Makanan ini juga merupakan sajian yang sangat digemari oleh warga Aceh. Karee kameng alias kari kambing adalah lauk yang hampir selalu ada disetiap acara perayaan seperti pernikahan dan upacara keagamaan. Saking digemarinya, masakan satu ini dapat dijumpai dengan mudah di kedai nasi pinggir jalan hingga di restoran kenamaan di Aceh. Dibanyak keude bu (kedai nasi), kari ini terpampang didepan kedai dalam kuali atau wajan besar yang selalu dipanaskan. Masakan yang satu ini juga mendapatkan tempat khusus di hati para pecinta kuliner tanah air.
Berikut ini adalah resep cara pembuatan Karee Kameng, antara lain:
Bahan:
½ kg daging kambing baian khas > di potong dadu
1 butir kelapa > di buat 500 ml santan kental
Bumbu :
8 siung bawang merah
4 siung bawang putih
5 cabai merah
3 butir kemiri
2 kelingking jahe
3 kelingking kunyit
¼ sdm jintan
¼ sdt bubuk pala
½ sdt lada putih ( merica )
1 sdt ketumbar
Semua bumbu di atas di ulek/di haluskan.
5 siung bawang merah > di tajang halus
2 butir bunga lawing ( pekak, star anise )
2 butir kapulaga
2 butir cengkih
2 batang serai > di memarkan
1 kelingking kayu manis
1 sdt sari asam Jawa
1 genggam daun temurui ( salam koja, daun kari).
Cara Masak:
Tumis bumbu halus dengan sedikit minyak sayur, masukan bawang merah, bunga lawang, kapulaga, cengkh, kayu manis,dan serai. Teruskan menumis sampai harum.
Masukan daging kambing, di aduk dan terus di tumis sampai warna daging berubah menjadi coklat. Tuangkan snatan, sari asam jawa dan teruskan memasak sampai mendidih. Aduk sesekali, dan bumbui dengan garam, secukupnya.
Kecilkan api, masukan santan, didihkan sambil di aduk sesekali. Masukan cabai merah dan cabai hijau.
Menjelang matang, masukan daun temurui untuk mengharumkan masakan.
Selamat mencoba :)
Sumber: infokuliner.com
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara