Makanan Minuman
Makanan Minuman
Kuliner Sulawesi Selatan Palopo
Kapurung #DaftarSB19
- 21 Februari 2019

Kapurung adalah salah satu makanan khas tradisional di Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat daerah Luwu (Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur) Makanan ini terbuat dari sari atau tepung sagu. Di daerah Maluku dikenal dengan nama Papeda.


Kapurung dimasak dengan campuran ikan atau daging ayam dan aneka sayuran. Meski makanan tradisional, Kapurung mulai populer. Selain ditemukan di warung-warung khusus di Makassar juga telah masuk ke beberapa restoran, bersanding dengan makanan modern.Di daerah Luwu sendiri nama Kapurung' ini sering juga di sebut Pugalu.

 

RESEP

 

Bahan-bahan

  • 1 gelas tepung sagu, kami gunakan sagu tani
  • Aneka sayuran (1 ikat bayam, kacang panjang, potong – potong), rebus sampai layu
  • Ikan secukupnya, (bisa gunakan ikan teri, daging ayam suwir, udang segar)
  • 1 buah tomat merah, potong manjang
  • ½ buah mangga muda, serut
  • 3 buah cabe merah, potong serong

Bumbu Halus

  • Asam patikala, bisa gunakan air asam jawa dipadukan dengan buah kecombrang geprek
  • 10 buah cabe merah besar, potong serong
  • 5 buah cabe rawit
  • 5 sdm kacang tanah, goreng dulu
  • 3 siung bawang putih
  • 2 buah tomat
  • 1 sdm merica butir
  • 1 sdt gula pasir
  • 1 sdm penyedap rasa, kami gunakan masak
  • Garam halus secukupnya

Bahan pelengkap

  • 1 buah jeruk limau
  • Sambal sesuai selera

Cara Membuat Bola bola sagu

  1. Silakan anda masak tepung sagu dengan 2 gelas air, aduk terus sampai sagu mengental, angkat
  2. Ketika adonan masih panas, ambil 1 sdm lalu bentuk bulat, menggunakan bantuan sendok atau alat lainnya
  3. Lalu cemplungkan ke dalam baskom berisi air dingin, yang sudah disiapkan terlebihdulu
  4. Bila sudah beres, tinggal tiriskan bola-bola sagu.

Cara Membuat Kaldu Ikan

  1. Selanjutnya kita buat kaldu ikan, dengan cara rebus ikan sampai lunak dan empuk, kemudian tambahkan 1 sdt garam. Lalu pisahkan ikan dengan air rebusan kaldu (jangan dibuang)
  2. Bila sudah dipisahkan, sekarang silakan anda campurkan bumbu halus ke dalam air kaldu ikan yang tadi sudah terpisah, lalu masak hingga mendidih lagi
  3. Tambahkan tomat potong, cabe potong serong, penyedap rasa dan garam secukupnya, sampai rasa benar-benar pas
  4. Aduk perlahan sampai matang mendidih.

Cara Menyajikan Kapurung

  1. Silakan anda masukan dalam mangkuk saji bola-bola sagu, kemudian tambahkan sayuran yang sudah direbus di atasnya
  2. Tambahkan juga suwiran daging ayam, ikan, dan udang, agar lebih istimewa
  3. Lalu tuangkan bumbu kuah kaldunya
  4. Terakhir tambahkan sambal dan potongan jeruk limau
  5. Kapurung sudah siap dihidangkan.
  6.  

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker