Warga Malang dan sekitarnya pasti tak asing dengan makanan khas daerahnya yang satu ini, apalagi buat yang sering berjalan jalan di alun alun Kota Batu, pasti sering melihat ada kedai yang hanya menjual ketan bubuk tapi selalu ramai setiap harinya.
Memangnya siapa sih yang ngga suka makanan ini? Di Malang, hampir semua orang, baik tua, pasti tahu apa itu ketan bubuk, bahkan tidak sedikit yang menyukainya, rasanya yang khas membuat orang ingin memakannya lagi dan lagi.
Makanan seperti apa sih ketan bubuk itu? Sebenarnya sederhana saja, makanan ini hanya terdiri dari ketan, santan, kelapa parut, dan bubuk kedelai. Namun jangan salah, soal rasa tak perlu diragukan lagi, yang membuatnya istimewa adalah adanya bubuk kedelai yang memberi rasa manis dan gurih di saat yang bersamaan.
Bagaimana sih cara membuat ketan bubuk? Cara membuatnya cukup mudah, pertama kukus ketan sampai matang, lalu campurkan ketan dan santan, biarkan sampai santan meresap dengan ketannya, setelah itu ambil ketan dan letakkan di piring, tambahkan kelapa parut dan bubuk kedelai sesuai selera, ketan bubuk pun siap dihidangkan!
Di Malang ada beberapa tempat yang menjual makanan ini, namun ada satu tempat yang sangat terkenal, seperti yang sudah disebutkan di awal artikel, kedai tersebut ada di Alun-Alun Kota Batu, dan bernama Pos Ketan Legenda 1967, hampir setiap hari tempat ini tak pernah sepi didatangi oleh pembeli, baik yang berasal dari Malang maupun luar kota. Selain itu ada juga Ketan Bubuk Kudusan yang terkenal di masyarakat sekitar Malang kota.
Harga untuk satu porsi ketan bubuk juga tidak mahal, hanya sekiar 10.000 rupiah saja. Harg yang cukup terjangkau bukan? Oleh karena itu, makanan ini menjadi favorit hampir semua kalangan di Kota Malang.
#OSKMITB2018
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara