Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Legenda Nusa Tenggara Barat Sumbawa
Kayu Ular
- 13 November 2018

Alkisah, dahulu kala di Pulau Sumbawa, hiduplah seorang petani yang sangat rajin. Ia mengerjakan sawahnya seorang diri. Namun, ia selalu bersyukur dan tak pernah mengeluh.

Suatu hari, ia meminjam bajak pada temannya untuk mengerjakan sawahnya.

“Musim hujan telah datang. Aku ingin segera menggarap sawah. Bolehkah aku meminjam bajakmu?” pintanya.

“Tentu saja boleh. Namun, ada syaratnya.”

“Syaratnya apa?”

“Kau harus mengembalikan bajakku tanpa cacat, patah, dan rusak,” sahut temannya.

“Baiklah. Aku terima syaratmu,” ujar si petani, bahagia.

Si petani mulai menggarap sawah dengan bajak itu. Namun sayang, kerbau yang dipakai untuk membajak tidak bisa dikendalikan.

Kerbau menabrak pematang sawah dan membuat bajak menjadi patah. Melihat bajak yang patah, si petani merasa sedih.

“Malang benar nasibku,” bisiknya dalam hati.

Si petani berusaha mengganti bajak itu dengan bajak yang lebih bagus. Dibelinya sebuah bajak baru. Ia berharap si teman mau memaafkan. Namun, ternyata bajak baru itu ditolak mentah-mentah.

“Aku tidak mau menerima bajak itu! Kembalikan bajakku seperti sediakala!” amuk si teman.

Si petani tidak putus asa. Iaberusaha memperbaiki bajak yang rusak. Menempelnya dengan berbagai ramuan dan memakunya dengan pasak paling kuat. Namun, temannya tetap tidak mau menerima bajak itu.

“Kan, sudah kubilang, aku tidak mau bajakku terlihat cacat! Lihat tempelan dan pasakmu itu! Jelek sekali,” gerutunya.

Si petani merasa bingung. Apa yang harus dilakukan? Sesuatu yang patah tidak mungkin disambung lagi. Kalaupun, bisa disambung, tidak mungkin dapat menyerupai bentuk semula.

Si petani memutuskan untuk pergi menghibur diri ke gunung, mencoba melupakan bajak yang patah. Ia merasa senang hidup di gunung. Memakan buah-buahan yang tumbuh liar dan berburu rusa. Daging rusa panggang sangat enak. Namun, nikmatnya kehidupan di gunung tidak mampu membuatnya melupakan bajak yang patah.

Suatu hari, si petani merasa lapar. Tak seekor rusa pun berhasil diburunya. Ia malah bertemu dengan seekor ular. Karena merasa takut, ia berusaha membunuh ular itu. Usahanya berhasil.

Karena lapar, ia memotong-motong tubuh ular itu. Bagian kepala dan ekor dibiarkannya tergeletak begitu saja di atas tanah. Bagian tubuh lainnya, dipotong kecil-kecil dan dijepit pada bambu untuk dipanggang.

Tiba-tiba, dari arah belakang tubuhnya, terdengar suara berdesis. Ia menoleh dan terbelalak kaget. Ada banyak ular merayap ke arahnya. Ia segera berlari dan memanjat pohon tinggi-tinggi.

Diamatinya ular-ular itu dari atas pohon. Ular-ular itu mengumpulkan tubuh ular yang telah mati, lalu mengatur tubuhnya dari kepala hingga ekor. Kemudian, satu per satu ular-ular itu menghampiri sebatang pohon. Ular-ular itu menyobek batang pohon, lalu mengunyahnya sampai halus. Kunyahan itu disemburkan pada tubuh ular yang telah mati.

Setelah seluruh tubuh ular yang mati itu tertutup semburan, keajaiban terjadi. Ular yang mati itu bergerak dan hidup kembali tanpa bekas luka. Kemudian, ular-ular itu pergi.

Si petani termangu di atas pohon. Ia takjub melihat ular yang hidup kembali. Seketika itu ia teringat bajak yang patah. Apakah mungkin bajak yang patah dapat disambung dengan semburan batang pohon itu?

Bergegas ia turun dari pohon. Ia memotong batang pohon yang telah disobek oleh ular-ular tadi.

“Aku harus segera kembali ke desa. Mudah-mudahan Tuhan memberiku keajaiban yang sama,” gumamnya.

Sampai di rumah, ia mengunyah kayu dari batang pohon itu, kemudian menyemburkannya pada bajak yang telah patah. Keajaiban serupa terjadi. Bajaktersambung seperti sediakala. Tak ada bekas patah sedikit pun. Dengan wajah ceria, si petani membawa bajak itu kepada temannya.

“Sungguh aku tidak percaya. Bagaimana bisa kau menyambung bajak itu tanpa ada bekas sedikit pun? Jangan-jangan ini bukan bajakku,” sahut temannya penuh curiga.

Si petani menceritakan pengalamannya selama di gunung. Sang teman merasa takjub. Walau cerita si petani terkesan mustahil, namun bajak yang diterimanya persis seperti bajak miliknya.

Setelah kejadian itu, si petani menjadi terkenal. Banyak orang datang padanya untuk menyambung benda yang patah, bahkan menyembuhkan patah tulang.

Kayu yang dipakai si petani itu dikenal dengan sebutan kayu ular. Hingga kini, beberapa sandro (dukun) di Sumbawa masih menyakini semburan kayu ular mampu mengobati patah tulang.

Sumber:

https://www.ruangpintar.com/2016/09/legenda-kayu-ular-dongeng-cerita-rakyat.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker