Katumbu Gola, kuliner khas masyarakat Kabupaten Muna Provinsi Sultra. Menu tradisional ini sudah populer sejak zaman dahulu kala, ketika wilayah Pulau Muna masih menganut sistem kerajaan.
Katumbu adalah makanan yang berbahan dasar jagung. Ada katumbu rasa asli dan katumbu dengan campuran gula merah atau gula pasir yang disebut katumbu gola.
Jagung sebagai bahan dasar panganan tradisional ini, biasa menggunakan jagung yang sudah tua tapi baru dipanen. Karena bila menggunakan jagung yang sudah lama dipanen dari kebun, apalagi kalau sempat disimpan di lumbung, cita rasanya akan berbeda.
Untuk membuat katumbu, kupas jagung yang baru dipanen. Tapi harus diingat, kulit jagung bagian dalam jangan dibuang. Sebab akan digunakan untuk membungkus katumbu gola. Setelah di kupas, bersihkan biji jagung yang masih melekat di tongkol jagung. Jambul jagung jangan sampai ada yang terikut. Setelah bersih, biji jagung dilepas dari tongkolnya.
Bila diperkirakan biji jagung sudah mencapai 5 liter atau disesuaikan jumlah yang diinginkan, lalu masukkan dalam lesung yang sudah dibersihkan dengan air.
Kemudian biji jagung itu ditumbuk dengan menggunakan alu-alu hingga benar-benar terlihat halus. Saat menumbuk biji jagung, harus berhati-hati dan sedikit pelan, sebab biji jagung mudah terhambur keluar dari lesung.
Perlu diingat pula bahwa jagung yang baru di panen pasti rasa manisnya masih terasa,
Setelah itu adonan katumbu gola dibungkus dengan menggunakan kulit jagung. Cara membungkus katumbu, hampir sama membungkus buras. Namun bungkusan katumbu dapat diikat atau tidak perlu. Cukup dimasing-masing ujung dilipat, supaya adonan tidak berantakan.
Mengapa membungkus katumbu harus tetap menggunakan daun jagung? Menurut masyarakat Muna, supaya aroma jagungnya tidak hilang. Sedangkan bila menggunakan pembungkus lain, pasti aroma jagung berkurang, bahkan hilang sama sekali.
Bila adonankatumbu sudah dibungkus, langkah selanjutnya yang dilakukan adalah mengukus dengan menggunakan dandang. Lama pengukusan antara 40 menit sampai 50 menit, tergantung kekuatan bara api.
Umumnya mengukus katumbu gola menggunakan tungku. Sebab mengukus dengan tungk kayu bakar, berbeda aromanya dengan memakai kompor gas. Memakai tungku tradisional dapat membantu aroma jagung tetap bertahan dalam bungkusan.
Sedangkan memakai kompor gas atau kompor minyak, aroma jagungnya sedikit berkurang. Mungkin ada benarnya memakai kompor gas akan lebih cepat air kukusan mendidih dan matang, sehingga aroma jagungnya mudah hilang.
Setelah adonan katumbu matang. Maka kukusan angkat dari tungku. Lalu biarkan dingin beberapa saat lamanya. Setelah dingin, maka katumbu sudah siap disajikan.
Berdasarkan kepercayaan masyarakat Muna yang sudah turun temurun, kuliner katumbu baik dikonsumsi, selain berfungsi sebagai makanan yang dapat mengenyangkan, ternyata katumbu ini dapat meningkatkan stamina kerja.
Bila dihubungkan dengan hasil penelitian, ternyata ada benarnya. Jagung mengandung serat yang tinggi, antioksidan dan mengandung vitamin B kompleks. Kemudian mengandung zat seng dan magnesium. Sementara garam, mengandung efek anti bakteri, sehingga dapat mencegah penyakit.
Bisa dicari di:
Muna Barat, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara
Sumber:
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...