Jojorong merupakan salah satu makanan khas Masyarakat Pandeglang adala, makanan yang terbuat dari Tepung Beras, Gula Merah, Santan, Daun Pandan dan disajikan kedalam mangkok yang terbuat dari daun pisang. Kue tradisional ini berwarna putih dan didalamnya terdapat gula aren cair. Rasanya gurih manis sehingga sangat disukai oleh masyarakat sekitar.
Bahan-Bahan:
• tepung kanji 1/2 ons
• tepung beras 2 ons
• gula merah, serut 21/2 ons
• air daun suji dan pandan 50 cc
• santan encer 750 cc
• garam secukupnya
TUTUP :
• tepung kanji 2 sendok makan
• santan kental dari 1 kelapa 200 cc
CARA MEMBUAT JOJORONG :
• Jadikan satu tepung beras, tepung kanji, garam dan air suji sampai benar-benar tercampur merata.
• Sediakan mangkok plastik kecil atau takir daun pisang.
• Taruhlah gula merah dan mangkok, lalu tuangi bahan bawah (hijau) sampai tiga perempat,
lalu kukuslah sampai matang.
• Disamping itu buatlah bahan atas atau tutup : Campurlah semua bahan sampai merata.
Setelah itu tuangkan ke atas adonan hijau.
Sesudah itu kukuslah lagi lebih kurang 5 menit atau sematangnya
Sumber : http://www.ramaloka.com/2012/07/jojorong-khas-banten.html
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...