Hutan belantara Kalimantan yang luas menyimpan banyak potensi kekayaan sumber daya alam untuk kepentingan masyarakatnya. Salah satunya yang terkenal dapat dimanfaatkan sebagai santapan adalah tumbuhan bakung. Tumbuhan bakung ini banyak terdapat di wilayah rawa. Meskipun tumbuh di rawa, tumbuhan bakung sejak dulu dikenal sebagai salah satu tumbuhan yang dapat diolah menjadi sayur. Tumbuhan bakung sebenarnya termasuk jenis tumbuhan yang cukup mudah ditemukan, hanya saja di pasar tradisional di Kota Palangkaraya sayuran ini cukup sulit dicari. Kalaupun ada, penjualnya tidak banyak.
Di Palangkaraya, biasanya penjual juhu (sayur) bakung adalah wanita Dayak yang berkeliling dari rumah ke rumah. Pedagang sayur keliling ini tidak hanya menjual bakung, tetapi juga kalakai atau tumbuhan paku yang merupakan keluarga dari tanaman jenis pakis. Biasanya, satu ikat bakung dijual dengan harga antara tiga ribu sampai lima ribu rupiah.
Sayur bakung bukanlah makanan baru, ia merupakan makanan tua yang menjadi menu wajib bagi suku Dayak yang sedang melaksanakan upacara perkawinan. Kini keberadaan sayur bakung di acara-acara suku Dayak hampir punah. Hal ini disebabkan banyak kaum muda yang menganggap bahwa makanan ini adalah makanan orang kampung, ketinggalan zaman, dan tidak layak lagi untuk dihidangkan. Untuk mempertahankan tradisi, kaum tua menyiasati sayur bakung ini dengan menambahkan ikan atau daging babi agar mengundang selera makan. Rasa sayur bakung unik, selain gurih ada rasa manis dan pahitnya. Selain lezat, makanan ini kaya protein.
Di Palangkaraya, pengolah sayuran jenis ini tidak bisa disebut banyak. Hanya beberapa rumah makan saja yang masih menjualnya dalam keadaan siap saji. Di antara segelintir rumah makan khas Kalimantan Tengah tersebut, salah satunya adalah Rumah Makan Samba di Jalan RTA Milono. Selain rumah makan yang berdekatan dengan Bank Pembangunan Kalimantan Tengah ini, sayuran serupa bisa ditemui di Catering Raya yang beralamat di Jalan Argopuro, Bukit Hindu.
Resep:
Cara Membuat
Sumber:
Jalur Nugraha Ekakurir. 2010. Jejak Kuliner Indonesia. Jakarta: PT TIKI JNE
http://kulinerkalteng.blogspot.co.id/2015/08/juhu-bakung.html#more
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara