Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Kalimantan Tengah Suku Dayak Ngaju
Juhu Umbut Sawit
- 24 Agustus 2017
Hai para pecinta kuliner, kali ini kita akan membahas makanan khas dari suku Dayak Ngaju Kalimantan Tengah, namanya Juhu Umbut Sawit.
Makanan khas Kalimantan Tengah tepatnya di Dayak Ngaju. Ada makanan yang sangat terkenal disana, makanan tersebut hanya dihidangkan saat acara – acara syukuran saja. Namanya Juhu Umbut Sawit.. 
Juhu Umbut Sawit adalah nama sayuran ini sangat asing bagi sebagian orang karena namanya yang tidak populer. Namun orang pelancong yang sering ke tanah Dayak paling sering mencari sayuran ini. Dan bagi suku Dayak, juhu umbut kelapa ini merupakan kuliner favorit yang wajib dihidangkan di setiap diadakan acara-acara seperti syukuran.
Jika pada pulau Jawa, anda sangat mengenal tentang sayur rebung, yaitu merupakan sayuran yang memang terbuat dari bongkol pada pohon bambu, maka dari itu sayur singkah ini pun juga berasal dari bongkol. Tetapi, sayuran ini bukanlah diambil dari sebuah bongkol pohon bambu melainkan dari bongkol pohon kelapa. Bentuk serta warnanya juga tidak jauh beda dengan rebung yakni berwarna putih. Tetapi perbedaannya terdapat pada rasanya, karena sayuran ini sangat jauh lebih manis apabila dibandingkan dengan sayuran rebung. Hal ini karena sayur umbut sawit ini asalnya dari kelapa.
Tidak heran jika suku Dayak sangat menggemari sayuran ini padahal masih dalam keadaan yang mentah atau belum dimasak. Karena biasanya juhu umbut sawit ini akan dimakan dicampur dengan sambal.
 
 
Bahan-bahan:
 
1 kg Umbut atau pohon kelapa
1 iris Labu kuning.
½ kg tulang iga sapi atau ayam.
 
Bumbu-bumbu:
 
6 siung bawang merah
3 lembar daun salam
2 gelas santan kental dan 6 gelas santan cair.
2 siung bawang putih
1 ruas kunyit laos, memarkan
1 ruas serai, memarkan
1 sendok teh ketumbar
sedikit terasi dan garam.
 
Persiapan
 
Umbut atau pohon kelapa bagian atas yang masih lemah dan bisa di masak, dicuci, diiris tipis seukuran sendok makan, tebal ½ cm, di rendam supaya tidak berubah warna menjadi merah. Tiriskan.
Tulang iga sapi atau ayam, dipotong-potong lalu bersihkan.
Labu kuning ,dipotong setebal 2cm
 
Cara membuat:
 
1.Rebus tulang iga sapi / ayam sampai agak matang, lalu masukkan umbut, dan labu kuning.
2.Haluskan bumbu, kecuali daun salam, laos, dan serai. Masukan kedalam wajan umbut yang sedang direbus. Masak sampai matang dan meresap. Tambahkan air bila air berkurang.
3.Hidangkan bersama opor ayam, dan sambal goreng kacang putih (kacang tolo) dan sambal terasi atau sambal mangga muda
-Selamat mencoba -
 
Sumber  :
https://dapur-teh-enur.blogspot.co.id/2015/05/resep-juhu-umbut-sawit-khas-kaltim.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker