Tempe tidak hanya menjadi lauk-pauk saja namun telah menjadi produk ekonomis yang bernilai jual tinggi. Ditangan warga Dusun Sanan, tempe telah diolah menjadi keripik tempe. Pembuat keripik tempe tidak hanya mengolah dan mengemas keripik tempe rasa original saja melainkan kini mulai berinovasi membuat keripik tempe dengan aneka rasa. Varian rasa keripik tempe antara lain rasa ayam bakar, ayam lada hitam, ayam bawang, bumbu rujak, jagung manis, pedas manis, sambal udang bahkan ada yang mencoba dengan varian rasa dari masakan luar seperti barbeque, jagung amerika, lada hitam, pepperoni dan rasa pizza. Selain aneka rasa yang unik, sentra keripik tempe Sanan juga terkenal dengan kemasan produknya yang inovatif.
Beberapa pembuat keripik tempe di Sanan mengemas keripik tempenya dengan menggunakan aluminium foil. Penggunaan aluminium foil agar keripik tempe menjadi lebih awet. Dengan penggunaan aluminium foil rasa dan kereyahan keripik tempe mampu bertahan selama enam bulan, sedangkan dengan penggunaan plastik biasa hanya bertahan tiga bulan. Seperti yang dilakukan oleh H. Rudi Adam, dengan kemasan aluminium foil mempunyai nilai lebih yaitu terlihat lebih elit. Pada awal usahanya yaitu pada tahun 2000, Rudi hanya mampu memproduksi sebanyak 5 kg keripik tempe per hari, sekarang mampu berproduksi sebanyak 2 kwintal per hari dengan dibantu 12 karyawan toko dan 8 orang tenaga produksi. Kunci penting dalam pembuatan keripik tempe adalah tukang pengiris tempe karena diperlukan tempe yang tipis dan terpotong rapi dengan ukuran yang sama dan ini tidak bisa dilakukan oleh semua orang hanya orang-orang tertentu saja yang bisa.
sumber: https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=6746
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara