Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Legenda Nusa Tenggara Barat Sumbawa
Kayu Ular - Sumbawa - Nusa Tenggara Barat
- 2 April 2018

Alkisah, dahulu kala di Pulau Sumbawa, hiduplah seorang petani yang sangat rajin. Ia mengerjakan sawahnya seorang diri. Namun, ia selalu bersyukur dan tak pernah mengeluh.

Suatu hari, ia meminjam bajak pada temannya untuk mengerjakan sawahnya.

“Musim hujan telah datang. Aku ingin segera menggarap sawah. Bolehkah aku meminjam bajakmu?” pintanya.

“Tentu saja boleh. Namun, ada syaratnya.”

“Syaratnya apa?”

“Kau harus mengembalikan bajakku tanpa cacat, patah, dan rusak,” sahut temannya.

“Baiklah. Aku terima syaratmu,” ujar si petani, bahagia.

Si petani mulai menggarap sawah dengan bajak itu. Namun sayang, kerbau yang dipakai untuk membajak tidak bisa dikendalikan. Kerbau menabrak pematang sawah dan membuat bajak menjadi patah. Melihat bajak yang patah, si petani merasa sedih.

“Malang benar nasibku,” bisiknya dalam hati.

Si petani berusaha mengganti bajak itu dengan bajak yang lebih bagus. Dibelinya sebuah bajak baru. Ia berharap si teman mau memaafkan. Namun, ternyata bajak baru itu ditolak mentah-mentah.

“Aku tidak mau menerima bajak itu! Kembalikan bajakku seperti sediakala!” amuk si teman.

Si petani tidak putus asa. Iaberusaha memperbaiki bajak yang rusak. Menempelnya dengan berbagai ramuan dan memakunya dengan pasak paling kuat. Namun, temannya tetap tidak mau menerima bajak itu.

“Kan, sudah kubilang, aku tidak mau bajakku terlihat cacat! Lihat tempelan dan pasakmu itu! Jelek sekali,” gerutunya.

Si petani merasa bingung. Apa yang harus dilakukan? Sesuatu yang patah tidak mungkin disambung lagi. Kalaupun, bisa disambung, tidak mungkin dapat menyerupai bentuk semula.

Si petani memutuskan untuk pergi menghibur diri ke gunung, mencoba melupakan bajak yang patah. Ia merasa senang hidup di gunung. Memakan buah-buahan yang tumbuh liar dan berburu rusa. Daging rusa panggang sangat enak. Namun, nikmatnya kehidupan di gunung tidak mampu membuatnya melupakan bajak yang patah.

Suatu hari, si petani merasa lapar. Tak seekor rusa pun berhasil diburunya. Ia malah bertemu dengan seekor ular. Karena merasa takut, ia berusaha membunuh ular itu. Usahanya berhasil.

Karena lapar, ia memotong-motong tubuh ular itu. Bagian kepala dan ekor dibiarkannya tergeletak begitu saja di atas tanah. Bagian tubuh lainnya, dipotong kecil-kecil dan dijepit pada bambu untuk dipanggang.

Tiba-tiba, dari arah belakang tubuhnya, terdengar suara berdesis. Ia menoleh dan terbelalak kaget. Ada banyak ular merayap ke arahnya. Ia segera berlari dan memanjat pohon tinggi-tinggi.

Diamatinya ular-ular itu dari atas pohon. Ular-ular itu mengumpulkan tubuh ular yang telah mati, lalu mengatur tubuhnya dari kepala hingga ekor. Kemudian, satu per satu ular-ular itu menghampiri sebatang pohon. Ular-ular itu menyobek batang pohon, lalu mengunyahnya sampai halus. Kunyahan itu disemburkan pada tubuh ular yang telah mati.

Setelah seluruh tubuh ular yang mati itu tertutup semburan, keajaiban terjadi. Ular yang mati itu bergerak dan hidup kembali tanpa bekas luka. Kemudian, ular-ular itu pergi.

Si petani termangu di atas pohon. Ia takjub melihat ular yang hidup kembali. Seketika itu ia teringat bajak yang patah. Apakah mungkin bajak yang patah dapat disambung dengan semburan batang pohon itu?

Bergegas ia turun dari pohon. Ia memotong batang pohon yang telah disobek oleh ular-ular tadi.

“Aku harus segera kembali ke desa. Mudah-mudahan Tuhan memberiku keajaiban yang sama,” gumamnya.

Sampai di rumah, ia mengunyah kayu dari batang pohon itu, kemudian menyemburkannya pada bajak yang telah patah. Keajaiban serupa terjadi. Bajaktersambung seperti sediakala. Tak ada bekas patah sedikit pun. Dengan wajah ceria, si petani membawa bajak itu kepada temannya.

“Sungguh aku tidak percaya. Bagaimana bisa kau menyambung bajak itu tanpa ada bekas sedikit pun? Jangan-jangan ini bukan bajakku,” sahut temannya penuh curiga.

Si petani menceritakan pengalamannya selama di gunung. Sang teman merasa takjub. Walau cerita si petani terkesan mustahil, namun bajak yang diterimanya persis seperti bajak miliknya.

Setelah kejadian itu, si petani menjadi terkenal. Banyak orang datang padanya untuk menyambung benda yang patah, bahkan menyembuhkan patah tulang. Kayu yang dipakai si petani itu dikenal dengan sebutan kayu ular. Hingga kini, beberapa sandro (dukun) di Sumbawa masih menyakini semburan kayu ular mampu mengobati patah tulang.



 

Sumber: http://indonesianfolktales.com/id/book/kayu-ular/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum