Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sulawesi Barat Sulawesi Barat
KISAH KANNE PAUMMISANG
- 20 Juli 2018
Paummisang adalah nama sebuah kampung yang berada di daerah Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Indonesia. Kata paummisang berasal dari bahasa Mandar yang berarti tumpukan ampas tebu. Menurut kisah legenda yang beredar di kalangan masyarakat Mandar, nama paummisang ini diambil dari nama seorang kakek yang bernama KANNE PAUMMISANG.
Kanne adalah panggilan kepada orang yang sudah tua, baik untuk orang tua laki-laki (Kakek)  maupun orang tua perempuan (Nenek).
 
Konon, di daerah Tinambung Mandar, Sulawesi Barat, ada seorang kanne (kakek) yang hidup seorang diri di sebuah rumah sederhana yang terletak di tengah-tengah kebunnya. Meskipun tempat tinggalnya cukup jauh dari permukiman penduduk, ia sering bergaul dengan penduduk yang setiap hari melintas di kebunnya. Pekerjaan sehari-harinya adalah menanam sayur-sayuran, umbi-umbian, jagung, tebu, dan kelapa di kebunnya. Ia seorang petani kebun yang sangat rajin, ulet, dan teliti dalam merawat tanamannya, sehingga hasilnya pun cukup melimpah.
 
Kakek itu memiliki suatu kebiasaan aneh. Ia senang sekali minum air tebu dengan cara mengigiti batang tebu yang telah dikupas kulitnya. Kemudian ampas tebu tersebut ia kumpulkan di ruang tengah rumahnya. Begitulah yang ia lakukan setiap hari hingga ampas tebu tersebut terus menumpuk. Oleh karenanya, orang kampung memanggilnya Kanne Paummisang, yakni seorang kakek yang suka menumpuk ampas tebu di rumahnya.
 
Di mata penduduk sekitar, Kanne Paummisang adalah orang yang ramah, baik hati, dan dermawan. Ia senantiasa memberikan hasil perkebunannya kepada penduduk kampung yang membutuhkan. Bahkan ia sering mempersilahkan para tetangga kebunnya untuk mengambil apa aja di kebunnya tanpa perlu minta izin kepadanya terlebih dahulu. Kanne (Nenek) Golla adalah salah seorang tetangga kebunnya yang sering ia persilahkan untuk mengambil apa saja di kebunnya.
 
Pada suatu hari, Kanne Golla lewat di kebun Kanne Paummisang. Saat berada di tengah-tengah kebun, nenek itu tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke sekelilingnya sambil memerhatikan isi kebun Kanne Paummisang. Rupanya, Nenek Golla tertarik melihat hasil perkebunan Kanne Paummisang yang tumbuh subur dan hijau, terutama tanaman jagungnya. Ia ingin sekali memetik beberapa bongkol jagung itu. Namun, ia tetap merasa sungkan kepada Kanne Paummisang, meskipun sudah diizinkan sebelumnya. Kanne Golla yang masih berdiri di tengah kebun itu tidak menyadari jika ada sepasang mata yang sedang memerhatikannya. Ia adalah Kakek Paummisang yang sedang duduk sambil menggigit batang tebu di dalam rumahnya. Setelah menghabiskan air tebunya, kakek itu segera turun dari rumahnya dengan menuruni beberapa anak tangga, dan segera menghampiri Kanne Golla. Melihat Kanne Paummisang berjalan ke arahnya, Kanne Golla segera beranjak dari tempatnya berdiri.
  • “Maaf, Kanne Golla! Adakah yang bisa aku bantu”“ tanya Kanne Paummisang kepada Kanne Golla.
  • “Jika ada sesuatu yang menarik hatimu di kebunku ini, silahkan ambil sesukamu. Tidak perlu sungkan. Aku malah senang sekali jika banyak orang yang menikmatinya,” tambah Kanne Paummisang.
  • “Iya, sebenarnya aku sangat tertarik melihat tanaman jagungmu. Jika berkenan, bolehkah aku memetiknya dua bongkol”“ tanya Kanne Golla dengan malu-malu.
  • “Tentu saja boleh, saudariku! Kamu boleh mengambil sesuka hatimu dan sekuat kamu membawanya,” jawab Kanne Paummisang sambil tersenyum.
  • “Terima kasih! Kamu memang orang yang baik hati dan dermawan,” ucap Kanne Golla.
Setelah memetik beberapa bongkol jagung, Kanne Golla pun berpamitan pulang dengan perasaan senang. Demikian pula Kanne Paummisang, ia merasa sangat senang jika hasil perkebunannya bermanfaat untuk orang banyak. Demikian seterusnya, ia senantiasa menawarkan hasil perkebunannya kepada siapa pun yang lewat di kebunnya.
 
Keesokan harinya, ketika Kanne Paummisang sedang asyik minum air tebu, tiba-tiba seorang penduduk kampung bernama Pak Hardi lewat di kebunnya. Ia pun segera memetik beberapa bongkol jagung lalu memberikannya kepada Hardi.
  • “Terima kasih, Kanne Paummisang,” ucap Hardi.
  • “Sama-sama, Pak Hardi!” jawab Kanne Paummisang tersenyum.
  • “Aku sangat senang jika hasil kebunku ini dinikmati orang banyak. Jika masih ada isi kebunku yang kamu senangi, katakan saja padaku! Aku akan memberikannya kepadamu,” tambah Kanne Paummisang menawarkan.
  • “Terima kasih, Kanne! Kanne memang orang yang dermawan,” ucap Hardi.
Setelah menyerahkan jagung itu kepada Pak Hardi, Kanne Paummisang kembali meminum air tebunya yang masih tersisa dan membuang ampasnya di ruang tengah rumahnya. Melihat perilaku Kanne Paummisang itu, Pak Hardi yang masih berada di kebun Paummisang langsung menggeleng-gelengkan kepala.
“Kanne Paummisang memang orang baik, tapi perilakunya aneh. Untuk apa ia menumpuk ampas tebu itu”“ tanya Pak Hardi dalam hati penuh keheranan lalu pergi meninggalkan kebun Kanne Paummisang menuju ke perkampungan.
Begitulah tanggapan setiap penduduk yang melewati kebunnya. Mereka terheran-heran melihat kebiasaan aneh Kanne Paummisang menumpuk ampas tebu di ruang tengah rumahnya.
 
Semakin hari rumah Kanne Paummisang semakin penuh dengan tumpukan ampas tebu. Anehnya lagi, ia terkadang tertidur di atas tumpukan ampas tebu itu. Para penduduk yang sering melewati kebunnya semakin terheran-heran melihat kelakuan anehnya itu. Walaupun demikian, semakin hari Kanne Paummisang juga semakin dermawan kepada semua penduduk.
 
Penduduk yang paling sering ia beri hasil perkebunannya adalah Kanne Golla. Karena selain bertetangga kebun, rupanya mereka juga sudah berteman sejak kecil. Akhirnya, hubungan persahabatan mereka pun semakin akrab. Untuk membalas budi baik Kanne Paummisang, Kanne Golla pun sering membawakannya makanan, baik berupa ikan bakar, kue, gula pasir, kopi, dan lain-lain.
 
Pada suatu hari, Kanne Golla datang mengantarkan makanan untuk Kanne Paummisang. Setibanya di depan rumahnya, ia melihat pintu rumah itu tertutup rapat.
“Kanne Paummisang... ! Kanne Paummisang... !” teriak Kanne Golla sambil mengetuk pintu.
Berkali-kali Kanne Golla mengetuk pintu dan berteriak memanggil Kanne Paummisang, namun tidak mendapat jawaban sama sekali. Oleh karena penasaran, ia pun mencoba mendorong pintu rumah Kanne Paummisang. Rupanya, pintu itu tidak terkunci, sehingga ia dapat masuk ke dalam rumah.
 
Alangkah terkejutnya Kanne Golla saat mendapati Kanne Paummisang sudah tidak bernyawa lagi dan terbujur kaku di atas tumpukan ampas tebunya. Akhirnya, Kanne Golla segera memanggil orang-orang kampung untuk menguburkan jenazah Kanne Paummisang di tengah-tengah kebunnya. Untuk mengenang kebaikan dan kedermawanan Kanne Paummisang, para penduduk menamakan kampung mereka “Kampung Paummisang”.
 
Sumber: http://agathanicole.blogspot.com/2017/11/kisah-kanne-paummisang.html

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...

avatar
Gulamerah