Selama berhari-hari ia bergerak kesana kemari tak tentu arah hingga jatuh kelelahan. Si bungsu menangis ketakutan. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang sangat menakutkan. Lalu munculah seorang kakek tua di hadapan si bungsu.

“Jangan terus menangis, Cu. Aku akan membantumu keluar dari tempat ini dan membuat kehidupanmu lebih baik dari sebelumnya. Tidak diganggu terus oleh kakak-kakakmu yang jahat,”ucap kakek sakti itu. Ia lalu merubah air mata si bungsu menjadi butiran telur burung. Si bungsu sendiri kini telah berubah menjadi seekor burung yang sangat indah bernama Burung Ruai.

“Eramilah telur-telur itu agar menetas dan menjadi sahabatmu,”pesan kakek sakti sebelum ia pergi meninggalkan si bungsu.

Kwek…kwek…kwek…begitulah suara si bungsu yang kini telah berubah menjadi Burung Ruai. Bersama teman-teman barunya ia bersarang di depan istana tempat tinggalnya dulu. Dari atas pohon ia bisa menyaksikan ayahnya yang tengah menghukum kakak-kakaknya yang jahat.

 

 

sumber:

  1. Cerita Anak Dunia (http://www.ceritaanakdunia.com/search/label/Legenda)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu