Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sulawesi Utara Sulawesi Utara
KISAH TULAP DAN LELAKI TUA
- 20 Juli 2018

Tulap adalah sosok raksasa yang berwajah seram dan suka memangsa manusia dan binatang yang ada di dalam hutan. Suatu hari, ketika sedang berkeliling hutan mencari mangsa, si Tulap menemukan seorang lelaki tua sedang mencari kayu bakar. Ia pun berniat memangsa lelaki tua tersebut.

 

Dahulu, di sebuah hutan belantara di Sulawesi Utara, terdapat sesosok raksasa yang ganas bernama Tulap. Sehari-hari, si Tulap berburu manusia dan binatang yang memasuki hutan tempat kediamannya untuk dijadikan santapannya. Seperti biasa, setiap pagi Tulap bersiap-siap berkeliling untuk hutan mencari mangsa. Ia berjalan menyusuri hutan belantara sambil memasang mata dan telinga. Setelah beberapa jauh berjalan, tiba-tiba ia mendengar suara gaduh tidak jauh di hadapannya.

“Suara apa itu?” gumam Tulap seraya memperlambat langkahnya.

Tulap kemudian bersembunyi di balik semak-semak. Dari balik semak-semak itulah ia mengintip ke arah suara gaduh itu berasal. Rupanya, ada seorang lelaki tua yang sedang mencari kayu bakar.

“Hmm… akhirnya aku mendapatkan mangsa. Walaupun sudah tua, orang itu tetap enak dijadikan santapan,” gumamnya.

Tulap tidak sabar lagi ingin segera menangkap lelaki tua itu. Ia pun keluar dari persembunyiannya.

“Hai, Pak Tua! Sedang apa kamu di sini?” tanya Tulap dengan suara menggelegar.

Mendengar suara itu, Pak Tua menjadi ketakutan. Semula, ia bermaksud melarikan diri. Namun ia menyadari bahwa walaupun lari raksasa itu pasti akan bisa menangkapnya.

  • “Sa… sa… saya sedang mencari kayu bakar, Tuan Raksasa,” jawab lelaki tua itu dengan gugup dan tubuh gemetaran.
  • “Ha… ha… ha…,” Tulap tertawa terbahak-bahak.
  • Lelaki tua itu pun semakin ketakutan.
  • “Ampun, Tuan Raksasa. Tolong, jangan sakiti saya,” rengek Pak Tua.
  • Tulap kembali tertawa terbahak-bahak lalu berkata kepada lelaki tua itu.
  • “Baiklah, aku tidak akan memangsamu. Tapi, maukah kamu ikut bersamaku? Temani aku mencari burung untuk santapan siang kita nanti,” bujuk si Tulap.

Lelaki tua itu sebenarnya mengetahui bahwa bujukan si Tulap hanya akal-akalan saja. Ia tahu bahwa dirinya pasti akan dijadikan santapannya. Namun, karena takut raksasa itu murka dan langsung memangsanya, Pak Tua pun menuruti ajakannya.
 
Keduanya pun berjalan menyusuri hutan belantara. Lelaki tua itu disuruh berjalan di depan kemudian Tulap mengikutinya dari belakang. Pak Tua tampak semakin ketakutan. Ia sesekali ia menoleh ke belakang karena takut raksasa itu memangsanya dari belakang. Sesaat kemudian, Pak Tua tiba-tiba berhenti.

  • “Hai, Pak Tua. Kenapa kamu berhenti?” tanya Tulap heran.
  • “Maaf, Tuan. Di depan kita ada banyak jarum dan peniti,” jawab Pak Tua.
  • “Ambil dan bawa pulang semua benda itu!” seru si Tulap.

Pak Tua itu pun memungut semua jarum dan peniti yang menancap di tanah lalu memasukkan ke dalam saku celananya. Setelah itu, keduanya pun melanjutkan perjalanan dengan menyusuri hutan, mendaki bukit, menuruni lembah, serta menyeberangi beberapa sungai. Tak berapa lama kemudian, mereka menemukan sebatang pohon pisang yang berbuat lebat. Tulap segera memetik beberapa buah pisang yang sudah masak lalu menyuruh Pak Tua itu membawanya.
 
Mereka sudah cukup berjalan. Si Tulap yang sudah mulai kelelahan mengajak lelaki tua itu beristirahat sejenak di bawah pohon yang rindang. Saat beristirahat, pandangan si Tulap tiba-tiba tertuju pada sebuah tongkat yang biasa digunakan memukul sagu. Ketika mereka hendak meninggalkan tempat itu, si Tulap menyuruh Pak Tua untuk membawa tongkat itu. Baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba seekor tikus jantan yang besar dan berekor putih melintas. Untung tikus itu lincah menghindar sehingga tidak terinjak oleh kaki si Tulap. Raksasa itu pun mengajaknya ikut bersama mereka.

“Hai, tikus! Ayo ikut bersama kami mencari makanan yang enak,” ajak si Tulap.

Tikus itu menuruti ajakan si Tulap karena takut dimangsa. Ketiganya pun melanjutkan perjalanan. Tak berapa lama kemudian, mereka bertemu dengan seekor lipan raksasa. Si Tulap pun mengajaknya ikut serta. Kini, si Tulap yang berjalan paling di depan kemudian disusul Pak Tua, si tikus, dan si lipan yang paling belakang sendiri. Setelah beberapa meter berjalan, tiba-tiba terdengar kicau seekor burung mutuo. Rombongan si Tulap pun serentak berhenti.

“Wah, ini pasti makanan enak,” kata si Tulap.

Ketika si Tulap hendak menangkapnya, burung itu ternyata sedang bertelur. Raksasa itu pun membujuknya agar ikut bersama mereka.

“Hai, burung mutuo. Ikutlah bersama kami. Nanti kamu bertelur di rumahku saja,” ujar si Tulap.

Akhirnya, burung mutuo itu bergabung bersama rombongan si Tulap. Sudah semakin jauh mereka berjalan. Raksasa itu terlihat mulai lemas karena kelaparan. Sejak pagi belum dia belum menyantap daging manusia. Oleh karena tidak ingin niat jahatnya ketahuan, si Tulap menyuruh Pak Tua, si tikus, si lipan, dan burung mutuo berjalan dulu menuju ke rumahnya.

  • “Kalian tunggulah di rumahku, nanti aku menyusul. Aku mau mencari makanan dulu untuk kalian,” ujar si Tulap.
  • “Baik, Tuan Raksasa,” jawab Pak Tua dan binatang-binatang tersebut serentak.

Sementara si Tulap mencari makanan, Pak Tua dan ketiga binatang itu berjalan menuju ke rumah raksasa yang jahat itu. Dalam perjalanan, tiba-tiba timbul perasaan curiga terhadap gelagat si Tulap.

  • Hai, kawan-kawan. Aku yakin si Tulap akan menjadikan kita sebagai santapannya,” ungkap Pak Tua.
  • “Apa yang harus kita lakukan, Pak Tua?” tanya si tikus.
  • “Iya, Pak Tua. Bagaimana bisa menghadapinya?” imbuh si lipan.
  • “Tenang, kawan-kawan! Kita harus menggunakan siasat,” ujar Pak Tua.

Pak Tua dan para binatang itu pun bermusyawarah untuk mencari cara agar bisa membinasakan raksasa yang buas itu. Setelah mengatur siasat, mereka melanjutkan perjalanan. Setiba di rumah si Tulap, mereka segera menjalankan siasat yang telah direncanakan sebelumnya. Si tikus mendapat tugas menggigit teling si Tulap ketika sedang tidur. Si lipan bertugas menggigit tangan Tulap ketika sedang membasuh muka di penampungan air. Sementara itu, burung mutuo bertugas mengepak-epakkan sayapnya agar lampu mati dan debu masuk ke mata di si Tulap. Adapun Pak Tua bertugas meletakkan jarum dan peniti di depan tempat tidur si Tulap, serta beberapa kulit pisang di depan pintu keluar.
 
Saat hari mulai gelap, si Tulap pun pulang ke rumahnya. Karena kelelahan, ia langsung masuk ke kamar dan langsung terlelap dengan dengkuran yang sangat keras.

  • “Kawan-kawan, ayo kita mulai bertindak!” seru Pak Tua, 
  • “Raksasa itu sudah tidur.”

Mereka langsung bertindak untuk melaksanakan tugas masing-masing. Pertama-tama, si tikus menggigit telinga si Tulap. Raksasa itu pun serentak terbangun dan beranjak dari tempat tidurnya. Ketika ia meloncat ke depan tempat tidur, kakinya tertusuk jarum dan peniti yang telah dipasang oleh Pak Tua. Ia pun menjerit-jerit kesakitan menuju ke ruang dapur untuk membasuh mukanya. Pada saat itu pula, burung mutuo mengepakkan sayapnya tiga kali sehingga lampu penerangan di dalam rumah itu padam. Mata raksasa itu juga kemasukan debu.
 
Dalam keadaan suasana gelap gulita, si Tulap berjalan meraba-raba menuju ke tempat penampungan air yang ada di dapur. Saat ia mengambil air, si lipan yang sudah menunggu segera menggigit tangannya. Raksasa yang malang itu pun kembali menjerit kesakitan seraya berlari menuju pintu keluar. Saat melewati pintu keluar itu, kakinya tergelincir karena menginjak kulit pisang yang telah diletakkan di situ oleh Pak Tua. Tak ayal, raksasa itu jatuh terjengkang.
 
Melihat keadaan itu, Pak Tua pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera memukul kepala si Tulap dengan tongkat yang ia bawa dari hutan. Raksasa yang ganas itu pun akhirnya tewas. Dengan tewasnya si Tulap, si lelaki tua dan kawan-kawannya menjadi lega karena terbebas dari ancaman bahaya. Mereka pun kembali ke tempat tinggal masing-masing. Sejak itulah, mereka kembali hidup tenang tanpa gangguan si Tulap.
 
KISAH%2BTULAP%2BDAN%2BLELAKI%2BTUA-3.png
 
Sumber: http://agathanicole.blogspot.com/2017/10/kisah-tulap-dan-lelaki-tua.html

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa,tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan harimau. Tapi bagi kami, hutan ini seperti halaman belakang rumah sendi...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd