Keripik Sanjai merupakan salah satu camilan khas Padang yang berupa keripik singkong yang sudah diparut tipis memanjang lalu dibumbui dengan taburan garam dan cabe. Untuk keripik yang ditaburi cabe, kebanyakan orang menyebut keripik ini dengan keripik balado. Sebutan 'Sanjai' sendiri berasal dari nama sebuah jalan atau daerah di bagian utara di kota Padang. Jalan Sanjai ini terletak di Desa Manggis, Kelurahan Manggis Gantiang Sanjai, kota Padang. Munculnya sebutan ini tentu bukan tanpa alasan. Warga yang bermukim di sekitar jalan Sanjai ini memang rata-rata berprofesi sebagai pengrajin Keripik Sanjai. Tidak hanya itu, daerah Sanjai sendiri memang dipercaya sebagai daerah asal muasal persebaran industri Keripik Sanjai di kota Padang. Jenis dari Keripik Sanjai sendiri sudah dihadirkan dengan tiga varian yang berbeda, seperti ada yang hanya di beri garam saja atau biasa disebut dengan keripik sanjai tawar, ada yang diberi olesan gula merah (keripik sanjai saka) dan yang terkahir adalah keripik yang dibumbui cabe atau keripik balado. Keripik Sanjai cocok dijadikan sebagai oleh-oleh bila berkunjung ke Padang, tapi camilan ini bisa dibuat sendiri dengan melihat resep berikut.
Resep Kripik Sanjai.
Bahan-bahan: 500 gr ubi singkong, kupas kulitnya lalu potong tipis Garam secukupnya Minyak goreng secukupnya
Bahan Sambal : 20 buah cabe, buang bijinya 5 siung bawang putih 5 sendok makan gula pasir ½ sendok makan cuka
Cara Membuat: 1. Ubi singkong yang sudah di potong-potong kemudian dibersihkan. Setelah itu, taburi potongan singkong dengan garam dapur dan diamkan sebentar selama kurang lebih 10 menit supaya garam meresap merata. 2. Panaskan minyak kemudian goreng potongan ubi singkong tersebut sampai matang dan renyah. Angkat lalu tiriskan. Goreng sampai semua potongan ubi singkong ini habis. 3. Selanjutnya, siapkan sambal keripik sanjai dengan cara menumbuk semua bahan bumbu sambal hingga halus dengan tambahan cuka lalu aduk rata. 4. Lalu tumis bumbu halus sambal sampai matang dan tiriskan. 5. Setelah sambal jadi, campurkan keripik singkong yang sudah digoreng bersama dengan bumbu halus sambal tumis sampai tercampur rata. 6. Keringkan keripik sanjai ini dan simpan dalam toples untuk disuguhkan atau bisa juga langsung dinikmati.
Alamat dan Kontak Penjual:
Chips Balado Nan Salero
Jl. Niaga No.229, Kp. Pd., Padang Bar., Kota Padang, Sumatera Barat 25119
(0751) 32863
( http://widhiaanugrah.com/resep-keripik-sanjai-khas-padang-yang-pedas/)
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara